
Ayah Marvel terlihat memejamkan matanya di samping kemudi Shinee.
Dia hanya tak habis fikir, Binar yang memiliki semua kemiripan dengan putranya itu,kenapa terlihat begitu menyayangi Sanjaya.
Sejak tadi hatinya begitu sakit, sesak dan ngilu melihat perlakuan pemuda itu pada papanya.
Entahlah perasaan apa yang dirasakannya ini, dia begitu iri dan cemburu. Binar begitu baik dan lembut dalam memperlakukan Sanjaya.
Ya...., walaupun Shinee pun tak ada bedanya, Shinee putranya juga begitu menyayangi dirinya, tapi kenapa?
Kenapa dia begitu cemburu melihat Binar yang begitu menghargai Sanjaya?.
Marvel menatap putranya yang sedang menyetir saat ini, ditatapnya penuh cinta.
Mereka berdua begitu mirip.., hanya rambut saja yang beda...
Tapi bagaimana bisa?
Adakah orang yang semirip itu selain saudara kembar?
" What happened ayah?, any problem?" Tanya Shinee saat merasa tidak nyaman dengan tatapan ayahnya sejak tadi.
" No, nothing. Just I wanna say..I love you so much son..." Ayah Marvel mengelus kepala Shinee lalu turun ke pundaknya, menepuk-nepuk beberapa kali disana lalu kembali memejamkan matanya.
Shinee hanya mengangguk dan meraih tangan besar ayah untuk dikecupnya.
Ayah Marvel membuka matanya saat merasakan kecupan Shinee dan tersenyum lembut.
" Sha..., jadinya ambil BU or Oxford?" Tanya ayah Marvel pada Shanum yang duduk di belakang.
" Ikut Shinee saja uncle..." Jawab Shanum.
" Ya, pilihan yang bagus. Disana ada uncle Chandra Bagaskara, setidaknya kalian ada yang mengawasi..." lanjut Marvel.
" Oh iya ayah, beberapa hari lalu saat turun dari pesawat. Shinee bertemu Nadia, putri uncle Chandra..." Ucap Shinee sambil mengingat sesuatu.
" Nadia gadis yang kuat, dia memilih hidup sederhana bersama aunty Metha dari pada ikut ayahnya di Inggris, semoga mereka kembali bersatu.." Harap ayah Marvel.
Kehidupan rumah tangga uncle Chandra dan aunty Metha sedang retak karena orang ketiga. Nadia, putri mereka memilih mengikuti bundanya tinggal di Indonesia
" Aamiin...Aamiin..." Sabun Shanum dan Shinee.
...**...
Mobil memasuki mini mansion, White Base.
Tampak lampu beberapa balkon telah menyala, menandakan telah adanya penghuni disana.
" Mereka sudah datang..." Ucap ayah Marvel sambil tersenyum cerah.
Beberapa mobil berderet rapi, menunjukkan banyaknya penghuni di dalam rumah besar itu.
" Uncle..kak Sha...brothy..." Teriak para penerus genk somplak saat melihat ayah Marvel, Shinee dan Shanum masuk lewat pintu samping.
" Hi guy's...."
Mereka berpelukan hangat, tak hanya anaknya saja yang berkumpul lengkap, bahkan para genk somplakpun ada.
Marvel yang paling tua disini begitu bahagia melihat keakraban yang terjalin bertahun-tahun panjang ini semakin kokoh, kompak dengan bertambahnya usia mereka.
Lengkap semua hadir, kecuali Brian yang sedang memburu informasi dan Dian...istrinya.
Ayah Marvel terlihat lesu, tidak hanya istrinya yang tidak hadir, tapi putranya juga, Sunny. Yang telah pergi...
Diapun berpamitan kepada semua untuk membersihkan diri dulu..
Dengan malas-malasan Marvel membuka pintu kamarnya.
Brugh!!
Dilemparkannya begitu saja tas kerjanya diatas sofa.
Lalu menjatuhkan dirinya di kasur king size yang begitu empuk dengan posisi tengkurap.
Ayah Marvel terus melamun tanpa menyadari seorang wanita keluar dari kamar mandinya dengan berbalut handuk kimono.
Wanita itu mengendap-endap dan duduk di tepi ranjang. Tangannya merambat pelan untuk melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki ayah Marvel.
