BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Maafkan papa Binar..


__ADS_3

" Baru pulang nak?"


Suara papa Sanjaya yang berada dibelakangnya membuat Binar terjingkat kaget.


" E..ehh...i..itu...iya, pah..." Jawabnya grogi, kepala menunduk malu.


Papa Sanjaya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 03 dini hari.


" Pulang dari mana?, tidak mungkin dari cafe kan?"


Degh!!


" Papa menyesal tidak bisa mendampingimu di masa-masa tumbuh kembangmu menuju dewasa Bin..."


" Tapi papa berharap kamu bisa menempatkan imanmu setinggi-tingginya diatas nafsu masa mudamu nak..."


Degh!!


Tubuh Binar kamu seketika, dia sangat tahu arah pembicaraan ini kemana. Binar mengaku salah...tak seharusnya dia pulang dari rumah gadis selarut ini.


"Papa tahu diusiamu sekarang ini cinta adalah segala-galanya. Tapi ingat! Cinta yang terjadi karena Tuhan itu tidak akan pernah berakhir, tapi cinta yang berbalut nafsu itu akan cepat hancur.." Nasehat panjang papa Sanjaya pada putranya.


" Maaf pah, Binar hanya sangat rindu pada Aya saja pah..., dan Binar datang hanya untuk menemaninya saja. Binar tidak berbuat macam-macam pah. Sumpah!!" Binar semakin menunduk.


" Nak, rindumu itu sebenarnya bisa cukup untuk kamu sampaikan saja, bukan dipertemukan. Sebab, rindu yang disampaikan akan semakin menumbuhkan cinta. Sedangkan rindu yang dipertemukan sering kali menimbulkan nafsu yang hanya akan mendatangkan dosa.."


" Papa tahu, cinta tidak bisa dilarang hadirnya, papa juga tahu cinta tidak bisa disalahkan, tapi berpacaranlah yang wajar. Setidaknya hargai juga Cahaya..."


" Terus kau bawa kemana anak gadis orang sampai jam segini Binar?"


" Kami hanya ngobrol di rumahnya pah" Jawab Binar.


" Ngobrol di rumahnya?, apa kamu fikir itu tidak menggangu istirahat mama dan papanya nak?" Papa Sanjaya terlihat menepuk keningnya.


" Orang tua Aya tidak ada dirumah pah, Saga juga tidak ad---"


"APA!!, jadi kau sampai selarut ini...Bin..... Papa nggak ngerti lagi. Ini yang terakhir kali kamu datang ke rumah Aya malam hari, titik!!" Seru papa Sanjaya.


Kaget, itulah yang dirasakan papa Sanjaya, putranya sudah berani bertandang kerumah gadis sampai dini hari begini.


Padahal belum tahu saja papa Sanjaya bahwa putranya bahkan lebih dari itu minusnya.


" Binar bersumpah pah, Binar hanya menjaganya saja...Binar pulang setelah make sure dia aman pah..." Sahut Binar cepat.


" Menjaganya?, baiklah jika itu alasanmu, tapi cukup untuk hari ini saja. Tidak ada untuk hari lain!!, mungkin kamu bisa menahan diri hari ini Binar!, tapi tidak untuk lain hari...ingat itu!!" Seru papa.


" Papa tidak mau nanti dipersalahkan karena tidak bisa mendidikmu dengan baik. Saat pertanggung jawaban papa nanti dipertanyakan, papa akan menepuk dada papa dengan bangga , bahwa Binar tumbuh dengan baik tanpa kurang apapun selama berada ditangan papa. Tapi bagaimana dengan akhlakmu, apa yang bisa papa banggakan....??" Ucapan papa Sanjaya begitu sendu.


Binar merasa malu dan ingin menangis, tapi ada misteri dari kata-kata papanya.


" Maksudnya?" Tanya Binar bingung.


" Sudahlah..., tidurlah...ini sudah larut" Potong papa Sanjaya.


Binar mendorong papanya kembali ke kamarnya dan seperti biasa, dia akan telaten membantu papanya sampai benar-benar nyaman di tempat tidurnya.


" Ingat nak, menjaga seorang yang dicintai itu tidak harus terus dekat dan melekat, menjaga dengan jarak itu lebih baik, semakin dekat setan juga akan semakin menjerumuskan..." Pesan papa Sanjaya sebelum Binar benar-benar menutup pintu.


