BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Aku Sunny, tapi....


__ADS_3

Tepat sebelum magrib dua mobil beriringan memasuki rumah mommy Ara.


Mobil-mobil itu berisikan para boy's and girls putra-putri genk somplak.


Para boy's, mereka terlihat buru-buru berlarian ke kamar mereka untuk mengambil sarung, peci dan sajadah, lalu keluar lagi menuju mushola yang tidak jauh dari rumah keluarga mommy Ara.


Seperti itulah yang diajarkan pada mereka, selama kaki masih bisa melangkah untuk pergi berjama'ah maka berangkatlah!!. Hanya wanita-wanita yang sholat dirumah.


Sementara Binar, daddy Rangga dan papa Sanjaya telah berangkat sedari tadi.


Mommy Ara mematung menatap jemari Aivy yang menyodor kearahnya setelah selesai jama'ah dimushola rumah.


Cincin cantik berwarna hijau melingkar dijarinya yang lentik, jelas mommy Ara mengenali cincin itu milik siapa sebelumnya.


MasyaAllah....


Putramu mengikuti jejakmu Bi...


Anak seorang daddy Rangga Bayu Wijaya, tingkah dan sifatnya begitu mirip daddynya.


Mommy Ara mengulum senyumannya melihat cincin hijau yang ada dijari telunjuk Aivy, masih terlihat longgar tapi untungnya bisa ditekan agar merapat.


" Kak Almeer yang ngasih ini sayang?" Bisik mommy Ara mendekati Aivy saat yang lain membuka Qur'an masing-masing.


" Iya tante, katanya cuma dipinjamin saja kok. Nanti harus Aivy kembaliin pas Aivy udah lulus SMP, katanya sih mau dijual kak Almeer untuk biaya kuliah keluar negerinya kelak...." Jawab Aivy polos.


Mommy Ara menutup bibirnya dengan mukenanya, tubuhnya bergetar menahan tawanya yang terpingkal-pingkal.


" Kenapa mom?" Tanya Almaeera setengah berbisik.


Mommy Ara membisikkan sesuatu pada telinga Almaeera, dan tidak lama gadis itupun ikut tertawa terbahak-bahak dibalik bahu mommynya.


" Kak Almeer bucin amat gila..." Desis Almaeera, dan mommy Ara hanya mengangguk kecil masih dengan tawa kecilnya


Rangga, dan para boy's memasuki rumah lewat samping seperti biasanya. Disususl Binar yang mendorong papa Sanjaya dibelakang mereka.


" Wah...ayam rica-rica!" Seru mereka bersemangat dan langsung menyerbu meja makan.


Disaat yang lain begitu bersemangat justru berbanding terbalik dengan Binar, pemuda itu terlihat tidak bersemangat dan lesu.


Dari cerita daddy Rangga tadi. Mereka, atau lebih tepatnya para genk somplak seolah yakin bahwa jasad yang ditemukan itu adalah Sunny.


Binar merasa percuma dia mengaku bahwa dirinyalah Sunny.


Lagipula sejauh ini dia hanya merasa dialah Sunny dari seringnya intensitas hadirnya kenangan masa lalu yang terus berkelebatan. Tapi untuk bukti, dia belum bisa memberikan yang kongkrit saat ini, karena ingatanya belum benar-benar kembali.


Bahkan mereka-mereka yang ada di meja makan ini saja Binar tidak tahu pasti seluk beluknya, selain nama mereka saja.


" Binar kenapa boy?, apa ada rasanya yang kurang?" Tanya mommy Ara ingin tahu mengapa Binar hanya diam.


" Ku rasa tidak sayang.., bahkan yang dimeja makan ini saja semua dia yang masak.." Sahut Rangga cepat.


" Wah...benarkah?, pantas saja rasanya beda gitu loh..." Ucap mommy Ara dengan menyuap lagi untuk meyakinkan ucapanya.


" Emm, iya mom...ini lebih enak dari masakan daddy.." Ucap Maureen keceplosan.


Daddy Rangga hanya membuat ekspresi pura-pura menangis, sehingga membuat semua yang ada di meja makan tertawa.


Tapi Binar tetap diam saja, pemuda itu seolah berada di dunia lain.


" Binar??, ada apa boy?" Tanya daddy Rangga lagi.

__ADS_1


" Emmm, maaf.... Hanya...hanya mikirin operasi papa besok.." Jawab Binar.