__ADS_1
" Ekhemm!!, apa yang kau fikirkan? Sampai-sampai tak menyadari kehadiranku hubby"
Ayah Marvel yang terkejut mendengar suara istrinya langsung berbalik badan.
" W..wife!! you here?"
Ayah Marvel mengucek matanya berulang kali, lalu langsung duduk dan memeluk bunda Dian erat.
" Hari itu aku menyusul kalian, tapi karena tiket sudah tidak tersedia jadi aku terbang di jam berikutnya..." Ucap bunda Dian.
" Kau terbang sendirian?" Tanya ayah Marvel khawatir, diciuminya kening bunda Dian terus menerus.
" Tidak, Aryan bersamaku. Sementara Ariana dan Numa di jam berikutnya lagi.." Jawab bunda Dian dengan tangan lembut mengusap wajah ayah Marvel yang terlihat kusut.
" Capek banget ya?" Tanyanya lagi.
" Tidak, capeknya hilang sesudah lihat kamu..." Ayah Marvel langsung menyambar bibir bunda Dian.
" Emmmppp, sudah hubby.... Mandi dulu sana.... Aku bantu-bantu dibawah dulu.." Bunda Dian mendorong dada ayah Marvel pelan.
" Dibawah sudah banyak orang, harusnya kamu bantu-bantu suamimu ini..." Sahut ayah Marvel cepat.
" Kamu mau dibantuin apa hubby, ya ampun..." Bunda Dian menepuk keningnya lalu meraih baju yang akan dikenakanya.
Ayah Marvel merebut baju yang sudah ditangan istrinya itu.
" Sini!! Nanti aja pakainya.."
" Jangan dong.... Udah dingin ini..." Seru bunda Dian dengan merebut kembali bajunya.
" Dingin?, mau diangetin nggak?, mau nggak?, mau nggak?, maulah....masa enggak..."
Belum juga bunda Dian menjawab, ayah Marvel sudah menggeretnya ke kamar mandi.
" Ihhh, hubby. Mereka menunggu aku..."
" Biar saja mereka menunggu, tugasmu mandiin suamimu ini dulu..." Sahut ayah Marvel cepat.
" Baiklah...baiklah..., tapi cuma mandi ya. Jangan macam-macam.." Ucap bunda lagi.
...***...
Sunny hanya mematung menatap teh yang berada di depanya.
Saat ini dia sedang duduk di salah satu sudut cafe RS.
Diacuhkan oleh Shanum sejak tadi membuatnya sesak. Hatinya begitu pedih.
Ingin sekali berlari ke White Base saat ini juga, tapi papanya....
Bersyukur sekali, papa Sanjaya tidak harus operasi lagi untuk yang ketiga kali. Selepas ini beliau hanya harus rutin melakukan terapi berjalan untuk mengaktifkan kembali otot-ototnya yang sudah lama tidak diajak bergerak.
" Shanum...i miss you..." Desisnya lemah.
Lagi-lagi dokter Ara membebaskan biaya operasi hari ini, entah apa yang harus dilakukannya untuk membalas budi baik yang begitu besar itu pada keluarganya.
Bahkan saat mengetahui Binar tidak lagi memiliki ponsel, Almeer begitu sibuk untuk memberikan salah satu ponselnya.
Bagaimana bisa ada orang sebaik mereka di dunia ini.
Ya, mereka orang-orang baik yang sudah sangat langka saat ini.
Sunny menatap ponsel pemberian Almeer. Diketiknya nomor Shanum disana...
Jemarinya mengetikkan sesuatu di ponsel itu..
" Jika kau begitu rindunya kenapa tidak kau temui saja...?"
Sunny menoleh terkejut melihat suara Shinee yang berada di belakangnya.
" Shinee, bukankah kau sudah pulang tadi?" Tanya Sunny, pemuda itu menggeser duduknya untuk memberi ruang pada Shinee.
Shinee pun duduk di samping Sunny yang terlihat kacau.
__ADS_1
" Aku memang pulang tadi, tapi ada barang ayahku yang tertinggal. Jadi aku kembali lagi. Lalu melihatmu disini.." Shinee menggusur minuman Sunny kehadapanya, lalu meneguknya begitu saja tanpa ragu-ragu dan tanpa jijik sama sekali.
Shinee kini menolehkan kepalanya, menatap lekat mata Binar.
