BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Sunny kau datang?


__ADS_3

Ayu yang merasa tidak enak karena telah menyakiti hati Shanum, sore itu setelah kepulangan Reza dari rumahnya segera berlari kerumah Shanum yang hanya berjarak tiga meter saja.


" Ay..." Panggil Ayu didepan pintu, tapi tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Suara dentingan wajan dan spatula membuatnya bergegas ke dapur.



Tapi saat melihat seseorang berdiri di depan kompor membelakanginya membuat Ayu langsung konek siapa dia.


" Lo disini Bin?, Aya mana?" Sapa Ayu ramah dan berjalan mendekat, melirik apa yang sedang dimasak oleh Binar.


" Tidur siang.." Jawab Binar singkat.


" Wah..capcay kayaknya enak nih..."


Ayu menjulurkan tanganya sekedar ingin mencomot sebutir bakso pada piring capcay yang telah selesai dimasak Binar.


" Eits!!, no!! Ini untuk my princess..." Dengan cepat Binar mengangkat piring capcay itu tinggi-tinggi agar tidak tergapai oleh Ayu.


" Dih pelit amat lo!!, gue ngences nih.."


Seru Ayu geram.


" Itu di panci masih ada tuh..." Ucap Binar dengan memajukan dagunya, menunjuk pada panci diatas kompor.


" Nasi ada nggak?" Tanya Ayu lagi.


" Dihhh!!, ngelunjak lo!!" Sentak Binar.


Kaki panjangnya kini melangkah menuju ke ruang makan, Ayu mengikutinya dari belakang.


Saat Binar membuka tutup saji, alangkah terkejutnya Ayu melihat apa yang disajikan Binar dimeja makan.


" Itu..itu..itu lo semua yang masak Bin?" Tanya Ayu syok.


Bagaimana tidak, dimeja ada balado telur, ayam krispi, daging teriyaki dan juga nasi putih yang ditaburi bawang goreng di atasnya.


" Emang lo liat ada orang lain disini selain gue?" Sahut Binar.


" Enggak sih?, nggak percaya aja gue, preman seperti lo bisa masak seperti itu, atau jangan-jangan lo delivery ya?" Tuduh Ayu.


" Nggak pentinglah gue ngeributin masalah masakan doang!, gue mau pulang, satu lagi gue bukan PREMAN!!..." Binar mencuci perabotan bekas pakainya, dan segera bersiap pulang.


" Kok lo pulang, Aya masih diatas, lo nggak pamitan sama dia?" Ayu mengintil di belakang tubuh Binar yang berjalan menuju pintu keluar.


" Nggak usah, gue udah bilang sama dia tadi. Beres masak gue pulang.." Ucap Binar sambil memakai sepatunya.


" Lo suka banget sama Cahaya ya Bin?" Ayu memberanikan dirinya untuk bertanya hal sensitif ini pada Binar.


Binar menatap kedepan dengan tatapan kosong.


" Gue tidak sekedar suka sama Aya Yu..., gue cinta mati sama dia. Gue tahu ini salah, gue memaksakan diri gue, padahal dia begitu mencintai Sunnynya. Tapi gue juga tidak bisa mundur Yu, bagi gue cinta harus diperjuangkan..." Jawab Binar panjang lebar. Pemuda itu lantas berdiri, menggendong tasnya di sebelah bahunya dan segera melangkah menuju motornya.


Binar melongok beberapa saat menatap pada balkon kamar Shanum.


" Gue nggak akan lepasin lo babe, terserah orang bilang gue perebut pacar orang gue nggak perduli!!" Tegas Binar dalam hati.


...***...


Malam tiba begitu pekat karena bintang tak bersinar. Mendung merata di daerah Surabaya.


Binar menatap keluar jendela kamarnya, ragu-ragu untuk melangkah keluar, tapi rindu begitu besar.


Hujan gerimis turun mengguyur, menambah syahdunya rasa rindu yang menumpuk tak terkendali.


