BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Petunjuk Baru..


__ADS_3

Sunny pulang ke rumahnya sudah sangat larut, pemuda itu berjalan kaki menyusuri jalanan yang sepi.


Dua hari menemani papanya dan tidur dirumah sakit membuat otot-ototnya terasa remuk dan kaku.


Apalagi dua hari ini Aivy tinggal di WB, tante Ara tidak mengijinkan Aivy ikut-ikutan tidur di Rumah Sakit. Beberapa keluarga mereka siang tadi ada yang menjenguk papanya.


Tapi yang dikenali oleh Sunny hanya Rayden, Azmya dan Rasya. Aunty Numa dan kedua anaknya Sunny sama sekali tidak ingat, apalagi uncle Denis dan Natasya.


Untungnya saat mereka datang Sunny sedang memakai maskernya, kalau tidak entah apa yang terjadi.


Di belakangnya sebuah mobil berkaca gelap terus mengikutinya dengan pelan, mencurigakan.


" Ingat kita harus dapatkan dulu tanda tangan anak itu, setelah itu lenyapkan saja dia" Ucap salah satu dari para pria yang berada di dalam mobil.


" Itu rumahnya, sudah kita pelajari situasinya dua hari ini, tinggal kita bergerak sesuai komando.."


Mobil itu berhenti tidak jauh dari rumah Sunny. Dan akan mengawasi rumah itu sampai pagi.


Setelah membersihkan tubuhnya, Sunny merebahkan tubuh penatnya di kasur tipis miliknya.


Nyaman rasanya bisa tidur meluruskan pinggang. Karena dua malam ini dia harus meringkuk disofa rumah sakit yang jelas tidak bisa menampung tubuh tinggi tegapnya.


Matanya belum mau terpejam, padahal sudah hampir lewat tengah malam. Ponsel pemberian Almeer yang tergeletak di samping jaketnya berkedip-kedip membuatnya kembali bangkit, lalu merogoh tas ranselnya.


Sunny terlihat mengutak-atik ponsel itu untuk beberapa lama. Rupanya pemuda itu memasukkan data lamanya ke dalam ponsel itu.


Sunny membuka galeri, menatap satu persatu foto-foto Shanum yang hampir mendominasi isi galerinya.


Dielusnya foto-foto kebersamaannya dengan Shanum.



Rindunya begitu besar, melebihi besarnya gunung semeru. Ingin rasanya kembali nakal seperti beberapa malam lalu, menerobos masuk kesana. Tapi saat melihat-lihat status Aivy dan tanpa sengaja ada gambar Shanum yang begitu bahagia disana. Hati Sunny begitu ngilu..


" Aku begitu tersiksa dan terbelenggu rindu, dan kau begitu bahagia tanpa kehadiran ku...."


Tak tahan lagi, menahan rindu itu menyakitkan. Dengan ragu-ragu dan penuh keberanian Sunnypun menekan tombol panggil pada kontak Shanum.


Drtt...drtt...drtt


Shanum yang sudah terlelap hanya meraba-raba tanganya mencari ponsel di atas nakas tanpa membuka mata. Disisinya Bianca tidur begitu nyenyak, bahkan tak terganggu suara dering ponsel Shanum.


" Hemmm..ya...." Suara serak Shanum terdengar lemah dan sangat enggan membuka mata.


" Shan..." Suara maskulin ngebas diseberang ponselnya itu mampu membuat Shanum langsung duduk seketika, matanya terbuka lebar saat itu juga.


Dadanya berdetak begitu kencang, dua hari ini dia menahan diri untuk tidak bertanya pada Aivy akan keberadaan Binar. Tapi hati tak mampu berbohong, dia begitu merindukan Binar, sangat-sangat rindu bahkan ingin gila rasanya.


" Bin?" Ucapnya lirih, sebisa mungkin dia membuat suaranya sesantai biasanya.


" Ya babe, ini aku...... " Jawab Binar pelan.


Giginya mengigit bibir bawahnya kuat, menahan sesak yang begitu menyiksanya saat ini.


"Shanum I miss you..., I miss you like crazy even more than I can say, I miss you more than life Shanum .." Bisik Sunny tanpa mampu bisa menyembunyikan sesaknya.


Suara dari kata-katanya terdengar bergetar.


Bahkan Shanum pun bisa mendengar isak tangis Sunny saat ini. Tapi untuk ikut mengutarakan rasa rindunya yang juga teramat besar Shanum masih belum mau.


Dia membekap mulutnya dan menahan tangisnya, begitu kuatnya dia menahan sampai dadanya tersengal-sengal.


