
Suara tawa Prince terdengar nyaring di taman kota siang ini. Tawa bahagianya begitu lepas, tercetak raut ceria yang terpancar jelas dari wajahnya.
Sunny menatapnya lekat, seolah sedang merekan dan mengumpulkan semua kenangan ini di memori otaknya.
" Daddy, Prince mau ke mall. Bisa daddy antar?"
Pelukan tangan mungil melingkar di lehernya.
" Mall?, apa yang ingin Prince cari?" Tanya Sunny menatap mata putranya lembut.
" Flowers and some gift to mommy. Daddy William selalu membawa bunga saat menjemput mommynya pulang kerja. Kadang-kadang daddy William juga membawa kado.., daddy kapan memberi bunga dan hadiah untuk mommy?"
Degh
Kapan ya?
Terakhir saat kamu lahir Prince..., dan itu dua tahun lalu...
Gila!!!, Gila banget gue, suami macam apa gue???
Sunny terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan putranya.
" Emmhhh, baiklah kita ke mall sekarang..."
Sunny berusaha mengalihkan perhatian Prince cepat, sebelum putranya yang kritis itu bertanya aneh-aneh. Yang bisa jadi membuatnya jatuh pamor di depan anak bau kencur itu.
Mereka berjalan kaki, letak mall tak jauh dari taman kota. Sepanjang jalan keduanya menjadi pusat perhatian kaum hawa. Ayah dan anak yang memiliki paras menawan.
Jika biasanya Sunny selalu memakai masker kemana-mana, tapi hari ini tidak. Hampir dua minggu ini, wajah tampanya terbuka, bahkan beberapa tetangga unitnya sampai shock mendapati wajah terbuka Mr. Manggala. Mereka mengira selama ini Mr. Manggala menyimpan parut atau luka bopeng dibalik maskernya yang tidak pernah terlepas.
Keterkejutan mereka tidak sampai situ saja, rupanya Mr. Manggala yang misterius bagi mereka itu ternyata telah memiliki istri dan anak.
Waktu hampir memasuki jam makan siang, Sunny segera membawa putranya pulang ke rumah. Saat di lobby bawah, mereka bertemu Saga yang sedang menenteng beberapa papper bag.
" Uncle..." Panggil Prince nyaring.
Saga tersenyum nyengir, saat Sunny menatap penuh selidik beberapa isi dari papper bag nya.
" Emmmhh ini, ini beberapa hadiah untuk Meera.." Ucap Saga kikuk.
Bagaimana tidak kikuk, salah satu papper bag miliknya berlogo merk pakaian dalam wanita terkenal.
Sunny hanya mengulum senyumnya, Sunny pernah muda, sangat tahu dan khatam akan gejolak rasa seperti yang dirasa oleh Saga saat ini.
" Kenapa tidak dijemput saja langsung, minta sama uncle Rangga. Bawa ke Boston bersamamu seperti brother Shinee. Brothy rasa uncle dan aunty Princess pasti setuju..." Saran Sunny sambil menepuk pundak Saga.
" Itu yang sedang Saga usahakan. Mungkin libur musim dingin tahun ini Saga akan pulang, dan meminta Meera pada uncle Rangga. Tapi bagaimana cara membujuk uncle, sedangkan uncle hanya mau menggelar pernikahan kami setelah Almeer..." Desah Saga kesal.
" Sedangkan Almeer sendiri terlalu santai, menunggu Aivy lulus kuliah itu akan sangat lama...sampai kapan aku harus merebus jemariku..." Keluh Saga lagi.
Tepp!!
Tepukan kakak iparnya dipundak Saga saat ini menguatkan tekadnya untuk segera menghalalkan Meera.
" Sudah dua tahun kami bertunangan, selama itupun aku selalu memasukkan jemariku di air panas setiap kali tidak mampu menahan diri untuk tidak menyentuhnya setiap kami bertemu..." Ucapnya lirih.
