
Kebun Binatang pagi ini begitu ramai. Maureen dan Aivy sudah berlarian kesana kemari. Sementara Saga terus mengikuti Almaeera kemanapun gadis itu melangkah. Shine juga sepertinya terus menempel pada Shanum.
Hanya ada Almeer yang duduk ditikar dengan memainkan PSVita nya.
" Nggak jalan?" Tanya Binar pada Almeer.
" Malas, dulu udah pernah ke taman Safari. Binatang kan sama aja bentuknya, begitu-begitu juga, ." Jawab Almeer tanpa menoleh.
" Kakak sendiri nggak jalan?" Tanya Almeer balik.
" Malas juga.... Oh iya Almeer, boleh kakak tanya sesuatu?" Binar mendekat kearah Almeer.
" Apa itu?" Ucap Almeer masih tanpa menoleh.
" Sunny, mereka menyebut-nyebut nama Sunny. Siapa sebenarnya Sunny itu?" Tanya Binar.
" Brothy Sunny ya atau tepatnya adalah Manggala Sunny Marvelino, dia adalah kakak kembar brothy Shine.." Jawab Almeer.
" Kembar?"
" Yes they're. Like me and my sister Almaeera. Also my mommy and my uncle Ardiansyah. Their father too..."
" Oh gitu?, lalu dimana Sunny sekarang?"
" Ada disini.." Sahut Shanum, menunjuk pada dadanya.
Gadis itu telah berdiri di belakang Binar saat ini. Sementara Shine berdiri disampingnya, menunduk tak tahu harus berkata apa. Dia menyukai Shanum sejak kecil, tapi dia bisa apa bila tatapan Shanum tertuju pada brothynya saja.
Selama hampir sepuluh tahun Sunny pergi, tak sedikitpun nama itu hilang dari hati Shanum.
Sebagai saudara kembar, jelas Shine tak bisa menghianati Sunny dengan merebut Shanum darinya. Tapi ini sudah sangat lama. Jika Sunny masih ada, dimana dia berada?.
Jika Sunny benar-benar masih hidup. Kenapa dia tidak pulang?
" Buat apa kau ingin tahu tentang Sunnyku Hahh!!!" Shanum menunjuk muka Binar dengan marah.
" Sha...cukup!!. Berhentilah menipu diri sayang, Sunny sudah tidak ada nak.." Bentak mama Vera yang juga telah berada di sana.
" Mama...please. Sunny masih ada mama .." Shanum mulai terisak semakin menjadi, kedua tangannya meremat rambutnya geram.
" Dimana?, jika masih ada, dimana dia?, ingat Sha! Batas ngacomu hanya sampai usia 20tahun, selepas itu kamu harus menikah dengan Shine..." Sentak mama Vera.
Shine hanya menunduk.
Sementara Binar sebagai orang luar dan juga pemicu keributan ini merasa tak enak hati, pemuda itu hanya bisa menunduk, menyesal.
Tapi dia begitu penasaran dengan kata-kata yang janggal di telinganya.
Tidak ada?, Sunny tidak ada lagi maksudnya apa?.
Pergi?
Duh..kok gue jadi ikut kepo ya..
" Semua ini gara-gara kamu!!, kau itu harusnya cukup diam, seperti kau biasanya, BISU! Kenapa hari ini kau banyak bicara!!" Umpat Shanum geram.
" Sha......." Panggil mommy Ara lembut. Jari telunjuk mommy Ara bergerak ke kiri kanan seolah mengisyaratkan agar tidak bertingkah seperti itu.
" I'm sorry mommy..." Ucap Shanum menunduk, hanya pada mommy Aralah anak-anak Vera dan Vino patuh.
" Maafkan putri kami Binar, dia hanya..
Hanya belum bisa menerima keadaan yang terjadi.." mommy Ara menepuk pundak Binar yang menunduk menyesal, harusnya dia memang tidak bertanya tentang Sunny tadi.
" Tapi Shine juga tidak percaya bahwa yang kita temukan itu adalah brothy Sunny, aunty Princess.." Sahut Shine, matanya mengkilap menahan tangis.
Binar melihat itu, ada rasa ngilu di dadanya saat melihat besarnya kesedihan yang mendalam di sorot mata Shine saat ini.
Sebenarnya ini ada apa?, Sunny kemana?
" Maafkan saya, atas kesalahan saya semua jadi sedih.." Ucap Binar.
" Tidak apa-apa boy. Memang tidak salah jika kau penasaran seperti itu. Kita membahas namanya sejak didalam mobil tadi.." Sahut papa Vino.
" Sunny itu cinta pertama putriku, cinta sesama monyet tepatnya ha..ha..ha...." Lanjut Vino.
" Papa!! " Shanum menghentakkan kakinya geram lalu pergi menyusul saudaranya yang lain.
Binar menatap punggung Shanum yang semakin menjauh meninggalkan mereka.
Kenapa aku merasa pernah mengenalinya.
Sejak pertama bertemu dia di gedung tengkorak waktu itu.
Aku merasa dulu kami pernah dekat.
Tapi kapan?
