BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Sama-sama Galau..


__ADS_3

Sunny memanjat jendela kamarnya dan segera masuk ke dalam. Pemuda itu berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya.


Angin begitu dingin, sementara hoddienya di pakaikannya untuk Shanum.


Sepanjang jalan dia menyesali sikapnya yang terlalu terbawa emosi.


Membuatnya bersikap kurang ajar pada Shanum.


Brugh!!


Sunny membanting tubuhnya di kasur busa yang begitu tipis.


Matanya terpejam, kilatan-kilatan dosa yang baru saja dia lakukan begitu menghantuinya.


" Kenapa aku seperti itu?, kelakuanku itu justru akan membuatnya percaya fitnah itu...."


Sunny mengacak-acak rambutnya kesal. Ingin rasanya dia berteriak, ingin memaki dirinya sendiri.


Kesal dan sesal menjepit aliran darahnya, sesak dan hampir-hampir gila karenanya.


Sunny memejamkan matanya, niat hati mengingat dosanya tapi justru semakin mengingatkan akan keindahan tubuh atas Shanum yang terbuka.


Kulit putihnya yang bersih, kedua gunung kembarnya yang proporsional, padat dan menggemaskan, perutnya yang ramping dan ya...Shanum menindik pusatnya, ada sebuah anting disana...


" Hiaahhhhh" Teriak Sunny mengusir bayangan yang semakin membuat tubuhnya panas.


Sunny menatap tanganya yang berbekas gigitan Shanum, bibirnya melengkung keatas saat mengingat desa*han demi desa*an Shanum yang sempat begitu terlena akan buaiannya.


Dikecupnya lembut bekas gigitan itu dengan bibir tersenyum tipis.



Seandainya Shanum tahu aku Sunny apakah dia masih membenciku karena fitnah itu.


Kapan ingatanku kembali???


Ya Tuhan...bagaimana caranya agar ingatanku kembali


Kesedihan kini melingkupi hatinya, saat malam datang dia akan selalu dihantui mimpi buruk, kilasan-kilasan dirinya tenggelam dan hanyut di air yang deras sering kali hadir membuatnya tidak bisa tidur berhari-hari.


Dug..dug...dug..


Sunny membentur-benturkan kepalanya di dinding kamarnya.


" Ayah, bunda....aku merindukan kalian. Brother...tidakkah kau bisa mengenaliku hu..hu...hu.." Tangis Sunny pecah.


Hatinya yang rapuh mudah sekali membuatnya emosional. Apalagi ditambah derita cintanya yang kelabu membuatnya semakin terpuruk. Dia membutuhkan support saat ini, selama ini hanya Shanum yang menjadi Cahayanya. Tapi diapun akan pergi...


Entah kapan mulanya dia memejamkan mata, tapi rasanya begitu singkat karena pagi sudah menyapa.


Sunny dan Aivy sedang belusukkan dipasar saat seseorang menepuk pundaknya.


Tep..


Sunny menoleh pada seorang gadis yang sebaya denganya, juga sedang menenteng belanjaan seperti dirinya.


Gadis manis dengan lesung pipi yang imut, rambut sebahunya dibiarkan tergerai begitu saja.


" Narendra? " Tanya gadis itu dengan mata tajam menatap Sunny lekat.


Tapi tak berapa lama gadis itu seolah menyadari sesuatu.


"Ahh...maaf...Aku kira tadi kenalanku..." Ucap gadis itu setelah jelas menatap Sunny.


Narendra?


Narendra Shineekah maksudnya?


Gadis itu kenalan brotherkah?


Sunny dan Shinee memang kembar, sepintas mereka mirip tapi setelah diperhatikan dengan seksama, mereka tidaklah sama persis.


Sunny hanya mengangguk pada gadis itu dan kembali menyusuri pasar membeli peralatan dapur dan sembako.


Saat masih berada di angkot, ponsel Aivy menyala.


" Kak, tante Ara nih..." Aivy menyerahkan ponselnya pada Sunny


" Ya, tante Assalammualaikum..."


" ......................."


" Ya tante"


".................................."

__ADS_1


" Baik tante, terimakasih.........."


Sunny menyerahkan ponsel Aivy dan tersenyum cerah.


" Jadi gimana?, kapan papa operasi kak?" Tanya Aivy.


