BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Sebulan berlalu


__ADS_3

Shanum dan Sunny saat ini sedang sama-sama mengepak apa saja yang akan mereka bawa ke Jepang siang ini. Telah ada dua koper yang telah tersusun rapi disudut pintu, sementara mereka berdua merapikan ransel dan tas tangan Shanum.


Tak sampai satu jam merekapun telah menyelesaikan semua dan keduanyapun mulai menutup pintu kamar mereka. Kamar dimana mereka menginap semalam, kamar dimana kenangan manis kedunya terukir, kamar yang menjadi saksi bisu meleburnya raga keduanya menjadi satu.


Akhirnya pintu lift terbuka dilantai dasar, dimana keluarga besarnya akan melepaskan keberangkatan mereka.


Tapi bukan sambutan hangat dari para mommy dan keluarga besarnya yang keduanya dapatkan, tetapi mata sembab dan wajah penuh kecemasan mereka.


Sepasang pasutri itu saling tatap sejenak. Dari tatapan mereka seolah saling tanya ada apa ini?.


" Brothy, kak Sha, kalian sudah akan berangkat?" sapa Saga yang menyadari keberadaan keduanya.


Pemuda tampan berusia 18 tahun itu terlihat kacau dan juga terlihat menyimpan kecemasan didalam sorot matanya.


Sunny dan Shanum semakin kebingungan akan apa yang sedang terjadi saat ini, apa lagi beberapa kali aunty Azura terlihat terisak penuh kepedihan di pelukan uncle Ardi. Lalu kemana para daddy yang lain?


" Saga what's wrong?" tanya Sunny heran, bingung dan ikut cemas mendapati kericuhan di depanya saat ini. Padahal dua jam lalu saat dirinya dan Shanum turun sarapan tidak terjadi apa-apa, semua terlihat baik-baik saja.


" Elder sister...., brothy..." jawab lirih Saga.


" Kak Bian?, kenapa dengan kak Bian ?" sambar Shanum cepat.


" Kak Bian tidak kembali dari semalam..." jawab Saga sambil mengacak rambutnya geram.


Hatinya ikut sesak dan terasa nyeri, masalahnya Saga juga salah satu saksi saat Bianca pamit keluar hotel untuk bertemu temannya di cafe seberang hotel ini semalam.


" Bukannya setiap kali kak Bian keluar rumah selalu ditemani oleh Raasya.." Sahut Sunny.


" Iya sih, tapi semalam uncle membiarkannya pergi sendiri.."


" Hah!!! kenapa bisa begitu?, biasanya kan uncle paling posesif dengan kak Bian.." sahut Sunny.


" Dan itulah yang disesalkan oleh uncle sekarang.."


Ketiganya menatap kearah uncle termuda mereka. Yah... sangat terlihat kesenduan dan raut kecemasan yang luar biasa.


Jelas raut kecewa dan penyesalan terlihat dari raut wajahnya yang tampan. Sementara istrinya terus menangis sejak putrinya Azmya memberitahukan bahwa kakak Biancanya tidak pulang sejak semalam.


...***...


Karena keterbatasan waktu keduanya tidak bisa membantu banyak. Apalagi ayah dan uncle Brian meyakinkan mereka untuk tidak ikut terlalu cemas. Keduanya berjanji akan segera menemukan keberadaan Bianca.


" Kalian berangkat saja, tenang saja, ayah dan uncle pasti bisa menemukan your elder.." janji ayah Marvel kepada sepasang pengantin yang akan berangkat bulan madu itu.


Para mommy dan para daddy satu persatu memeluk keduanya. Diiringi doa tulus untuk kebahagiaan sepasang pengantin baru ini.


" Uncle...maaf Sunny harus pergi..." pamit Sunny lirih pada uncle Ardinya, yang masih terus memeluk aunty Azura yang terisak dibalik cadarnya.


" Iya, pergilah...semoga kalian selalu berbahagia, jangan cemas...kakak Bianca kalian pasti segera kembali.." ucap uncle Ardi tulus seraya mengelus kepala Shanum dan Sunny secara bergantian.

__ADS_1


...*...


Setelah menempuh perjalan hampir delapan jam lamanya, keduanya sampai juga di Tokyo, Jepang.


Mereka memutuskan untuk menyewa sebuah hunian mungil saja daripada tinggal di hotel. Alasanya karena mereka akan tinggal selama satu bulanan di sini.


Hujan gerimis menyambut kedatangan mereka di kawasan yang mereka tuju saat ini.



Krieett...


Pintu terbuaka dan keduanyapun memasuki sebuah rumah asri yang minimalis tersebut.


Rumah yang hanya memiliki satu kamar tidur lengkap dengan kamar mandi, dapur kecil dengan meja makan bulat berdiameter 100cm lengkap dua kursi tinggi.., lalu ruang luas multi fungsi yang bisa di jadikan ruang tamu merangkap sebagai ruang keluarga juga.


Setelah merapikan bawaan mereka, keduanyapun membersihkan diri, bergantian. Shanum terlebih dulu, sementara Sunny masih sibuk mengecek situasi rumah dan juga keadaan sekeliling.


" Coba hubungi Jakarta sayang..., aku cemas.." Shanum mendekati Sunny yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.


" Hemmm iya, kau benar. Aku juga begitu cemas.." Jawab Sunny.


Pemuda tampan beristri itu merogoh tas ranselnya lalu mulai menghidupkan daya ponselnya. Jemarinya lincah mendial sebuah nomor.


Hampir tiga puluh menitan mereka bercakap-cakap via video call, tapi justru raut kecemasan semakin menggurat di wajah keduanya.


" Menurutmu kemana elder sayang?" tanya Sunny pada Shanum saat ini.