Saat Tk?, SD?
Kenapa aku tidak memiliki ingatan masa kecil?
" Kenapa boy?" Rangga menepuk pundaknya, membuat Binar tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Binar menggelengkan kepalanya.
" Kalau boleh tahu, kenapa kamu terus memakai masker bro?" Tanya Shine.
Semenjak semalam dia sangat penasaran. Dan semakin penasaran saat mama Vera memintanya untuk membuka maskernya tetapi dia tetap menolak.
" Saya hanya tidak suka di lihat orang..." Jawab singkat Binar.
" Kau sangat mirip dengan brothyku, dia juga tidak nyaman saat orang-orang menatapnya.." Ucap Shine, tatapanya tertuju pada langit biru di atas.
" Apa kau tahu? brothyku sangat tampan, bahkan lebih tampan dariku.., tapi dia pemalu." Lanjut nya dengan masih menengadahkan wajahnya ke atas.
" Almeer panggil adik-adikmu dan kak Sha juga. Sudah siang sayang..Kita makan dulu yuk..." mommy Ara mengelus pundak Almeer pelan.
" Baik my.." Almeer bergegas berdiri. Pria kecil kelas 6 SD itu segera berlarian menuju arah kemana Shanum tadi pergi.
" Kenapa mereka memanggil Cahaya dengan Sha?" Tanya Binar pada Shine.
"Ya.., kami memanggil nama depannya. Sedangkan teman-temanya memanggilnya Cahaya.." Jawab Shine, tanganya sibuk menuang nasi dan lauk pauk di piringnya.
" Oh tunggu...." Binar membuka ransel Aivy dan mengeluarkan tepak bekalnya.
" Ini ada sedikit lauk..." Binar membuka tepak bekalnya dan menyerahkan nya pada Shine yang sedang kebingungan memilih lauk.
" Heyy, rendang. Wah..banyak bawang gorengnya juga. Apa kau tahu bro?, Ini kesukaan ayahku ... " Shine dengan antusias mengambil beberapa potong dan melahapnya dengan cepat.
" I..ini...kok ??, siapa yang memasak?" Shine menghentikan kunyahannya. Matanya menatap Binar dengan tajam.
" Kenapa?, terlalu pedas kah?, kau memakan laosnya?, atau masih keras?" Binar cemas, baru pertama kalinya berniat memasak untuk orang lain kenapa harus ada kesalahan.
" Siapa yang masak?" Tanya Shine lagi.
" Gu...gue sendiri.." Jawab Binar.
" Masa?, kamu bohong kan?, beli di warung mana ?, Hayoo jujur aja..." Shine jelas tidak percaya. Rendang buatan Binar enak dan dagingnya sangat lembut, mirip seperti masakan bundanya.
" Kau tahu bro?, rasa masakanmu ini enak banget bro.. " Ucapnya.
" Ini lebih enak dari masakan bundaku.." Bisiknya pada telinga Binar.
Ara yang berada didepan merekapun jelas mendengar ucapan Shine.
" Masa sih ?, masakan rendang kak Dian kalah?, boleh aunty ikut coba juga?" Bisik mommy Ara.
" Si..silahkan..." Binar menyerahkan tepaknya dengan dua tanganya.
Mommy Ara mengambil sepotong dengan garpu, lalu menggigitnya.
Daddy Rangga yang penasaran segera meraih tangan mama Ara untuk menyuapkan daging yang masih tersisa di garpu ke mulutnya.
" Emmm, ini kalau ada uncle Ardi disini kamu langsung diangkat jadi chefnya loh boy.." Ucap daddy Rangga.
" Tuh kan?, kenapa nggak terima pesanan online aja Bro. Pasti laris ini bro..., gue jamin!!" Ucap Shine.
" Tidak, tidak akan sempat.." Ucap Binar.
" Tidak sempat?, emang kamu ngapain aja bro? Gayamu kaya emak-emak saja Bin..." Seloroh Shine.
Degh...
Emak-emak?
Bahkan peranku lebih dari emak-emak...
" Kakak, Aivy mau makan.."
Aivy langsung duduk dipangkuan Binar.
Binar mengelus jilbabnya dan mengangguk, lalu mengambilkan makanan untuk adiknya.
Almaureen yang melihat itu menjadi iri, Almeer tak begitu hangat padanya. Kakaknya itu mirip seperti daddynya. Tapi rupanya Almaureen ingin mencobanya juga.
Brugh..
Gadis itu menjatuhkan tubuhnya dipangkuan Almeer.
" Awww...apa sih Maureen...sanaan!!" Bentak Almeer saat Maureen duduk begitu saja dipangkuannya. Didorongnya adiknya itu agar menyingkir.
" Maureen mau pangkuan kaya Aivy itu.." Ucap Maureen sedih, dagunya menunjuk pada Binar dan Aivy.
" Ya udah tukeran sana, kamu yang disana dan Aivy kesini.." Ucap Almeer.
" Cihh....maunya!!" Almaureen beranjak dan mendudukkan tubuhnya dipangkuan Shine begitu saja.