" Jalan kaki saja deh..." Gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


" Kak, mau kemana?" Tanya Aivy di belakang Binar yang sedang bersiap memakai mantel hujanya.


" Itu, kak Cahaya nggak ada temanya dirumah. Om dan tante serta kak Saga ke Jakarta. Katanya Almeer dan Meera ulang tahun. Kamu nggak kasih ucapan?" Ucap Binar was-was, takut adiknya ikut serta, nggak mau dong Binar mau pacaran diganggu adek.


" Masih besok, iya besok saja kirim ucapanya. Lagian Aivy nggak begitu dekat dengan kak Meera dan kak Almeer.." Ucap Aivy berbohong.


Kalau sama Meera memang kenal baik tapi tidak dekat, tapi Almeer lain...


Almeer rajin menanyakan kabar Aivy, rajin mengirimkan emoticon lucu-lucu untuk Aivy. Kadang-kadang dia ngechat dengan berbahasa Inggris lalu dibawahnya ditulis terjemahannya. Entah apa maksud Almeer, yang jelas gadis kecil kelas 4 SD itu merasa segan dengan kakak sahabatnya itu.


Binar sekarang telah berdiri didepan rumah Shanum.


Matanya mendongak pada balkon kamar Shanum yang terlihat masih terang.


Tring..


Binar πŸ“₯ : Gue dibawah babe..., boleh masuk nggak?


Shanum menatap tulisan itu dengan frustasi. Gadis itu memutuskan untuk benar-benar menjauh.


Pluk...


Dilemparkannya ponsel itu keatas meja belajar, lalu mendekati pintu balkon. Gadis itu membuka seditikit tirai putih itu sekedar untuk mengintip ke bawah. Dan yah...., Binar nampak berdiri ditengah air hujan saat ini.


Shanum segera menutup tirai saat melihat kepala Binar mulai mendongak keatas, kearahnya.


Srett..


Tak!


Brugh..


Setelah menutup tirai, Shanum langsung mematikan lampu kamarnya dan dengan cepat melompat ke kasurnya.


" Maafkan aku Bin..., aku tidak bisa memasukkanmu kehatiku selama ada Sunny disana..." Shanum meremas bantalnya, berusaha menghalau rasa sesaknya.


Hujan telah berhenti, tapi Binar enggan pulang. Pemuda itu melepas mantel hujanya dan disampirkan nya begitu saja di pagar rumah Shanum.


Dia berjanji untuk menjaga Shanum, bahkan Shinee yang baru mengetahui bahwa Shanum ada dirumah sendirian saja beberapa waktu lalu menghubunginya.


Duaarrrr!!


Petir mulai menyambar, sepertinya hujan malam ini akan lama dan disertai petir.


Shanum yang terjingkat mendengar suara besar itupun segera melonjak turun dari kasurnya.


" Ya Tuhan, apa diluar masih hujan...." Gadis itu segera menyambar tirai dan membukanya.


Tepat, hujan disertai petir kembali datang. Binar masih berdiri disana, bahkan tanpa mantel.


Entah apa yang menggerakkan kakinya saat ini, Shanum berlarian turun ke lantai bawah seperti orang gila, dibukanya pintu ruang tamu dengan buru-buru.


" Sunny....Sunny...." Teriakan bercampur tangisannya begitu memilukan, gadis itu menubruk tubuh Binar yang basah kuyup.


" Sunny....Sunny...., kau datang..." Shanum memeluk erat Binar, bahkan gadis itu memanjat tubuh Binar seolah minta gendong.


Binar yang bingung hanya menuruti nalar nya saja saat ini. Binar memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam dan menggendong Shanum dengan didudukannya gadis itu di perutnya.


" Sunny...kenapa baru kembali..." Bisiknya ditelinga Binar. Kecupan dalam dan lama dilabuhkannya di kening Binar.


" Sunny...aku rindu...aku rindu seperti orang gila....hiks...hiks...hiks..."


Binar lagi-lagi memejamkan matanya.