__ADS_1
" Brothy pasti lebih pahamkan bagaimana rasanya saat kita bertemu dengan orang yang begitu kita cinta. Mungkin aku masih bisa sedikit menahanya dahulu, tapi sekarang pasti akan sulit..." Lanjutnya lagi.
Matanya menerawang jauh kedepan, jemarinya mengusap-usap bibirnya pelan.
" Kenapa tidak bisa menahan diri? Itu karena kamu sering nonton video nggak bener, pasti!!" Sahut Sunny, matanya menatap lekat mata Saga penuh selidik.
" Nggak ada ya!!, Gue ini pria sholeh asal Brothy tahu!!. Brothy dan kak Sha-lah penyebabnya, kalian penyebab aku begini tahu....." Sergah Saga membela diri.
" Kami??" Tunjuk Sunny pada wajahnya sendiri.
" Ya kalian!!, apa kalian tidak sadar hahhh!!, setiap malam kalian memperdengarkan suara-suara yang...akkhhh!!!, sialaaan!!!" Saga menendang pintu lift kesal.
Wajahnya terlihat memerah saat ini, suara-suara laknat dari kamar mereka berdua beberapa hari ini begitu meracuni otak sucinya, membuatnya lancang membayangkan visualisasi Meera tanpa busana.
Itu jelas salah baginya, tapi suara mereka telah terekam dalam gendang telinganya, tidak hanya semalam suara itu terdengar, tapi setiap malam tanpa jeda dan parahnya semalam suntuk.
Sunny membelalakkan matanya, lupa!!. Ya, dia lupa bahwa kamarnya tidak kedap suara, dan setiap malam adegan itu begitu hot dan luar biasa panas. Jelas dia ingat bagaimana ******* dan rintihan merdu Shanum disetiap malamnya.
Apalagi mereka tak hanya sekali melakukannya dalam semalam, tapi berulangkali sampai dia benar-benar terpuaskan.
Sunny mengusap tengkuknya perlahan, malu?. Tentu saja dia malu!, tapi apa daya, semua telah terjadi dan nasi telah menjadi bubur.
Pria beranak satu itu jelas tahu rasanya saat berada di posisi Saga saat ini.
" Ekhem..., I'm sorry Saga. Brothy lupa kamar kami tidak dilengkapi pengedap suara.... Emmhh, bisa tidak kamu melupakan semua?"
" Tentu tidak bisa!!, suara kalian benar-benar!!, ugghhhh!!!!" Saga mengepalkan erat tinjunya kedepan wajah kakak iparnya itu geram.
Sunny segera meraih kepalan itu lalu menurunkannya perlahan-lahan.
" Ahh..ha..ha...sorry adik ipar. Tapi aku janji akan membantumu membujuk uncle Rangga dan aunty Lili..., tenang saja. Andalkan kakak iparmu ini!!" Ucap Sunny yakin sambil menepuk dadanya kuat.
" Tentu, dengan syarat kau lupakan suara-suara itu. Anggap saja tidak pernah mendengar..." Sahut Sunny.
Saga menatap mata Sunny sinis, bahkan terlihat meremehkan.
" Ck...apa brothy fikir itu mudah, Saga tidak yakin bisa, kecu----"
" Kecuali terganti oleh suara laknat Meera, begitukan maksudmu?" Sambar Sunny cepat.
Saga semakin kesal dengan arah pembicaraan ini. Apalagi pintu lift telah terbuka di lantai tiga.
" Ahhh, sudahkah brothy. Just silence!!, aku benci membicarakan ini." Putus Saga, bahkan pemuda itu membuang muka begitu saja.
...***...
Sepertinya Saga benar-benar merajuk, sampai hari terakhir keberadaannya di apartemen Sunny hari ini. Tidak juga pemuda itu menampakkan batang hidungnya di depan kakak iparnya.
Bahkan Princepun dimintanya untuk tidur dengan mommy dan daddyny dua malam ini.