" Ehhh, terkejut brothy dek..." Shine mengusap dadanya, tersentak dan terkejut akan keberadaan Maureen di pangkuannya.
Semua yang ada di sana tertawa melihat kelakuan Almaureen. Kecuali satu anak.., ya dia adalah Almaeera. Dia begitu marah melihat adiknya duduk dipangkuan Shine begitu saja.
" Kenapa?, mau dipangku juga? " Bisik Saga.
" Dihh..., emang kakak kuat?. Kakak saja masih bocah!. Beda dong dengan brothy, udah dewasa dan tinggi.." Balas Meera.
__ADS_1
" Biar bocah begini, aku serius mau pangku kamu..."
" Prett..." Ucap Meera malu.
" Kok preett sih beneran..."
" Heyy..., bisik-bisik apa kalian?" Shanum mengagetkan keduanya.
" Nggak ada tuh..." Jawab keduanya berbarengan.
...***...
Puas mengelilingi kebun binatang, mereka kini berkumpul di cafe untuk menyegarkan diri dengan masing-masing memesan minuman sesuai selera masing-masing.
" Kakak rasa apa itu?" Tanya Aivy.
" Mangga, Aivy mau?" Jawab Binar.
" Nggak ah, Aivy suka yang coklat.." Balas Aivy dengan menyeruput minumannya.
Tadi saat Binar akan membayarnya, daddy Rangga menolaknya, bahkan tiket masuk kebun binatang pun juga tidak diijinkan membayar sendiri.
Binar menatap daddy Rangga yang sedang memisahkan Maureen yang lagi-lagi sedang berantem dengan Almeer.
Aku pernah melihat orang ini, dan sepertinya mereka begitu dekat denganku...
Tapi kapan itu?
Mereka datang dari tempat yang bahkan tidak pernah aku kunjungi...Jakarta?
"Kenapa dengan uncle Rangga?" Tanya Shanum yang sejak tadi menatap Binar.
Ucapan mamanya tadi pagi begitu menyebar bagai toxic dalam benaknya.
Karena ucapan mamanya, sedari tadi pandangan mata Shanum terus menerus menyelidiki setiap jengkal tubuh Binar.
Ya..., Shanum mengakui bahwa mata itu mirip sekali dengan mata Sunnynya.
Dan, nasi goreng kesukaannya kenapa harus sama persis. Dan cara makannya pun kenapa sama.
Kenapa bisa?
Dia terus menyembunyikan wajahnya bahkan saat makan bersama tadi.
Dia begitu lihai menyembunyikan wajahnya dengan terus berada dibalik punggung Aivy saat menyuapkan nasi ke mulutnya.
Dan ini saat minum saja, sedotan dimasukkan ke dalam maskernya dari bawah.
Shanum sudah di tingkat penasaran level tertingginya.
" Sebenarnya kenapa dengan wajahmu?, apa kau punya banyak jerawat?" Shanum tak tahan lagi untuk mendekati Binar.
Binar menoleh dan tersenyum dibalik maskernya.
" Kenapa kau begitu kepo?" Tanyanya.
" Aku nggak kepo sih!, cuma penasaran aja!!" Sahut Shanum.
" Penasaran?"
" Ya, mamaku bilang kau mirip Sunnyku. Tapi bagiku tidak!!, Sunnyku lebih tampan darimu, dan Sunnyku tak tertandingi.." Ucap Shanum dengan menggebu-gebu.
" Oh begitukah?"
" Ya tentu saja, jika nanti kau bertemu denganya kau pun pasti mengakui kekalahanmu ini.." Jawab Shanum.
" Masa?"
" Kalau berani buka sekarang, aku mau lihat apa yang kau sembunyikan.." Tantang Shanum.
" Jangan..., kau tidak akan tahan jika aku membukanya?" Ucap Binar santai.
" Maksud lo?"
" Aku cuma khawatir, jika kamu langsung akan meninggalkan Sunnymu dan berlari padaku saat melihat betapa tampanya aku..." Ucap Binar dengan menggerakkan alisnya.
" Idihh...sorry!!" Bentak Shanum.
" Okey katamu idih sorry kan?. Baik aku ingat-ingat ucapanmu hari ini. Suatu saat jika kau melihatku tanpa masker dan jatuh cinta padaku, aku akan langsung menolakmu, ingat itu kerdil" Ucap Binar dengan mengacungkan telunjuknya pada wajah Shanum.
" Heyy, aku juga nggak sudi jatuh cinta padamu. Bagiku sekali Sunny, tetap Sunny..." Shanum segera menyambar jari telunjuk Binar yang ada didepan hidungnya dan digigit sepuasnya.
Krek..
" Akkkhhh shitt....." Jerit Binar tertahan.
Shanum segera melepehkan jari Binar dan segera berlari, bersembunyi di balik tubuh Shine.
" Awas kau...!!" Umpat Binar hanya dengan gerakan bibirnya, tatapannya begitu mengerikan pada Shanum.
__ADS_1
Tapi Shanum, gadis itu tidak takut, dia justru menjulurkan lidahnya kearah Binar yang berkacak pinggang padanya.