" Iya sayang...aku Sunny...aku Sunnymu sayang....aku Sunny....." Bisik Binar dengan mengeratkan pelukanya.

__ADS_1


Hujan semakin deras, tubuh mereka basah oleh air hujan malam yang begitu dingin.


" Boleh aku masuk?" Ijin Binar.


" Ini rumahmu juga kan, bukanya ayahmu sering bilang begitu..." Ucap Shanum masih membaringkan kepalanya di bahu Binar.


" Hemmm, I...iya.." Binar melangkah masuk dengan menggendong Shanum.


" Ke atas?" Tanya Binar saat mereka telah berada di dasar tangga.


Shanum tersenyum dan menegakkan kembali kepalanya.


" Kamu lupa?, itu kamarmu dan Shine. Yang disana itu kamar adik-adik kita, Rasya, Lui, Aryan, Rayden dan yang lain...." Shanum menunjuk kamar yang berderet dibawah tangga.


Binar hanya mengangguk, walau dia sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi.


" Sunny..." Bisik Shanum lagi.


" Hemmmm" Sahut Binar.


" Kamu Sunny kan?" Ucapnya dengan intens menatap wajah Binar yang dirangkumnya di kedua telapak tanganya.


" Iya sayang..., aku Sunny!, aku Sunnymu..." Ucap Binar dengan senyuman yang sangat manis. Jelas tergambar dari wajahnya, rasa bahagia yang begitu besarnya.


Shanum mengusap kening Binar, menyugar poni panjang Binar yang basah itu kebelakang.


Cup.


Cup.


Cup.


Dikecupnya rakus kening luas milik Binar.


" Sunny....Sunnyku..." bisiknya lagi.


"Iya sayang, ini aku Sunny. Aku bersedia jadi apapun sesuai yang kau inginkan sayang. Bahkan jika kau minta Binar hilang dan menjadi Sunny sekalipun aku rela..." Ucap Binar.


Degh!!!


Shanum mematung seketika, kesadaran menampar nya begitu keras.


" Akkhhhh" Shanum seolah sadar, dengan cepat gadis itu menjauhkan tanganya yang berada di kedua pipi Binar.


Dengan memberontak diapun akhirnya berhasil turun dari gendongan Binar.


Shanum kembali mengamati wajah Binar dengan seksama. Langkah kakinya mundur setapak demi setapak


Binar yang bingung tidak tau lagi harus berkata-kata apa lagi.


" Pulanglah Bin...., maafkan aku..." Ucap Shanum setelah sekian lama mereka terdiam dengan hanya saling menatap satu sama lain.


" Sebelum itu ganti bajumu dengan baju Shine.., disitu..." Lanjut Shanum dengan menunjuk sebuah kamar.


Flasback on.


Sunny kecil berlarian mengejar Shanum kecil di taman belakang White Base.


Tiba-tiba mendung datang dengan cepat, hujan turun disertai petir yang menyambar. Beberapa anak-anak dari genk somplak yang lain juga berlarian meneduh. Tapi tidak dengan Sunny, pria kecil berusia 12tahun itu berdiri gagah dibawah hujan.


" Shan...look at me!!. Setiap hujan dan petir seperti ini ingatlah aku..., aku akan berdiri menunggumu disini. Come.. Shan, hujan itu rahmatullah. Come!! playing in the rain is fun...coming..." Panggil Sunny pada Shanum. Tapi rupanya saat itu tidak hanya Shanum yang mulai keluar dari teras melaikan semua anak-anak genk somplak mulai detik itu juga tidak ada satupun yang takut akan air hujan. Mereka berlarian kesana kemari saling kejar kejaran dibawah hujan.


Tidak ada yang tahu, dibawah guyuran hujan itu Sunny kecil membawa Shanum ke sudut taman.


Untuk pertama kalinya, Sunny kecil yang nakal dengan berani mencium bibir Shanum.

__ADS_1


Flasback off.



__ADS_2