" Saga mana sih?, dari pagi belum keluar juga. Apa yang dilakukan di dalam kamar?" Gerutu Shanum kesal.
Dua hari ini dia mengepak oleh-oleh untuk Ayu dan Shine, untuk keluarga di Jakarta dan beberapa buah bingkisan untuk teman-teman dan sahabatnya sendiri saja, tanpa bantuan Saga.
" Saga galau..." Sahut Sunny.
__ADS_1
Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis mengembang meremehkan tingkah kekanakan Saga.
Dipikirnya, dia tidak bisa mencuri kesempatan bersama Shanum apa?, walaupun ada Prince dikamar mereka, bercinta tetap jalan terus kalau Sunny mah.
" Kenapa tersenyum begitu?" Tanya Shanum curiga.
Sunny tersentak sesaat, lalu menunjuk wajahnya bingung.
" Iya, kamu senyum-senyum nggak jelas barusan. Apa?, apa ada ya lucu..." Tanya Shanum lagi.
" Oh..ha..ha..ha, adikmu yang lucu. Si Saga itu merajuk denganku, sumpah lucu amat dia ha..ha..ha.."
Tawa Sunny menggelegar, apalagi ditambah Prince yang kini menggelitik perutnya.
" Merajuk? Saga?"
" Iya merajuk dia!!, hanya karena mendengar live streaming suara hot percintaan kita!!, baru juga suara doang yang kedengaran udah merajuk seperti itu. Apalagi kalo udah lihat adegan panas kita secara langsung didepan matanya. Auto mimisan dia!! Ha..ha..ha..."
" Husttt Yang!!, ada putramu disini!!, jaga dong bicaranya.." Seru Shanum.
" Oke sorry..sorry. Apa yang kamu dengar Prince? Hemmm?" Tanya Sunny pada Prince yang bingung.
" Apa?, dengar apa?. Apa daddy dan mommy tadi bicara dengan Prince..."
Sunny tersenyum lembut, mengusap pucuk kepala Prince pelan.
" See babe.., Putra kita bibit unggul yang mahal. Dia nggak akan kepo dengan obrolan orang tua yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Adikmu marah dengan hal sepele, karena dia tertekan tidak bisa menyalurkan keinginan hatinya untuk segera menikah dengan Meera..."
" Setidaknya mari bantu dia, bilang pada papa untuk melamarkan Meera pada uncle Rangga. Saga tinggal di Amerika, tidak menutup kemungkinan dia akan menjumpai hal-hal yang terus membuatnya tertekan..." Lanjut Sunny.
" Memendam sesuatu yang kian membara itu sakit, aku tentu sering merasakannya. Aku paham sekali akan derita Saga...".
Shanum melirik suaminya yang kini tertuduk setelah berucap barusan. Lagi-lagi tersirat curahan hatinya dari kata-katanya.
" Aku lihat Saga dulu..."
Shanum melangkah menuju kamar tamu dimana Saga mengurung diri dua hari ini.
Kriett.
Pintu terbuka, nampak Saga sedang bermalas-malasan diatas kasur. Saga mendongak melihat siapa yang masuk.
" Apa?" Tanyanya jutek.
Shanum tersenyum, lalu melangkah duduk di samping kepala adiknya itu.
" Maaf, jika perbuatan kami melukaimu..." Bisik Shanum.
" Sudahlah kak, lupakan!"
" Tapi karena itu kamu jadi semakin merindukan Meera kan?" Lanjut Shanum.
" Emmhh iya...., Dan sialnya rindu itu semakin parah.." Keluh Saga.
" Aku putuskan untuk ambil cuti satu bulan, do'akan Saga berhasil membujuk uncle Rangga untuk menikahi Meera lalu membawanya bersamaku.." lanjutnya.
__ADS_1
" Siap!!, dengan senang hati brothy akan mendukung dan mengaminkan doamu.."
Kali ini bukan Shanum yang bicara, tapi Sunny yang kini berdiri di depan pintu.