Tak mendengar jawaban apa-apa dari seberang sedari tadi membuat jantung Sunny bagai tertancap ribuan jarum.


" Babe, please forgive me, forgive me hu...hu...... Jangan hilangkan rasa dalam hatimu padaku, please. Sisakan rasa sedikit saja babe, walaupun itu hanya rasa benci..."


Biarlah, mau jatuh harga diri Binar di depan Shanum saat ini maka jatuhlah!!. Binar tidak peduli lagi dibilang cengeng atau apalah, sesak itu obatnya ya cuma nangis. Ngga makan gengsi-gengsian lah, demi maaf kekasih hati...


" Pokoknya babe, aku mohon jangan sampai mati rasamu padaku babe please...."


Shanum yang awalnya begitu pilu, karena mendengar ke-mellow-an suara tangis Binar tadi langsung menutup mulutnya erat dengan telapak tangannya.


Kata-kata Sunny terdengar menggelikan di telinganya.

__ADS_1


" Aku akan berangkat lusa..." Ucap Shanum berusaha tegar, sekuat tenaga dia menahan tangisnya yang sudah begitu menyesakkan dadanya.


Sunny meremat dadanya yang begitu sesak, ingin rasanya berteriak, ingin rasanya menyalurkan kesalnya, diujung bibirnya sudah terkumpul kosa kata kebun binatang saat ini.


Dia begitu kesal!!, bagaimana Shanum bisa seringan itu mengatakan hendak pergi tanpa ada rasa bergetar sedikitpun di nada suaranya.


Apakah semua itu benar?, bahwa Shanum tidak pernah mencintainya?.


Sunny memejamkan matanya, air mata meleleh di pipinya yang terlihat tirus karena kurang tidur beberapa hari ini.


" Bisa kita bertemu Shan..., untuk yang terakhir kali..." Pinta Sunny akhirnya.


" When?" Tanya Shanum singkat.


" Tomorrow..." Bisik Sunny.


" Okey.." Balas Shanum cepat karena tidak kuat lagi untuk menahan sesaknya sedari tadi.


" Tapi..., aku harap besok kita melupakan masalah kita dulu, sebelum kita berpisah aku ingin kita bersikap selayaknya masih menjadi sepasang kekasih"


" Itu karena aku akan meminta bayaran untuk setiap yang kuberikan padamu selama ini, rasaku, waktuku, cintaku, perasaanku, perhatianku, sentuhanku, ciumanku....semua harus kau bayar kontan besok...." Ucap Sunny dengan dada sesak luar biasa, air mata tak lagi dia hiraukan.


Pun Shanum juga begitu, tampang gadis itu begitu menyedihkan. Bahkan gadis itu menggigit erat gulingnya agar tidak terisak-isak. Setelah dirasa tidak kuat, gadis itupun berlari ke kamar mandi untuk melepaskan tangisnya disana.



Semua yang terjadi saat itu direkam jelas oleh mata dan pendengaran Bianca yang sebenarnya sudah terjaga sejak tadi, malam yang begitu sunyi membuatnya begitu jelas mendengar bahkan suara Sunny diseberang ponsel Shanum sekalipun.


Gadis itu hanya diam, mencoba memahami apa yang sedang terjadi dengan adik dan pacarnya itu.


Binar?, tentu dia sangat ingat. Enam bulan lalu dia juga bertemu dengannya di Surabaya.


Cowok yang dianggapnya bervirus karena selalu memakai masker sepanjang waktu.


Cowok yang mengatainya dengan sebutan 'ninja hatori', seperti Sunny pernah mengatai mmy Azuranya.


Kenapa dengan mereka?


Putuskah?


Aduh kasihan banget....


Dihhh, kok gue jadi ingat Gerald....


...***...


Pagi hari semua berkumpul di ruang makan.


Suara riuh terdengar, terutama Rayden dan Luigi yang selalu ribut sendiri. Sedangkan Almeer hanya fokus pada Aivy.


Saga, pemuda itu sedang berbahagia luar biasa, papa Vino memberinya ijin untuk tinggal di WB demi melanjutkan sekolah SMUnya di Jakarta bersama Rasya. Dan ya, tujuan mereka adalah SMU Bhakti.


Tidak masalah Almaeera ke pesantren, toh nanti dia bisa ikut mommy Ara saat penjengukan.


" Kak, maaf Saka lupa bilang sesuatu pada kakak..." Ucap Saka saat melihat Shanum dan Bianca menarik kursi untuk duduk didepanya.


Karena asyiknya berkumpul dengan saudaranya yang lain membuat Saka melupakan risau hatinya lima hari yang lalu.


" Memangnya kamu mau bilang apa?" Tanya Shanum pada Saka dengan nada yang begitu santai.