Papa Sanjaya menatap punggung putranya itu lekat. Ada airmata yang menggenang disana.


Bagaimana nanti harus ku pertanggung jawabkan pendidikan rohanimu pada orang tuamu nak....


Saudara-saudaramu disana begitu taat beribadah dan berakhlak baik...


Maafkan papa nak.....maafkan papa...


Sebenarnya aku tahu sejak awal, bahwa kau bukanlah putraku..


Tapi karena keegoisanku, tetap memaksakan diriku membawamu bersamaku...


Harusnya kau hidup nyaman di istanamu...


Menikmati gemerlapnya harta yang tidak perlu jungkir balik kau kejar..


Bersamaku kau menunduk kebumi, berpeluh untuk mencarikan kami sesuap nasi..

__ADS_1


Maafkan aku, maafkan orang tua cacat ini nak...


Maafkan aku..


Manggala Sunny Marvelino Putra...


...***...


Binar terus melamun, dan tetap tidak bisa memejamkan matanya. Fikiranya dipenuhi oleh kata-kata terakhir papanya barusan.


Papa bertanggungjawab?


Pada siapa?


Pada Tuhankah?


Kemana arah kata-kata papa?


Jika aku ini Sunny?, lalu Binar kemana?


Dokumenku semua menunjukkan bahwa aku ini Binar.., dan itu semua asli, dokumen itu asli....


Bahkan saksi hidup bahwa aku ini Binar ada....


Sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa memory ku penuh akan memori Sunny..


Binar kembali duduk, Binar selalu tidur tanpa baju alias bertelanjang dada.



Tangannya kembali mengusap bahunya yang terdapat tatto disana.


" Sunn untuk Sunny dan Shan untuk Shanum. Jika aku Binar?, bagaimana mungkin tulisan ini ada disini?"


" Papa?, apa yang kau sembunyikan dari diriku pah?, siapa sebenarnya aku?"


Brugh!!


Kembali direbahkannya tubuhnya, tapi masih juga tidak terpejam.


Flasback on


" Emmmppphhh Bin...cukup...." Shanum mendorong Binar yang seakan tidak cukup hanya mencium bibir Shanum. Karena tangannya juga mulai usil merusuh.


Shanum harus terus bisa membentengi dirinya, masa lalu mamanya akan terus menjadi benteng kuat untuknya.


Shanum mengusap wajah Binar yang sendu, diapun sama rindunya.


Tapi jika ini diteruskan maka setan akan menang, Shanum tidak mau itu. Kangen?, rindu? Itu manusiawi apalagi dirasakan oleh mereka yang baru anget-angetnya pacaran seperti ini.


" Tidurlah, kamu capekkan habis perjalanan jauh langsung kerja..." Shanum berusaha menurunkan hawa panas yang ada pada diri Binar saat ini.


" Emmmm, sini dulu duduk sini..." Binar masih ngeyel dengan menarik Shanum untuk duduk dipangkuanya.


" Ucapanku tadi serius babe..." Ucap Binar, lagi-lagi kedua tanganya memeluk erat tubuh Shanum.


" Yang mana?" Tanya Shanum.


" Melamarmu.." Jawabnya cepat.


" Kenapa harus cepat-cepat?, kau sudah tidak sabar untuk making love?" Tuduh Shanum sarkas.


" Lalu setelah kau tahu rasanya dan puas, kau akan pergi?" Lanjutnya kesal.


" Apa mencintai dan menikah tujuanmu hanya untuk hal itu?" Tuduh Shanum lagi, kali ini lebih kejam.


Binar mematung, syok dengan kata-kata Shanum yang begitu tegas dan menyudutkannya.


Iya, dia sadar! dia salah. Dia begitu menggebu-gebu saat ini.


Iya, dia memang agak gila saat ini. Libido nya sedang memuncak dengan tak tahu diri. Jelas saja Shanum ketakutan akan tingkahnya yang impulsive.


Ditatapnya bibir Shanum yang terlihat bengkak, bahkan disudut bibirnya terlihat bekas gigitan brutal Binar beberapa saat lalu.


Diusapnya lembut bibir itu dengan tatapan penyesalan yang dalam.

__ADS_1


" Maafkan aku sayang, tapi yang kau tuduhkan itu salah.."


" Aku benar-benar sayang kamu babe, aku benar-benar cinta kamu..."


