
Panggung untuk perform anak cowok begitu manly. Dekorasi panggung di buat terkesan cool, sangar dan deep.
Hampir tujuh puluh persen peserta putra menampilkan aksi band mereka.
Binar, Arnov dan Roy keluar dengan dandanan super metal mereka. Mereka begitu bersinar, terlihat macho dan gagah.
" Mereka bawain lagu metal ya Lex?" Tanya Ayu.
Alexa hanya menggeleng, tapi tatapannya terpesona akan kebadasan Roy. Beberapa cewek bahkan memanggil-manggilnya genit, dan juga memfotoin Roy.
" Lo nggak cemburu Lex?" Tanya Shanum.
" Nggak, buat apa?. Gue percaya penuh Roy itu sayang gue..." Sahut Alexa percaya diri.
Betul juga, belum tertutup mulut Alexa berbisik pada Shanum, Roy terlihat mengedipkan sebelah matanya pada Alexa, bahkan melempar fingerheart pula.
" Jiaaaahhhh, dapet kiriman hati tuhhhh" Ayu mecubit dagu Alexa yang tersipu malu.
Sementara Binar melangkah mendekati Shanum yang terlihat salah tingkah karena sedari tadi mata tajam Binar terus menatapnya.
" Pinjam tanganya babe..." Binar mengulurkan tanganya di depan Shanum.
Shanum mengangkat bahunya tidak paham akan maksud Binar.
Binar meraih tangan Shanum dan di tempelkannya pada telapak tangannya.
" Beri aku kekuatan cintamu babe..." Bisiknya Binar seksi di depan telinga Shanum, lalu mengecup punggung tangan Shanum di depan para penonton.
Binar ini benar-benar ahlinya membuat cewek terserang serangan jantung akut.
" Ahhhhh, awwww.....auto mleyot gue...." Shanum menyembunyikan wajahnya di balik punggung Binar, sementara Binar menggigit lidahnya menekankan rasa malu dan bahagianya yang luar biasa saat ini.
" Ingat babe, kalau gue juara. Lo harus kasih hadiah ke gue..." Bisik Binar lagi sebelum tampil.
Penampilan yang spektakuler, tidak ada yang tahu bahwa Arnov hanya lipsing. Kemahiran Arnov akting jelas tidak kaleng-kaleng.
Tepuk tangan begitu meriah mengiringi penampilan band SMU Putra Bangsa. Dari sini saja bisa ditebak, mereka pasti juara.
Disudut tempatnya berdiri, Shanum mengigil ketakutan.
Dia kenal betul watak Binar seperti apa, walau baru kenal beberapa minggu saja. Shanum berasa ngeri-ngeri sedap saat memikirkan hadiah apa yang diminta Binar darinya.
" Pasti mereka juaranya Ay, gila cowok gue keren juga main gitar ya Ay..., semakin cinta gue sama Roy tau nggak sih...." Alexa melompat-lompat sambil terus bertepuk tangan.
" Saingan kita ke provinsi ni Ay..., berat!!" Ayu menyenggol lengan Shanum.
Shanum hanya mengangguk, tapi tatapannya tak lepas dari cowok yang duduk di balik drum.
Apakah Binar ini adalah Sunnyku ? Kenapa gayanya bermain drum sama persis dengan tante Hana?
Sunny itu murid tante Hana selain Lui dan Aryan
Hanya mereka bertiga yang punya gaya begitu.....
Bin, apakah kau Sunnyku?
Dan akhirnya...
Benar dugaan Alexa dan genknya. Putra Bangsa keluar sebagai juara pertama. Sama seperti SMU Pelita semalam.
Senyum ketiganya terus terukir selama di panggung. Benar kata Shanum, hadiahnya gede dan tidak main-main.
" Gila nggak bro?, 150jt. Gue tarik kata-kata gue yang menolak ikut Gala Seni kemarin. Kalau ada lagi gue mau ikutan..." Ucap Roy antusias.
" Gue juga woy....." Sahut Arnov.
" Gue awalnya nggak mau juga, tapi karena ada dia...." Binar menatap Shanum yang ada dibawah.
" Dia benar-benar memberikan cahaya dalam hidup gue, hidup gue begitu terang benderang setelah ada dia, Cahaya adalah sumber penerang hati gue...." Bisik Binar kepada dua sahabatnya.
