
Pesawat yang mereka tumpangi dari Boston ke London telah mengudara.
Prince terus berdecak kagum, bibir mungilnya terus berucap syukur, akhirnya sebentar lagi dia bisa memeluk daddynya lagi.
Sementara Sunny sendiri baru pulang dari mendampingi prajurit baru untuk pendalaman materi survival di pedalaman hutan.
Tugas itu begitu mendadak, hingga tidak sempat baginya menghubungi anak dan istrinya. Tentu saja hatinya gelisah tak karuan tiga bulan ini, bahkan sampai-sampai dia melalaikan jadwal makanya.
Sunny membuka pintu apartemen yang di tinggalkannya tiga bulan ini. Kakinya melangkah cepat menuju kamarnya.
Sebelum membersihkan tubuhnya, pria muda itu mengisi daya ponselnya yang tergeletak begitu saja di ranjang saat dia mendadak mendapatkan tugas tiga bulan lalu.
" Hufftt..." Sunny menghembuskan nafas lega.
Tubuhnya sudah segar setelah satu jam berendam, dihutan tentu saja dia jarang mandi. Mandi pun jika bertemu sungai, tapi heranya, walaupun berbulan tinggal di hutan tapi ketampanannya tidak juga luntur.
Daya ponsel belum terisi full, tapi rasa rindu ingin segera mendengar dan melihat wajah anak dan istrinya begitu mendominasi otaknya saat ini.
Sebenarnya Sunny belum makan seharian ini, tapi rasa lapar itu tersingkir oleh besarnya rasa rindu yang kian menggebu-gebu.
Saat ponsel telah menyala, matanya terbelalak kaget mendapati ratusan panggilan dan puluhan pesan dari Shanum dan Shine.
Yah...rata-rata isi pesan selalu mempertanyaan akan keberadaannya, dan alasannya tidak mengangkat telpon atau tidak menghubungi.
Ada rasa bersalah yang meremat hatinya saat ini, apalagi puluhan pesan Shanum berisikan kata-kata permohonan yang teramat mengharapkan untuk dirinya mengangkat panggilannya.
Itu semua karena Shanum tidak sanggup lagi mendengar tangisan Prince.
Ya Tuhan....
Maafkan aku Tuhan..., aku telah menyakiti hati istri dan putraku..
Mereka pasti khawatirkan dan cemas..
Ya Tuhan...
Prince pasti terus menangis karena tidak juga bisa menghubungiku...
Prince, maafkan daddy....
Dengan tangan bergetar Sunny mencoba menghubungi nomor ponsel Shanum, tetapi tidak berhasil.
Sunny masih terus berusaha menghubungi Shanum, tapi sepertinya ponsel Shanum sedang off.
Tak mau ambil pusing, Sunnypun menghubungi nomor Saga, Shine dan Ayu. Tetapi hasilnya sama saja, ketiganya sama-sama tidak ada yang menggubris panggilannya.
" Shhitt!!, brengsek!!, ada apa ini!!!???" Umpatnya kesal.
Berjam-jam dia terus coba untuk menghubungi istrinya tetapi tetap gagal juga. Rasa kantuk dan laparpun menyerang, membuatnya mau tak mau beranjak meninggalkan ponselnya untuk kedapur, dan sekedar melepas penatnya dengan tidur barang sebentar.
Mungkin setelah bangun tidur ponsel Shanum akan kembali on.
...**...
__ADS_1
Hampir tujuh jam waktu yang ditempuh Shanum, Saga dan Prince untuk sampai di tanah yang ditinggali oleh daddy Prince ini.
Senyum manis terbit dari bibir pink milik Shanum. Rasa rindu yang menghimpitnya kini mulai terurai. Tapi justru rasa berdebar semakin menghantam dadanya. Jelas dia harus mempersiapkan dirinya lahir dan batin.
Sunny adalah predator gila yang siap memangsanya kapan saja dan dimana saja.
Tiba-tiba Shanum bergidik ngeri saat mengingat hal-hal gila yang dilakukannya dengan Sunny saat mereka melepas rindu.
Adegan-adegan panas membara saat ini berkelebatan di benaknya.
" Hiihhh apasih!!!" Usirnya pada fikiran-fikiran mesum yang tengah menguasai otaknya saat ini.
" Apa?, kak Sha ngomong apa?" Tanya Saga bingung.
" Akkhh, ehhh. Nggak!!, nggak ada!!, nggak ngomongin apa-apa..." sahut Shanum kikuk, wajahnya terlihat memerah karena malu.
Saga hanya tersenyum tipis, sebagai pria dewasa jelas Saga tahu, arti dari meronanya wajah kakaknya tiba-tiba. Yah...pasti kakaknya sedang membayangkan bagaimana dan apa yang akan dilakukannya saat bertemu dengan suaminya.
Begitupun dia, saat dirinya pulang ke Jakarta, sepanjang perjalanan pasti dipergunakannya untuk menghayalkan apa saja yang ingin dilakukannya dengan Almaeera, tunangannya.
" Jadi daddy tinggal disini mom?" Tanya Prince antusias.
Shanum hanya menjawab pertanyaan Prince dengan mengangguk saja. Jujur semakin mendekati tempat dimana suaminya tinggal, hati Shanum semakin berdebar-debar tidak karuan.