Papa Sanjaya mengelus pundak putranya seraya menggeleng tegas, berharap putranya tidak memikirkan terlalu jauh masalah operasinya besok.


" Kenapa di fikirin, percayalah pada tante, tugas kamu berdoa untuk kelancaran dan kesembuhan papamu..." Ucap Ara lembut dan menenangkan.


Binar mengangguk patuh, lagi-lagi matanya tak bisa lepas dari keterkagumanya pada mommy Ara.


Almeer yang melihat raut wajah daddynya yang cemburu hanya mengulum senyum.


๐ŸŽถTerpesona aku terpesona...


Memandang...memandang wajahmu yang manis....๐ŸŽถ


Sindir Almeer pada daddynya.


Rangga yang sadar disindirpun segera mengusap wajah Almeer dengan telapak tangannya gemas sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Udah dilabelin sertifikat halal loh, udah dilabelin hal milik juga, udah ada stempel paten juga masih begitu daddy mah..., posesif pisan euyy.." Lanjutnya lagi.


Dia heran dengan daddynya, sama om Lenox cemburu, sama uncle Marvel cemburu. Dan parahnya sama uncle Ardi yang kembaran mommy nya sendiri saja juga cemburu.


" Ckk, sekarang kamu masih bisa ngomong kaya gitu Meer, entar kalau hatimu udah di pegang seseorang, bucin guling-guling kamu..." Sambar daddy Rangga.


" Dan sepertinya itu sudah tuh..." Bisik Almaeera di samping telinga daddy Rangga pelan.


" Hah!!!, masa?" Rangga menoleh cepat pada putrinya.


Dan Almaeera pun memajukan dagunya menunjuk pada Aivy yang tepat di depan Almeer .


" Gila!!, pintar banget dia milih..." Bisik Rangga.


" Anakkmu kan emang begitu, spill kamu dia Bi..." Sahut mommy Ara tiba-tiba berdiri dibelakang daddy.



Setelah mengikuti prosedur yang berlapis-lapis, akhirnya papa Sanjaya masuk ke ruang operasi. Binar dan mommy Ara menunggu di luar ruangan.


" Operasi syaraf itu akan lama boy, kamu bisa jalan-jalan dulu menghilangkan bosan, disamping RS ada mall loh..." Ucap mommy Ara.


" Nggak usahlah tante, Binar menunggu disini saja..." Jawab Binar.


" Yakin?, nggak pengen cariin poster buat Sha?" Pancing mommy Ara.


Binar terkejut, kok bisa ya mommy Ara tahu kalau Shanum pesan poster.


" Nggak usah terkejut begitu boy, kami udah langganan dengan permintaan sha. Tiap kami akan ke Surabaya pasti Sha heboh minta buat bawaain poster hi..hi...hi..." Mommy Ara tertawa kecil dengan menutup mulutnya.


" Tante, apa Sha eh maksudnya Cahaya benar-benar sudah tunangan dengan Sunny.." Binar merasa harus banyak menggali lebih banyak tentang Sunny, entah kenapa dia yakin dia Sunny, tapi...


" Sunny itu ponakan tersayang tante, dia itu nakal, usil, super aktif dan begitu menggemaskan. Apa kau tahu?, waktu tante akan melaksanakan acara resepsi pernikahan tante dengan om Rangga. Dia bilang akan menjadikan tante pengantinnya kelak. Tapi begitu dia melihat Shanum...hemmmm, dibuang kemana entah janjinya pada tantenya ini Hi...hi...hi..." Tawa Ara pecah lagi saat mengingat Sunny.


" Kalau pertunangan mereka?" Kejar Binar.


" Iya tentu saja sudah, Sunny kami itu tumbuh dewasa di negara yang bebas. Ayah bundanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sunny terkesan easy going dan santai, dia mudah menyerap dan meniru apapun yang dilihatnya. Tapi dia tangguh dan pemberani. Diusianya yang kedua belas tahun, atau tepatnya setelah dia mendapatkan kedewasaannya, dia dengan berani meminta kepada Kak Vino dan Vera untuk menikahi Shanum..." Lagi-lagi mommy Ara bercerita sambil tertawa kecil mengenang begitu antik dan uniknya si Manggala Sunny Putra Marvellino Syahril.


" Hah????" Binar membuka mulutnya lebar, syok akan ucapan mommy Ara.


