
Binar sedang berada di padang rumput yang luas seorang diri. Entah dimana dia saat ini, dia juga tidak tau kenapa dia bisa berada disini.
Seorang gadis kecil, cantik, wajahnya begitu ia kenal betul. Gadis itu menghampirinya dengan wajah penuh kemarahan.
" Kamu bohong padaku!!, kamu tidak juga menjemputku!!, aku capek menunggumu!!" Teriaknya marah.
" Tapi princess...aku masih mencarimu..., dimana kamu berada princess? Katakan padaku kamu dimana?. Aku akan menjemputmu..." Teriak Binar saat gadis itu berlari dengan kencang meninggalkan nya.
" Tidak perlu lagi mencariku!!, percuma!!, hatimu bukan lagi milikku...." Ucap gadis itu kesal dan terus berlari.
" Shanummmmm, tunggu Shanummmm jangan pergi....." Binar terbangun dari tidurnya dengan wajah penuh keringat dingin.
" Bin, lo mimpiin gadis kecil itu lagi?" Tanya Roy dengan menyodorkan air putih padanya.
" Iyaa Roy..." Jawab Binar dengan ngos-ngosan.
" Sepertinya dia marah besar Roy. Seakan-akan dia merasakan karena aku telah menghianatinya, dia berlari menjauh tanpa mau mendengar penjelasan dariku.."
Arnov ikut terbangun dan menggulingkan badanya mendekat.
"Kita ini berteman sejak TK Bin, tapi teman kita tidak ada satupun yang bernama Shanum.." Ucap Arnov.
" Iya, gue juga udah liat foto akhir tahun saat TK ataupun SD kita, tidak ada satupun yang wajahnya mirip dengan Shanum ku..." Ucap Binar sambil terus menyugar rambutnya ke belakang.
" Yang aku tidak habis fikir adalah, kenapa aku lupa semua kenangan saat sebelum SMP semester kedua ya, seolah-olah aku jadi orang baru di hari masuk pertama semester kedua SMP..." Lanjut Binar.
" Eh..., kalau lo ngomongin tentang kejanggalan. Yang membuat gue heran itu banyak dari diri lo Bin.... Pertama, lo lebih lihai bertarung daripada gue yang memang mempelajari ilmu beladiri secara formal. Padahal sejak SD lo nggak pernah ikut kelas beladiri sedikitpun. Tapi lo seolah mahir, tidak hanya karate, taekwondo, jujitsu, bahkan judo semua lo kuasai.
Kedua, lo bisa banyak memainkan alat musik yang berbeda-beda, itu semua lo belajar dari mana Bin?, dan kapan?.
Yang ketiga, lo begitu fasih berbahasa Inggris seperti memang lahir di tanahnya para bule itu.., seolah-olah lo udah terbiasa berbicara dengan bahasa asing." Ucap Roy panjang lebar.
" Bukan itu saja, dari segi fisik lo berubah banyak Bin, dari TK lo emang udah ganteng. Kalo sekarang lo ganteng itu wajar, yang nggak wajar itu tinggi lo dan rahang lo yang tegas itu..." Ucap Arnov dengan terus meneliti bentuk wajah sahabatnya itu.
" Hidung sih oke, lo mancung dari kecil. Mata lo ya...., anggaplah mungkin berubah karena usia, tapi rahang lo itu benar-benar berubah Bin..., walaupun lo gendut waktu kecilpun harusnya garis rahang lo yang tegas ini sudah terlihat bentuknya..."Arnov merogoh ponselnya. Ada fotonya jaman lulus SD bersama Binar dan Roy yang dia ambil dari file mamanya.
Mereka bertiga melihat foto itu bersama-sama. Dan Binar sama sekali tidak ingat pernah membuat foto itu dimana dan kapan.
" Itu gue?" Tanya Binar tak yakin akan gambar foto dirinya yang berada di ponsel Arnov.
" Iyalah ini lo..." Jawab Roy dan Arnov kompak.
" Gue benar-benar nggak ingat guy's..." Sesal Binar.
Arnov dan Roy saling pandang, mereka diberitahu oleh om Sanjaya bahwa Binar mengalami kecelakaan dan hilang ingatan saat mereka liburan semesteran ke Jakarta saat kelas VII.
" Bin, coba certain pada kami. Sebenarnya apa yang terjadi saat lo ke Jakarta waktu itu.." Roy mengusap punggung Binar.
Binar mencoba memejamkan matanya, berusaha mengingat gambaran masa lalunya yang berserakan seperti puzzle yang tercecer berantakan.
" Gue nggak ingat apa-apa kecuali setelah pulang dari Jakarta, seolah-olah ingatanku terhapus saat berada diJakarta..." Ucap Binar masih dengan menatap kosong kedepan.
" Ingatan masa kecil hanya tersisa satu gadis kecil bernama Shanum, entah..dimana gue kenal dia.." Lanjutnya masih dengan melamun.