" Relax kak ha..ha..., kau ini kenapa grogi begitu?, seperti akan bertemu kekasihmu saja kak ha..ha...ha... Brothy itu sudah menjadi suamimu...kakak lupa!!" Saga terus saja tertawa mendapati ekspresi tegang kakaknya.
Saat ini mereka sedang berada di taxi yang akan mengantar mereka ke alamat apartemen dimana Sunny menetap tiga tahun ini.
Bahkan kode aksesnya pun telah mereka kantongin, dan dari siapa lagi informasi ini mereka dapatkan selain dari Aryan Sanbalt, putra uncle Brian yang telah bolak-balik mengunjungi Sunny beberapa tahun ini.
" Ya, setengah jam lagi, kamu bertemu dengan daddy..." Sahut Saga lembut seraya mengusap rambut keponakannya.
" Daddy pasti happy melihat Prince datang kan?" Tanyanya lagi
" Tentu saja sayang..." Sahut Shanum.
Tak sampai satu jam, taxi telah berhenti sempurna di depan sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi.
Saga sebelah tanyanya menggendong Prince, sementara ransel ada dipanggung nya, sebelah tanganya pula menggeret koper. Sedangkan koper satunya ada pada Shanum.
" Lantai berapa kak?" Tanya Saga saat mereka akan memasuki lift.
" Emmhhh, bentar..."
Dengan tangan bergetar Shanum membuka kertas kecil yang ada di genggaman tanganya. Tulisan pada kertas itu sedikit mengabur karena basah terkena keringat dingin Shanum.
Saga lagi-lagi tersenyum menatap kakaknya, diturunkannya Prince dari gendongan.
" Apa kita duduk dulu di taman sana itu..." Tunjuk Saga.
" Sepertinya kak Sha perlu menenangkan diri dulu...." Lanjutnya sambil kembali tersenyum tipis mendapati bola mata Shanum yang terbelalak kaget.
Kaget kenapa Saga tahu jika saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Saga tersenyum manis, sangat manis hingga mampu menyejukkan hati Shanum yang sedang resah saat ini.
" Jangan menatap Saga seperti itu kak!, Saga sudah dewasa. Saga sangat tahu apa yang kak Sha rasakan saat ini. Saga juga selalu merasakannya saat pulang ke Indonesia. Saga juga nervous dan grogi seperti kakak, setiap akan bertemu Meera...." Ucap Saga bijaksana.
" Jadi?, mau ke taman dulu sekedar menenangkan diri?, atau langsung ke lantai tiga nomor 18?" Tawar Saga dengan senyuman yang terlihat mengolok kakaknya.
" Apa lifnya rusak?, kenapa kita tidak jadi naik?" Tanya Prince yang bingung.
Sejak tadi mereka bertiga hanya berdiri dan tidak juga beranjak masuk ke dalam lift.
" Tentu saja kita naik, ayo..." Shanum hendak menggendong putranya.
Tapi dengan cepat Saga merebutnya, bukan apa-apa. Saga juga sangat paham kakaknya tidak boleh capek, karena pasti nanti malam dia akan dibuat lebih capek lagi oleh kakak iparnya.
" Biar Saga saja yang gendong Prince.." Ucapnya cepat.
Mereka bertiga kini telah berdiri di pintu apartemen nomor 18, tertulis nama Mr. Manggala di samping pintu.
Kepala Prince terkulai lemah di pundak Saga, sepertinya pria kecil itu telah terlelap.
Ragu-ragu jemari Shanum menuju tombol bel pintu.
" Bukanya kak Sha punya nomor akses pintu masuknya, kenapa pakai tekan bel segala sih!!" Ucap Saga.
Jemari yang hampir menekan bel itu kembali urung, matanya menatap mata Saga seolah meminta dukungan dan kepastian.
" Apa tidak apa-apa?, apa tidak menganggu privasinya di dalam?" Tanya Shanum lirih.
" Kak!!, kamu ini kenapa sih??, dia kan suamimu!!, yang ada dibalik pintu ini brothy Sunny kak!!, dia suamimu sendiri, daddynya Prince.." Bentak Saga tak sabar.
Gila...rasa rindu yang teramat rupanya bisa membuat orang menjadi kurang waras. Seperti kak Shanya saat ini, rasa rindu itu sepertinya telah membuat otak kakaknya agak geser dan sedikit miring.
" Buka kak, privasi apa yang harus ada diantara suami istri?.... Buka sekarang, lihat Prince juga sudah tidur...." Pinta Saga.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Shanum akhirnya menekan satu persatu angka-angka yang tertulis dikertas kecil dalam genggaman tangannya.
Klek...
Suara kunci akses terbuka terdengar oleh telinganya, berbarengan dengan dadanya yang kian berdentum-dentum seakan ingin meledak.
Ya Tuhan....
Bagaimana ini..., aku grogi...
Duhh...kenapa aku seperti ini?, bukankah ini tempat tinggal suamiku?
Apakah aku harus masuk?
" Ayo kak masuk..., buka pintunya. Kak Sha nggak kasian apa tanganku pegel begini..." Ucap Saga menggerutu.
" Ahhh, iya...kakak buka..." Ucap Shanum dengan mulai menarik anak pintu dan mendorongnya agar terbuka.
__ADS_1
" Bismillah, Assalamualaikum Yang...." Serunya pelan.