" Bin apa yang kau perbuat pada Sha?, dia berubah akhir-akhir ini..." Ucap Shinee setelah beberapa saat mereka hanya diam.
" Aku...aku...aku hanya..hanya..." Sunny tidak dapat berkata-kata lagi. Bingung, harus bagaimana menjelaskan ini semua pada,Shinee.
Salah paham dan fitnah membuat hubunganya dengan Shanum kacau balau.
" Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Sha..., tapi jika kamu menyakitinya aku tidak akan diam. Aku selalu ada didepannya. Sedekat apapun pertemanan kita aku akan tidak segan-segan menghajarmu jika kau mengusiknya.." Ucap Shinee saat tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari Sunny.
" Setelah saudaraku, hanya kau yang bisa membuatnya tertawa lepas. Tapi akhir-akhir ini tawa itu kembali terbelenggu, Sha kembali murung seperti sebelumnya.."
" Gadis itu berhak bahagia Bin, dari kecil yang dilihatnya hanya brothy ku, dia hanya terus berputar di lingkaran brothy ku, dia hanya menyimpan satu nama yaitu Manggala Sunny"
" Jika kau tidak bisa menggantikan brothy ku, maka pergilah sejauh mungkin darinya. Aku tidak ingin melihatnya sakit lagi untuk kedua kalinya.."
Shinee berbicara panjang lebar kali ini dan Sunny hanya bisa diam tanpa bisa bicara.
Rasa sakit menusuk jantungnya, kesetiaan Shanum telah ternodai oleh kesalahannya malam itu.
Ingin rasanya dia berteriak-teriak bahwa dialah Sunny, tapi apakah mereka akan percaya??
" Aku harus bagaimana?" Desah Sunny, nada bicaranya begitu menyediakan.
Sunny meletakkan kepalanya di meja cafe. Saat ini rasa pusing begitu meremat-remat kepalanya seakan ingin memecahkan otaknya.
" Besok kami semua akan ke Jogja, kami ziarah ke makam brothy ku..... Mungkin malam kami baru balik..."
Brothy mu ada disini Shinee...
Aku ada di sisimu sekarang...
Ohh Shinee....tidakkah kau merasakan keberadaan ku....
Sunny menatap dengan sendu mata Shinee, berharap sangat adik kembarnya menyadari siapa dirinya.
" Kenapa ini?, kenapa kau menatapku seperti itu?, kamu mabuk?" Tanya Shinee.
Sunny hanya menggeleng lemah.
" Aku...saat ini lebih tidak waras dari pada orang mabuk Shinee. Aku lebih gila dari orang gila. Aku begitu mencintai Shanum, tapi kesalahanku membuatnya pergi menjauh..."
" Shanum?, sejak kapan kamu memanggilnya begitu?, bukankah dia Cahaya bagimu?" Shinee terkejut dengan nama yang disebut Sunny.
Setahu Shinee, hanya orang terdekat yang memanggil Shanum, dan diluar itu hanya Cahaya.
Sedekat inikah Sha dan Binar?
" Ya, aku hanya sangat ingin.... Aku sangat ingin memanggilnya Shan...Shanum ...My Shan---"
" Stop it!, no Binar! Don't call her that!" Shinee terlihat marah.
Sunny mematung, dia begitu bingung, memorynya menuntunnya untuk memanggil Cahaya dengan nama depanya, tapi lihatlah reaksi Shinee.
Ini semua tak akan bisa membantu kembalinya ingatan Sunny.
" Lusa papamu sudah bisa pulang kan?, datanglah ke WB, kita barbequean..." Shinee menepuk pundak Sunny dan mulai berdiri.
" Selesaikan masalahmu dengan Sha..lebih cepat lebih baik, kami hanya tinggal satu test lagi dan akan berangkat setelah visa turun..." Shinee berbalik hendak melangkah tapi..
" Tunggu sebentar lagi Shinee, aku butuh kau sebentar..." Sunny menarik tangan Shinee untuk duduk kembali.
" Mereka kembar ya?"
" Sepertinya iya.."
" Ya ampun...cakep-cakep semua..."
" Ehh..., itu putranya dr. Marvel kan?"
" Yang mana?, mereka begitu mirip.."
" Ahhh, iya ya...yang mana putra dr. Marvel?"
__ADS_1