" Entahlah, tapi Sha memang agak curiga dengan gerak-gerik kak Bian beberapa hari ini yang..." Sahnum menjawab dengan tangan yang mulai membuka gulungan handuk di kepalanya.


Rambut lembab nan panjang itupun menghantarkan harum wangi shampo yang menguar memenuhi ruang indera penciuman Sunny. Bau harum yang mampu membangkitkan sesuatu dari dalam dirinya.


Dadanya berdentum-dentum tidak karuan saat Shanum justru malah mengangkat sebelah kaki jenjangnya ke atas ranjang untuk sekedar mengoleskan body lotions.


Kegiatan yang sangat wajar dan lumrah, tapi posenya terlihat erotis di mata Sunny. Sesuatu telah sesak dibawah, dan Sunny hanya bisa menggigit bibirnya berulang.


Apalagi hawa dingin malam mulai terasa menusuk pori-pori karena hujan belum juga berhenti sejak kedatangan mereka sore tadi. Jelas yang diinginkan dan diharapkan Sunny adalah kehangatan, ya...kehangatan hakiki yang hanya bisa diperoleh dari sang istri.


Shanum yang sadar bahwa Sunny saat ini sedang menatapnyapun segera menoleh.


" Apa yang?, kamu lapar?" ucapnya polos.


Sunny tersenyum dan perlahan berjalan mendekat, meraih botol lotion dari tangan Shanum lalu diletakkannya di nakas.


" Ya..aku lapar babe..." ucapnya serak.


" Tapi kita belum belanja yang..., kita delivery saja ya..."


" Nggak usah babe, semua sudah ada disini..." jawab Sunny dengan mata tajam menatap lekat lekuk tubuh Shanum.

__ADS_1


Tatapan lapar Sunny terus berpusat pada bibir pink Shanum.


" Maksudnya?, kulkas kosong dan...emmphhh..." Shanum tak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Bibir seksi nan tebal Sunny kini telah membungkam bibirnya.


" Aku lapar babe..., ijinkan aku memakanmu dulu sayang.... " bisik lirih di telinga Shanum. Bahkan kunyahanya pada telinga itu langsung mampu membuat Shanum lengah, dan hanya mampu pasrah dengan apa yang akan diperbuat Sunny padanya.


Satu jam raga keduanya beradu, menyatu , demi menghasilkan rasa nikamat yang orang-orang sebut sebagai surga dunia. Desah, lenguh nyata terdengar memantul dari sudut-sudut kamar, membuat suasana kian panas.


" Ugghhhhh!!!"


Saat rasa itu hadir, meledakkan rasa yang luar biasa, keduanya akhirnya tumbang dengan nafas yang saling memburu.


"Hah....hah...huffttt....hufftt.., terimakasih babe "


Kata-kata ini tak pernah tertinggal sejak semalam, Sunny selalu mengucapkan rasa terimakasihnya pada Shanum setiap usai mereka bercinta. Sunny memang manis dan Shanum begitu memujanya.


Walaupun casingnya blangsak luar biasa, tapi Sunny begitu lembut saat menyentuhnya.


...*...


Satu bulan penuh mereka berada di Jepang, setiap hari mereka menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di siang hari. Sedangkan malamnya selalu panas dengan gerakan liar Sunny dan ******* serta lenguhan syahdu Shanum. Tak ada duka nestapa, yang ada hanya rasa bahagia yang luar biasa. Rasa yang sejatinya memang dimiliki oleh sepasang pecinta yang telah disatukan dalam ikatan halal yang diridhoi oleh Tuhan.


Dan pagi ini adalah akhirnya, akhir dari perjalanan bulan madu mereka.


" Nah sip!!, akhirnya semua sudah beres yang.." ucap Shanum sambil menutup koper-koper yang tergeletak diatas sofa.


" Hmmm, aku belum mau pulang yang..." justru rengekan manja Sunny terdengar menggelitik. Puda itu mendekat, tanganya mendekap erat perut Shanum, sementara kepalanya ia sandarkan pada pundak gadis tak gadis lagi itu.


" Tambah seminggu lagi ya..." rayunya lagi.


" Maaf yang nggak bisa, cuti Sha udah habis. Senin ini sudah harus balik kuliah..." jawab Shanum pelan, jemarinya lembut mengusap rahang tegas suaminya.


" Empat hari lagi ya...." rayunya tanpa menyerah dengan kedua tangan mengatup di dada.


" Maaf yang...., kita kan masih ada satu bulan lagi bersama sebelum kamu balik ke camp...." Shanum mengelus dada terbuka Sunny.


Ditatapnya mata sendu suaminya, jelas terlihat kesedihan disana. Ini tidak akan mudah bagi mereka, harus berkali-kali terpisah, apalagi sekarang telah ada ikatan kuat diantara keduanya.


" Sha janji deh, walaupun Sha udah harus kuliah satu bulan ke depan, tapi kamu..., suamiku ini, akan tetap menjadi prioritas ku.." bisik manja Shanum sambil mengecup singkat bibir Sunny.


"Yuk...bersiap..." tepuk Shanum lembut pada bibir yang selalu menjadi candunya itu.


" Emmhh, baiklah kita bersiap, tapi...... Kita ukir satu kali kenangan di lagi disini..." ucap Sunny dengan kerlingan nakal dimatanya, bersamaan dengan memainkan bibirnya dengan lidahnya.


" Haish!!! "



Shanum mengusap kedua lenganya ngeri, karena jika sudah mode seperti itu, dan tatap Sunny seperti itu maka itu berarti, Sunny tak akan memberikannya sedikitpun celah untuk sekedar istirahat.

__ADS_1


__ADS_2