" Besok baru akan di analisa. Hari ini kita cari sekolahmu dulu, kamu mau sekolah dimana?" Sunny mengelus kepala Aivy lembut.


" Sekolah Maureen jauh nggak?" Tanya Aivy ragu-ragu


" Entahlah..." Jawab Sunny asal.


" Mau cari sekolah ya? Kalian baru pindah?" Tanya seorang ibu-ibu pada Aivy.


Gadis kecil itu mengangguk.


" Memangnya SD mana yang kalian cari?" Tanya ibu-ibu itu lagi.


" SD Pertiwi bu..." Jawab Aivy menyebutkan nama SD dimana Maureen sekolah.


" Wah..., sekolah elit itu. Sekolahnya orang kaya semua.... Tidak jauh sih, hanya tiga blok dari pasar tadi.." Jawab ibu itu antusias.


Aivy menunduk, melirik kakaknya. Jelas saja sekolah Maureen sekolah elit, siapa dulu mommy dan daddynya. Lalu siapa Aivy? yang sok-sokan meniru-niru gadis seperti Maureen.


Sunny mengelus jilbab adiknya lagi, dikecupnya sayang. Membuat baper beberapa cewek yang ada di dalam angkot.


" Nanti kita ke sekolah Maureen, kakak akan daftarkan..." Bisik Sunny.


" Tapi..."


" Kakak akan cari kerja, kamu hanya perlu belajar yang rajin. Oke!!"


Aivy tersenyum cerah, dan mengangguk patuh.


...***...



Benar yang dikatakan ibu-ibu di angkot tadi, sekolah Yayasan Pertiwi menang benar-benar besar dan elit.


Sunny ketar-ketir melangkah masuk ke ruang administrasi untuk mendaftarkan adiknya.


Sekolah hari ini lumayan sepi, karena libur kenaikan kelas juga sudah mulai sejak dua hari yang lalu. Murid-murid yang berlalu lalang hanya yang terikat dengan perlombaan akhir tahun.


Tapi setiap sekolah 'mahal' pasti memiliki jauh kelebihan diatas sekolah reguler!! dan itu sudah rumusnya.


Pembayaran uang sekolah bisa dicicil menjadi beberapa kali setor, jadi masih bisa membagi-bagi untuk keperluan lain.


Sunny pun sudah melihat-lihat di koran beberapa tempat yang memerlukan karyawan.


Biarlah tahun ini dia tidak kuliah dulu, yang penting Aivy dan papanya nyaman itu yang utama untuknya.


...*...


Malam datang disertai hujan gerimis yang rintik. Sunny menatap langit-langit dibelakang rumahnya, melamun memikirkan arah hubunganya dan Shanum.



Hidup di jaman ini menang akan sulit jika tidak ada ponsel di tangan. Sunny memejamkan matanya, mencoba berfikir keras untuk memecahkan ini semua.


" Kak...nih...ada yang mau ngomong..." Aivy menghampirinya yang sedang melamun dan menyodorkan ponsel pemberian Almeer pada kakaknya.


" Siapa?" Tanya Sunny tanpa suara.


" Kak Shinee.." Jawab Aivy.


Deggghh...


Sunny terpaku sesaat. Ingatanya kembali pada peristiwa semalam..


" Ya Shinee..."


" Hai bro...how are you?" Seru Shinee ramah.


" Yeahhh, just like this. I'm fine Alhamdulillah..." Jawab Sunny, dadanya sejuk saat mendengar suara saudara serahimnya itu.


" Ku dengar dari aunty Princess, kau mencari ayahku untuk pengobatan papamu?"


" Yeah, that's true.. Mungkin besok kita ketemu...miss you Shinee.." Ucap Sunny tulus meluncur begitu saja.


Shinee yang sedikit geli dengan ungkapan rindu Sunny bergidik sesaat.


" Iiiyuuyy...jijay gue...ha..ha..ha.." Ucap Shinee.


Sunny hanya tersenyum tipis. Gatal rasa bibirnya untuk berucap menanyakan kabar Shanum, tapi logika melarangnya. Kadang ego diri mendominasi untuk mengeluarkan sebagian uangnya untuk membeli ponsel, tapi kehidupan keras Jakarta sudah nyata menanti di depan mata.

__ADS_1


Sunny yang cerdas tentu bisa memilah antara kebutuhan primer dan sekunder, yang penting dan tidak.