Semoga lo berhasil bersamanya, batin Roy.
...***...
Pagi datang, acara di Villa hari terakhir ini adalah senam pagi.
Para peserta telah berbaris rapi di tempatnya masing-masing.
Suara musik pengiring senampun telah berbunyi sejak tadi.
" Binar dan Cahaya kemana sih?" Tanya Alexa pada Roy.
__ADS_1
" Mereka pacaran...., gue liat dari habis subuh udah berjalan ke arah air terjun...." Balas Roy.
" Tapi...."
" Habis senam kita susulin..., mau nggak?" Tanya Roy cepat.
Alexa tersenyum manis dan mengangguk setuju. Sementara Arnov menepuk keningnya. Dia merasa tersisihkan dan dibuang disaat kedua sahabatnya telah memiliki kekasih.
Matanya melirik Ayu yang begitu semangat mengikuti gerakan senam yang di peragakan oleh instruktur di depan.
Dia cantik, lembut, dan paling waras di antara ketiganya.
Tapi mau dipaksakan bagaimanapun gue nggak cinta dia...
Lagian dia juga nggak cinta gue...
Ohhh, ya Tuhan...tunjukkan jodohku segera....
" Kenapa lo?" Ayu menabok punggungnya, membuatnya gelagapan karena kepergok natap Ayu.
" Ehh..i..itu..mata lo..." Tunjuk Arnov pada mata Ayu.
" Kenapa dengan mata gue?" Tanya Ayu penasaran.
" Mata lo ada beleknya ha..ha..ha...ha..." Arnov berlari menjauh takut diserang oleh cubitan Ayu yang terkenal pedes.
Padahal mah Arnov bohong, mana ada belek dimata Ayu yang cantik.
" Bin, kita mau kemana sih?. Air terjun udah lewat.." Ucap Shanum dengan mengusap keringat di dahinya.
" Capek ya?, sini..naik punggungku..." Binar membungkukan sedikit tubuhnya di depan Shanum.
" Nggak deh makasih, gue masih kuat jalan..," Tolak Shanum.
" Ayo sini cepet..." Binar memaksa dengan menarik kedua tangan Shanum melingkari lehernya.
" Akkhh..." Teriak Shanum syok.
" Kau ini pemaksa banget Bin...." Shanum mencubit dada Binar geram.
Saat ini posisinya sudah di punggung Binar, dadanya begitu menempel pada punggung Binar tanpa penghalang.
Rasa hangat menjalari aliran darah keduanya saat ini.
Ada rasa senang, bahagia, ingin menangis, ingin tertawa dan bahkan ada rasa was-was yang luar biasa. Was-was karena takut tidak bisa menahan dirinya.
Seorang pria muda yang sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, berduaan bersama dia yang begitu digilainya tentu adalah ujian berat bagi Binar.
Dag dug dag dug....
Detakan jantungnya seolah membuat rontok semua organ dalam tubuhnya.
" Apa masih jauh Bin?" Tanya Shanum disamping telingan Binar.
Binar memejamkan matanya, jantungnya semakin menggila.
Bisikan Shanum ditelingnya membuatnya semakin tremor.
" Be.. Bentar lagi..." Binar grogi luar biasa saat ini.
Beberapa menit berjalan sambil menggendong Shanum dipunggungnya, membuat Binar berpeluh juga. Akhirnya mereka sampai di ujung padang yang luas, dari sana terlihat pemandangan indah di bawahnya.
" Bagaimana babe?, bagus kan pandangannya?" Binar membuka jaketnya untuk digelar sebagai alas duduk mereka.
" Iya...MasyaAllah, lo tau dari mana disini ada tempat seindah ini Bin..." Tanya Shanum dan duduk disebelah Binar.
" Gue denger anak-anak ngomong kemarin pas makan siang..." Jawab Binar, kepalanya diletakkan di kedua lututnya dan menatap pada Shanum. Shanum yang ditatap seperti itu rasanya menjadi salah tingkah.
" Gue mau minta hadiah gue...?" Ucap Binar masih dengan menatap Shanum tajam.
" Gue lagi nggak bawa duit sekarang..." Jawab Shanum polos.
" Emmbbha..ha..ha.., gue nggak minta duit ke lo babe..." Binar mengelus kepala Shanum lembut.