" Lima hari yang lalu ada seseorang yang mencari kakak kerumah.. "


" Iya siapa?" Tanya Shanum masih dengan cueknya.


" Brothy Sunny...."


Prang!!


Sendok yang dipegang Shanum terlepas, tubuhnya membeku seketika. Begitu juga mereka yang ada di meja makan. Terutama Marvel dan Shinee.


" Saka!!!, jangan bercanda!!" Bentak papa Vino.


" Saka nggak percanda pah..., sumpah!! Demi Allah pah.., kakak itu mengaku bernama Sunny..."

__ADS_1


" Diam Saka!!. Papa bilang diam!!!" Bentak papa Vino semakin menggelegar.


Prangg!!


Brukkk


Bunda Dian yang mendengar nama putranya disebut langsung menjatuhkan mangkuk rendang ditanganya.


Tubuhnya terhuyung ke belakang, untung saja ada uncle Ardi yang dengan gesit menangkapnya.


Marvel menatap Saka penuh selidik, sementara Shinee dan Shanum sama-sama mematung.


" Saka masuk kamar sekarang.." Ucap mana Vera menepuk pundak putra bungsunya, karena saat ini Saka tengah ditatap penuh selidik dan marah oleh para aunty dan unclenya.


Mereka mengira Saka hanya omong kosong saja.


Aunty Dian kini terbaring lemah di kamarnya, sementara ayah Marvel terus memeluknya erat.


" Wife...tenang, tenang ya sayang...." Ucap ayah Marvel yang kini harus kembali melihat istrinya yang menatap kosong ke depan.


" Maafkan Saka kak Dian..." Mama Vera menangis menciumi tangan wanita yang dianggap sebagai kakak pertama diantara mereka.


Setelah beberapa saat bunda Dian mulai tenang dan tertidur. Uncle Lenox mau tak mau harus menyuntikkan obat penenang padanya.


Ayah Marvel mengajak pada Vino untuk menemui Saka, melakukan pendekatan pada pria kecil yang baru lulus SD itu.


Saka terlihat mengigit-gigit kuku jempolnya karena takut akan bentakan papanya tadi, apalagi saat ini para uncle begitu tajam menatapnya.


" Saka, coba ceritakan pada uncle yang sejujurnya nak..." Suara serak uncle Marvel semakin membuat Saka blank.


Ruang baca yang luas seakan menjadi ruang interogasi bagi pria kecil itu.



Apalagi Shinee mulai bergerak mengusap wajahnya dengan tak terkendali.



Hati dan fikirannya begitu kacau saat ini.


" Saka berkata jujur uncle, kakak yang datang itu bilang namanya Sunny. Dia sangat mirip dengan brothy Shinee, sumpah uncle Saka tidak mengada-ada.."


" Kak Binarkah yang kau lihat Saka?, kak Binar juga mirip brothy mu..." Tanya papa Vino. Karena Binar juga mirip Shinee kan.


" Bukan pah, dia tidak menyebut nama lain. Kakak itu langsung bilang namanya Sunny. Tapi...." Ucap Saka masih berusaha mengingat lagi.


" Tapi?" Kejar uncle Marvel yang saat ini rasa jantungnya seakan ingin meledak.


" Tapi dia banyak bertanya tentang keluarga besar kita, dari pertanyaannya sepertinya dia banyak melupakan sesuatu.... Bahkan kakak itu beberapa kali menangis saat Saka perlihatkan foto uncle dan aunty.."


Degghh...


Nyut....


Hati uncle Marvel dan Shinee saat ini bagai dihantam batu besar.


Srukk ...


Brugh...


Shinee merosot dan terduduk sambil terisak-isak di depan pintu begitu saja.


" Aku sudah mengatakannya padamu ayah, berulang kali Shinee bilangkan. My brother ada diluaran sana. Jenasah itu bukan brother ayah....hu...hu..hu..."


Rayya mengusap air matanya yang tergenang, begitupun Denis.


" Apa kakak itu bilang padamu dia tinggal dimana Saka?" uncle Rangga ikut bertanya dengan suara yang juga serak.


" Tidak, tapi kakak itu bilang dia akan menyusul kak Sha ke Jakarta..."


" Kapan itu Saka?" Tanya papa Vino.


" Lima malam yang lalu pah, dan Saka juga memberinya alamat WB..."

__ADS_1


Uncle Lenox langsung berdiri dan memanggil penjaga melalui intercom.


Pria itu bertanya-tanya adakah pemuda mirip Shinee yang datang mencari Shanum. Tapi tak satupun penjaga yang mengiyakan.


__ADS_2