" Sha dan aku akan terbang ke Inggris beberapa hari lagi bro, you nggak kepingin to say goodbye to us?" Tanya Shinee.


" Entahlah..." Jawab Sunny galau.


Masihkah Shanum mau bertemu aku setelah malam itu?


Harga diriku hancur karena emosi gilaku...


Mungkin sekarang dia percaya aku adalah pria bayaran...


Sayangku..Shanumku..I'm so sorry babe..


...***...


Shanum baru turun dari kamarnya saat semua sudah berangkat ke aktivitasnya. Sengaja dia tidak mau bertemu dengan unclenya itu pagi ini, jejak merah di lehernya tidak hanya dua atau tiga, tapi begitu banyak.


Bahkan Shanum sendiri sampai syok saat menatapnya di cermin kamar mandi tadi pagi.


Dadanya penuh akan tanda merah bekas cupangan Sunny. Shanum hanya bisa mengigit bibirnya.


Bayang-bayang kebrutalan Sunny semalam membuatnya sesak, tapi saat mengingat begitu lembutnya sentuhan Sunny diakhir, membuat Shanum berfikiran gila.


Entahlah, yang dirasakan ini gila atau apa?, yang jelas Shanum begitu menginginkan sentuhan itu lagi...


Ayah Marvel sudah berangkat ke RS, Shinee sepertinya ada dikolam renang karena suara kecipak air kolam terdengar sampai ke dalam.


Saat liburan kenaikan kelas seperti ini White Base akan selalu rame, tapi pagi ini memang mereka sebagian masih diperjalanan. Mungkin siang nanti sudah akan ramai.


Seperti Luigi dan Tania, mereka harus menunggu jadwal Lenox off dulu baru berangkat.


Rayden putra Denis juga masih berada di Singapura, sekalian berangkat bersama Rasya dan Bianca.


Almeer, Almaeera dan Almaureen mereka wajib berada dirumah oma Tara terlebih dahulu sebelum benar-benar menikmati liburan.


" Shinee..." Panggil Shanum ditepi kolam.


Shinee yang mendengar panggilan Shanumpun segera menepi.


" Hemmm, apa princess??"


" Ada surat untukmu dari Ayu, aku taruh sini ya..."


Shanum meletakkan sepucuk surat diatas meja pinggir kolam, menindihnya dengan gelas jus agar tidak terbang.


Lalu gadis itu duduk di tepi kolam dengan kaki yang menjuntai ke air.


Wajah sendu itu begitu memprihatinkan, membuat Shinee menatapnya sedikit curiga.


" Are you oke?" Tanyanya mendekati Shanum.


" Hemmmm, ya..I'm Oke.." Jawab Shanum lirih, matanya mulai memerah.


Sial


Kenapa semakin aku ingin melupakannya justru aku semakin begitu mencintainya...


Binar.....


Kau benar-benar brengsek


Kau begitu kuat menggenggam hatiku....


" Kenapa?, ada masalah?" Tanya Shinee yang kini sudah mentas dan duduk di samping Shanum.


" Nggak, hanya sedikit berat untuk berpisah dengan sahabat-sahabatku..." Ucap Shanum bohong.


" Oh ya? Kemana saja mereka?" Tanya Shinee ingin tahu.


" Ayu akan ke Milan untuk mendalami desain yang digemarinya sedari kecil. Alexandria dan Roy mengejar mimpi mereka menjadi dokter, mereka ke UGM. Arnov mengikuti jejak ayahnya sebagai prajurit TNI AU..." Ucap Shanum lirih.


Tapi yang membuat Shinee heran, kenapa Shanum meninggalkan nama Binar dalam curhatannya. Shinee yang cerdas sangat tahu apa arti dari semua ini.


Ada apa denganmu dan Binar?


Kemarin kau begitu berbahagia bersamanya...


Ada apa dengan kalian.


Shinee hanya bisa menatap punggung Shanum yang kini melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.


Tanganya yang kekar segera menyambar handuk dan melilitkanya dipinggangnya. Tangannya meraih surat dari Ayu, tapi diurungkan untuk membacanya, justru beralih meraih ponselnya.


Saat beberapa kali mengubungi nomor Binar tidak satupun yang menyambung.

__ADS_1


__ADS_2