" Terus?" Shanum menoleh dan ikut menatap Binar.
Binar menatap intens wajah cantik di depanya ini.
Cantik alami, tanpa harus di tambah- tambahin oleh make up.
__ADS_1
" I wanna....." Binar tak bisa melanjutkan ucapannya, tangannya terjulur menyentuh wajah indah Shanum.
" Apa kita pernah bertemu saat kecil babe?, maksudku apa kau pernah bertemu denganku dimasa lalu?" Binar mengelus pipi Shanum lembut.
" Entahlah..., setahuku enggak. Tapi...."
" Tapi apa babe?" Tanya Binar masih mengelus pipi Shanum.
" Aku merasa begitu mengenalmu Bin..."
Binar menarik tanganya dan menegakkan tubuhnya, meraih kertas di kantung celananya.
" Nih...buka babe..." Binar menyerahkan sepucuk kertas pada Shanum.
Gadis manis itu membuka earphone bluetooth nya dan dimasukkan ke kantung celananya lalu membuka kertas pemberian Binar.
" Emmmpp ha..ha..ha... , ada-ada saja kamu ihh.." Shanum tertawa kecil melihat tulisan Binar.
Binar semakin gelagapan melihat begitu cantiknya Shanum saat tertawa begitu.
" Babe, kiss me please..." Ucap Binar tiba-tiba, otaknya benar-benar telah jatuh saat berjalan menuju kesini tadi.
" Hahhh????, lo waras kan??" Shanum reflek menyentuh kening Binar.
" Waras, sehat, gue benar-benar Vit!!" Ucap Binar tegas.
" Kiss me...." Ucapnya lagi.
" Nggak!!" Tolak Shanum cepat.
" Baiklah pilihan hanya dua, you kiss me or I kiss you....choose now!!" Binar memposisikan diri menghadap Shanum.
" Kok gitu sih?, kamu apa-apaan sih Bin..." Shanum terlihat marah dan mencoba untuk berdiri.
" Jadi lo pilih gue yang kiss lo...." Binar tersenyum licik.
" Lo brengsek banget sih Bin...., gue mau balik..." Shanum beranjak akan melangkah pergi, tapi
" Baiklah, gue ambil keputusan gue yang akan cium lo..."
" Idihhh nggak!!!, gue aja ! Gue aja yang cium lo..." Shanum segera berhenti.
Binar menyunggingkan senyum lucunya. Dengan melipat bibirnya menahan senyumnya, Binar memposisikan wajahnya didepan Shanum.
" Go babe...." perintah Binar masih dengan tersenyum.
" Tutup matamu.." Ucap Shanum.
Dag..dug...dag...dug...
Mata terpejam Binar begitu mempesonakan Shanum saat ini. Apalagi apa itu?, dengan pedenya Binar memonyongkan bibirnya yang seksi itu.
Shanum tertawa tanpa suara.
Dikira gue mau cium bibirnya..
Ogah...
" Cepetan babe..." Seru Binar masih dengan senyumnya yang terlihat manis.
" Emmm, oke..." Sahut Shanum.
Cup..
Satu kecupan di pipi Binar.
Binar meresapi rasa indah dihatinya, tapi anehnya dia pernah merasakan ini sebelumnya.
" Sekali lagi, yang lama..." Ucapnya lagi masih dengan terpejam.
Shanum melipat bibirnya, dia juga merasa ingin sekali mengecup pipi itu terus.
Begitu bibir itu menempel di pipinya, Binar semakin menekan kepala Shanum pada wajahnya.
" Aku Binar Buana Sanjaya akan selalu menyanyangi mu Cahaya..." Binar membingkai wajah Shanum dengan kedua telapak tanganya. Perlahan di tempelkannya bibir indahnya pada kening Shanum, lama..., sangat lama. Keduanya sama-sama terpejam. Merasakan rasa indah yang sedang berpesta pada jantung mereka masing-masing.
" Jika ada yang menganggumu lapor saja padaku, kalau ada yang mengusikmu katakan padaku, kalau ada yang menyenggolmu segera datang padaku babe.... Aku akan melindungimu..." Bisik Binar.
" Iya Bin....terimakasih..." Sahut Shanum dengan senyumnya yang mengembang manis.
__ADS_1