Seperti halnya Binar, Shanum sendiri juga terjaga dari tidurnya karena bermimpi bertemu Sunny.
Sama seperti Binar, Shanum juga bermimpi didatangi Sunny yang marah karena ketidak setiaanya menunggu kedatangannya dan malah menerima cinta Binar dan bahkan bersedia menjadi pacar Binar.
" Sunny......" De*ah Shanum frustasi.
Dibukanya galeri ponselnya yang penuh akan gambar Sunnynya.
Ditatapnya foto kali terakhirnya bertemu Sunny sebelum pemilik hatinya itu dinyatakan tewas. Tapi Shine dan dirinya yakin betul. Jasad yang dikuburkan enam tahun lalu itu jelas bukan Sunny, walaupun postur tubuhnya sama persis.
" Jangan marah padaku Sunn, aku menerimanya bukan karena suka, aku hanya terpaksa..."
" Lagian ini bukan salahku Sunny!, ini salahmu!, bahkan lima bulan lagi aku lulus SMU, dan kau tidak juga menjemputku.... Kau bilang kita akan pacaran saat kita berseragam putih abu.., kamu bohong!!!"
Ayu yang mendengar Shanum ngoceh sendiripun akhirnya segera duduk.
" Kenapa Ya?" Tanyanya lembut
__ADS_1
" Sunny...." Shanum mengelus foto wajah Sunny yang berada dalam layar ponselnya.
" Kamu kangen Sunny?"
" Iya Yu...., rasanya mau mati saking rindunya..."ucap Shanum dengan tersenyum kecut.
" Gue cari angin bentar ya Yu..., nggak jauh cuma di kolam renang saja, kamu tidur saja Yu...." Pamit Shanum seraya memakai hoddienya.
" Jangan ke lantai satu base 2 ya.... Ntar di gerebek lo!! " Ucap Alexa yang sebenarnya juga sudah terjaga dari tadi, tapi malas untuk membuka mata.
Shanum hanya tersenyum kecil dan turun dengan cepat.
Beberapa anak masih terlihat latihan, ada yang sekedar mabar, bahkan beberapa terlihat main kartu dan bergerombol di samping tangga.
Shanum dengan cepat, berputar ke belakang, menuju lorong menuju lobi belakang.
" Mau kemana?" Suara Binar dibelakang punggungnya tiba-tiba, membuat Shanum terjingkat kaget.
" Astaghfirullah..., terkejut gue Bin..." Shanum menggosok dadanya cepat.
" Gue nggak bisa tidur, mau cari angin dulu..." Lanjutnya.
" Kenapa sendiri, teman-temanmu mana?" Tanya Binar lagi.
" Mereka tidur" Sahut Shanum cepat.
Binar menatap Shanum dengan kesal dan tidak percaya ini.
Masa dia sendirian keluar malam-malam begini, bahkan ini sudah hampir pukul 02.00 dini hari.
" Lain kali jika lo begini lagi gue akan hukum kamu Cahaya!!" Ucap Binar dengan tatapan mematikannya.
" Lo fikir bisa bebas sesukamu begitu keluar malam-malam begini sedirian. Lo pernah mikir bahaya nggak sih Ya!!" Binar menggeleng kepalanya gemas.
" Jangan ulangi lagi Aya!!, keluar sendirian kayak gini. Kalau lo diculik orang gimana?, lalu lo disekap, terus diperkosa, trus dijual ke gang Dolly!! ya syukur-syukur kalo lo nggak dibunuh sih, tapi hidup lo jelas akan seperti neraka jika lo disana..." Ucap Binar lagi dengan kesal.
Shanum menunduk, jelas dia tahu kesalahannya apa saat ini.
" Hemmm, gue juga minta maaf Bin..." Sahut Shanum.
" Kesana yuk..." Tunjuk Binar pada bangku taman disudut halaman belakang Villa.
" Apa yang terjadi Ay?, kenapa kau terlihat suntuk. Harusnya kan kalian senang karena juara satu..." Tanya Binar setelah kini mereka telah duduk dengan menatap air kolam yang begitu berkilau -kilau karena memantulkan cahaya rembulan.
" Nggak ada apa-apa sih, cuma bete.." Elak Shanum. Gadis itu terlihat mengusap lenganya karena dingin yang menusuk.
Binar yang melihat itu segera melepas jaketnya dan menutupkan pada tubuh Shanum.
" Ehhh, nggak usah lah Bin, buat lo aj--..."
" Mau pakai jaket gue atau gue pelukin lo, biar kita digiring ke badan ketertiban, trus dinikahin sekalian..." Ancam Binar tegas.
" Cerita ke gue babe, kenapa lo terlihat suntuk?" Tanya Binar lagi.
Dan lagi-lagi Shanum hanya menggelengkan kepalanya. Untuk menyebut-nyebut nama Sunny diantara mereka rasanya sudah tidak pantas lagi.