" Aku sendiri tidak tahu kenapa anggota tubuhku selalu bereaksi berlebihan jika berdekatan denganmu.."


Binar meletakkan kepalanya di bahu Shanum.


" Untuk lamaranmu dan menikah, aku tidak ada jawaban Bin. Kau tahukan perjanjian papaku dan Shinee bagaimana.."


"Keputusan terakhir ditangan Shinee, kita jalani saja hubungan kita sekarang ini Bin. Terus berdoa semoga Tuhan merestui... Kau bilang kan begitu dulu!!" Shanum mengingat betul sumpah Binar yang percaya diri bisa membuatnya jatuh cinta padanya. Dan itu terbukti sekarang.


Flasback off


Shinee tidak akan bisa melampaui aku!, kakaknya sendiri!!.


Tunggu saja sampai ingatan ini kembali, hari itu juga aku akan mengambilmu kembali untukku.


...***...


" Hari ini aku hanya class meeting babe, pulang cepat. Kita jalan ya, belanja keperluan Gala Seni ke Bali, aku hubungi Arnov dan Roy..." Binar berdiri disamping motornya, belum mau pergi meninggalkan Shanum setelah sampai di depan SMU Pelita.


" Belaja?, kamu aja nggak bawa jaket dan nggak pake masker juga.." Ucap Shanum, matanya melirik dengan kesal kepada beberapa murid cewek dari sekolahnya yang terus-terusan menatap Binar.


" Hisshh!, pen gue colok mata mereka!!" Gumamnya lirih.


" Apa?" Tanya Binar tanpa suara.


" Nggak papa" Sahut Shanum bohong.


Binar berulangkali menyugar poninya ke belakang semakin membuat gayanya badas banget. Cewek-cewek semakin histeris melihat itu.


" Babe jangan pegang-pegang rambut ih!!" Shanum menahan tangan Binar yang akan kembali menyugar rambutnya.


Binar melipat bibirnya ke dalam, sejak tadi sih dia tahu, bahwa Shanum sedang cemburu. Pengen ngeprank aja dia mah.


" Jaket aku ada kok di loker sekolah, masker juga. Tadi karena ada papa jadi aku nggak bisa banyak tingkah dan nggak bisa banyak gaya juga ha...ha..ha..." Ucap Binar sambil membuka minuman kaleng yang tadi dibawanya.


" Jadi kalau nggak ada papamu kamu banyak tingkah dan banyak gaya gitu?. Dan ya, I see that..."


" He..he..bukan gitu juga babe. Ya udah, nanti aku jemput jam sepuluh ya..." Binar mengusap rambut Shanum dengan lembut.


" Ini kalau ditutup pasti lebih bagus..." Bisiknya penuh maksud.


" Pakai kerudung maksudmu?, Sunny juga sering menyuruhnya. Tapi aku belum tergerak. Maaf...." Shanum menundukkan kepalanya.


" Nggak papa, pelan-pelan saja.... Aku juga nggak maksa. Cuma pacar ini..." Sahut Binar.


" Ya udah, sana masuk sayang... Aku juga mau ke sekolah.." Lanjut Binar, kedua tanganya mendorong pundak Shanum agar masuk ke gerbang.


" Cuma pacar?" Shanum kembali menoleh saat sudah berada di dalam.


" Ya, aku kan cuma pacar..... Yang entah akan menjadi suami atau tidak di masa depan.." Jawab Binar dingin, kesal saat ingat lamarannya ditolak semalam.



" Aku berangkat dulu babe..." Pamit Binar, tapi Shanum dengan cepat menarik kerah bajunya.


" Apa maksudmu???"


" Nanti saja, aku udah hampir terlambat..." Binar menghidupkan mesin motornya walaupun Shanum masih memegangi kaosnya.


" Bin kamu marah?"


" Nggak!!"


" Bin belum sepuluh menit yang lalu kamu ngajak ngedate, trus tiba-tiba marah kayak gini!!!. Kamu kekanakan Bin!!" Seru Shanum kesal, dia salah apa tiba-tiba dijutekin begitu.


Karena kerudung kah?


Kenapa memaksa kalau akunya belum siap


Aku juga pengen pakai kerudung..., dari semua anak gadis 'SS Corporation' hanya aku yang nggak pakai penutup kepala..


Tapi tunggu sebentar lagi...aku belum siap...

__ADS_1


__ADS_2