Gila!, seperti itukah Sunny??


Gilla!, masa sih!! Yang seperti itu adalah diriku?

__ADS_1


" Terkejut kan?, begitulah Sunny. Ponakan nakalku itu begitu penuh keunikan sendiri. Kalau artis, pasti sudah dilabeli artis penuh kontroversi hi...hi...hi.."


" Sunny itu seperti buah durian Bin, kasar dan keras diluarnya. Tapi dia begitu lembut dan penuh kasih di dalamnya.."


" Sunny kami pantang menangis di depan kami, eh..tapi pernah dia sekali menangis terang-terangan di depan kami dan itu hanya gara-gara Shanum terkena cacar yang membuat wajah cantik putri tante itu penuh bintik merah.... Dan apa kau tahu?, Sunny dengan tidak takutnya tertular terus saja mendekati, bahkan tante yang dokternya saja tersingkir oleh tingkahnya yang sok jadi perawat hebat..." Lanjut mommy Ara dengan masih tertawa kecil.


" Aduh...urat pipi tante jadi narik nih gara-gara ghibahin Sunny" Mommy Ara menepuk-nepuk kedua pipinya pelan.


"Semoga dia selalu berbahagia di surga. Alfatihah buat Sunny..." Mommy Ara menundukkan kepalanya dan berkomat kamit.


Nyesek...


Nyeri...


Ngilu sampai ke ulu hati.


Dia ada disini..., dihadapan aunty princessnya.


Tapi tak ada yang mengetahuinya, dan dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Untuk mengakuinya saat ini, Apa ada yang percaya?


Mereka terlampau bersinar, terlampau tinggi, tak mungkin dapat Binar gapai.


Bagaimana tidak tinggi dan bersinar.


Hampir lebih dari sepuluh perusahaan besar bergabung menjadi satu. Kerajaan bisnis raksasa yang dikelola genk somplak luar biasa besarnya.


Daddy Rangga saja selain dosen, youtuber dan blogger, dia juga pengusaha properti yang melanjutkan bisnis opa Hendrawan Wijaya.


Sedangkan mommy Ara sendiri, selain dokter dia masih memiliki tiga hotel di Indonesia, Brunei dan Jeddah.


Belum lagi kedua kakaknya.


Ayah Marvel lain lagi, selain dokter dia juga seorang businessesman pewaris perusahaan Syahril. Usaha Garment mereka sudah menjamur dimana-mana. Tak hanya di Indonesia saja tapi juga diluar negeri, distro mereka selalu ramai dimanapun berada.


Sedangkan bunda Dian, di Chelsea dia memiliki klinik hewan yang ternama dan memiliki banyak pelanggan.


Nah itu saja baru mereka berempat, belum sahabat-sahabat lain mereka. Dan ingat dibelakang mereka ada Gama Bagaskara, pengusaha nomor wahid yang selalu nongol di sampul majalah bisnis dalam ataupun luar negeri.


Beranikah Binar mengaku sebagai Sunny disaat ingatannya belum sepenuhnya pulih.


Tidaklah itu akan menimbulkan kecurigaan..


Sabar, mungkin itu kata yang tepat untuk membalut rasa kesalnya saat ini.


Binar kesal, dan marah. Sebab apakah sampai saat ini dia tidak ingat apa-apa, dan karena apa dia kehilangan masa lalunya.


" Nah Bin, tante keruang tante dulu ya.... Kalau kamu bosan jalan-jalan saja dulu.., mungkin dua jam lagi baru selesai.."


Mommy Ara menepuk pundak Binar saat mulai berdiri.


Binarpun mengangguk dan berfikir sejenak.


Betul juga, masih dua jam lagi. Nyari sesuatu deh buat Shanumku...


Binar melangkah ke pintu keluar samping RS yang langsung terhubung ke Mall yang sangat besar.



Tidak tahu saja Binar Mall itu milik siapa. Yess!!, Mall besar itu adalah milik Rayden Galananta Pramana, putra Denis Pramana Putra si kecil Jenius bisnis yang menuruni otak encer papanya.

__ADS_1


Hasil ketekunan dan kegigihan selama bertahun-tahun tidaklah menghianati hasil. Usaha yang dirintis genk somplak dari bangku SMU menunjukkan buahnya.


Dan saat inilah saatnya menikmati itu semua.


__ADS_2