Bagaimanapun seorang Shanum telah diajarkan oleh orang tuanya untuk menjaga perasaan siapun juga.
Binar mengangguk kecil, seperti biasa, rokok akan selalu menemaninya, apalagi udara dingin begini.
" Kau itu sudah mirip seperti pemeran iklan rokok saja Bin. Setiap saat setiap waktu, Bibirmu itu selalu ditempelin rokok mulu!!" Ucap Shanum kesal.
Mendengar ucapan Shanum, Binar mengurungkan niatnya untuk menghidupkan rokoknya.
Korek dan rokoknya kembali ia masukkan ke dalam kantung celana pendeknya.
Shanum malah justru terkejut melihat sikap Binar barusan, matanya menatap intens wajah Binar yang begitu indah terkena sinaran bulan.
Bibirnya yang penuh dan berwarna pink alami, matanya yang tajam dan begitu tenang membuatnya seakan tenggelam kedalamnya, alisnya yang tebal, bulu matanya yang panjang dan lentik benar-benar mengingatkan nya pada wajah Sunnynya.
" Kenapa menatapku begitu?, kau menginginkannya babe?" Pertanyaan Binar membuat Shanum tersadar akan ulahnya yang sibuk mengagumi indahnya dan begitu tampanya seorang Binar.
__ADS_1
" Hah..., apa?" Ingin apa?" Tanya Shanum setengah linglung.
" Lo nggak suka bibir gue ketempelan rokok, menurut lo bibir gue enaknya di tempelin apa?" Tanya Binar ragu-ragu.
" Lo ngomong apa Bin?, gue nggak konek!" Ucap Shanum bingung.
Binar mengusap wajahnya kasar.
Dih!!, bocil nggak peka.
Nggak ngerti kode pacar minta cium..
Dihhh!!, gini amat punya pacar...
Binar menggaruk asal-asalan rambutnya dengan kesal.
" Lo kenapa jadi kesal begitu, kalau lo ngantuk tidur aja Bin..." Ucap Shanum lagi.
Brugh.
Dengan cepat Binar membaringkan kepalanya di pangkuan Shanum, membuat gadis itu mematung seketika.
Belum juga sadar akan keterpakuanya, Binar sudah meraih tanganya dan meletakkan diatas kepalanya. Dengan bantuan tanganya sendiri, Binar mengusap-usap rambutnya.
" Kamu sepert----" Shanum tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Karena dia sudah bertekat untuk tidak menyebutkan nama Sunny didepan Binar.
" Seperti?" Tanya Binar.
" Seperti baby..." Jawab Shanum bohong.
" Ya, boleh juga. Mulai sekarang aku babymu... , perlakuan aku penuh kasih sayang seperti seseorang memperlakukan baby hemmm" Ucap Binar dengan mata terpejam. Menikmati elusan Shanum pada kepalanya.
" Apa kita nggak papa beginian di sini?" Tanya Shanum merasa aneh dengan posisi Binar yang begitu santai berbaring di pangkuannya.
" Kita sih wajar, coba lihat yang di balkon lantai dua itu." Tunjuk Binar pada balkon lantai dua.
Sepasang kekasih terlihat sedang berciuman dengan brutal di ujung teras, sepertinya mereka adalah panitia, atau tepatnya anak-anak mahasiswa yang membantu melancarkan acara Gala Seni Siswa ini.
Shanum membuang wajahnya kesana kemari, melihat hal seperti itu bersama Binar membuatnya terserang serangan jantung hebat.
" L...lo..lo dari tadi melihat itu Bin?" Tanya Shanum canggung dan grogi.
" Iya.." Jawab Binar cuek.
Gila Binar, reaksinya biasa amat.
Apa nggak gerah gitu..liat orang begituan.
Gue aja rasanya mual pengen muntah.
Binar tiba-tiba segera duduk, menyenderkan kepalanya pada punggung kursi.
" Sekarang gantian kamu Ay, tidur sini.." Binar menepuk kedua pahanya.
" Nggak usah, makasih.." Sahut Shanum cepat, tapi..
Brugh.
Binar menarik tubuhnya agar berbaring dipahanya.
" B...bin..nggak u---"
" Sstttt..., diem!!" Binar menahan kepala Shanum agar tetap berada dalam pangkuannya.
Lalu seperti yang dilakukannya tadi, dia mengelus pelan rambut panjang Shanum...
" Aya....ilove you so much..." Bisik Binar dengan menunduk, wajahnya semakin lama semakin mendekat.
" B...Bin...ak..aku ngantuk..., mau ke kamar..." Shanum yang bergetar segera berlari cepat kembali ke dalam dan terus berlari menaiki tangga.
" Emmppp ha..ha.... Beruntungnya gue. Pacar gue benar-benar polos" Gumam Binar dengan terus tersenyum menuju kamarnya.
" Shanum, maafkan aku...... Semoga kau mendapatkan pengganti yang terbaik dari Tuhan untukmu......" Batinya.
__ADS_1