BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Iblis yang manis..


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Binar melangkah keluar ruangan setelah selesai sholat Maghrib. Arnov, Roy, Ayu dan Alexa mereka sudah pulang. Sampai detik ini Binar benar-benar tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


Shanumpun bingung harus memulai pembicaraan dari mana, jujur Shanum benar-benar syok berat. Takut salah bicara sedikit saja bisa memperkeruh suasana, karena dia sangat tahu bahwa saat ini hati dan perasaan Binar sedang tidak baik-baik saja.


Dahulu dia pernah melihat uncle Marvel menggila saat penculik Sunny tertangkap, waktu itu untuk pertama kali dalam hidupnya Shanum melihat seseorang membantai orang lain. Tapi itu tidak lebih mengerikan dibanding menggilanya Binar hari ini.


" Mau kemana?" Tanya Shanum cepat sebelum Binar menutup pintu.


" Menemui papamu" Jawab Binar tanpa menoleh.


" Buat apa?" Tanya Shanum cepat.


" Gue harus ngomong sejujurnya, apa yang terjadi pada lo akibat keteledoran gue..." Ucap Binar dengan menutup pintu.


Belum juga lima langkah Binar berjalan, Shanum sudah memeluknya dari belakang.


" Jangan Bin, kumohon jangan bilang yang sebenarnya ke papaku. Bilang saja kita jatuh dari motor.." Pinta Shanum.


" No!! Binar tidak pernah berbohong!" Ucap Binar lagi.


" Dan gue juga bukan pecundang yang lari dari tanggungjawab.." Lanjut Binar.


Shanum kembali mengeratkan belitan tanganya diperut Binar.


" Bin, kita bicara dulu di dalam yuk..." Shanum menarik tubuh Binar kebelakang, masih dengan memeluknya dari belakang. Kini mereka mirip anak TK yang bermain kereta api-an tapi mundur kebelakang.


Ceklek.


Shanum menendang pelan ujung pintu ruangan dengan satu kakinya.


Perlahan Shanum berbalik badan menatap Binar.


" Aku tidak menyuruhmu berbohong Bin. Tapi keluarga ku tidak seperti keluarga lain"


Shanum merangkum kedua pipi Binar untuk sedikit menunduk agar menatapnya.


" Jika terjadi sesuatu padaku, maka tidak hanya papaku yang turun tangan. Tapi semua uncle ku akan bergerak. Belum lagi semua adik-adik lelakiku, mereka akan ikut turun tangan dengan cara mereka sendiri.."


Shanum yang berusaha menenangkan Binar tidak segan-segan berjinjit untuk mengecup kening Binar. Dia mempelajari ini dari aunty Dian yang selalu mampu meredam amarah uncle Marvel yang selalu mudah meledak seperti Binar ini.


Bagaimanapun caranya, bagi Shanum Binar harus tenang dulu. Karena sedari tadi perasaan Shanum tidak enak. Shanum takut Binar akan meledak lagi.


Dengan hanya dia sedari tadi saja Shanum sudah sangat frustasi.


" Bin...." Shanum kembali mengusap rahang tegas Binar, karena pemuda ini sama sekali tidak merespon ucapanya.


" Tidak!!, aku harus jujur pada papamu.." Binar kembali berbalik badan dan hendak membuka pintu kembali.


" Bisa tidak kamu sekali saja nurut padaku babe!!" Teriak Shanum.


Tangan Binar yang berada di gagang pintu tiba-tiba terlepas begitu saja.


Tubuhnya mematung kaku didepan pintu, dadanya meletup-letup seolah ingin memuntahkan lahar dan meledak.


Shanum memanggilnya babe?.


Cahayanya tidak membencinya?.


Binar meraba keningnya, sesaat lalu kening ini juga dikecup Shanum. Kegundahan hati akan ketakutan dibuang Shanum membuatnya tidak sadar dan linglung.


" Cahaya..." Panggil Binar masih menghadap pintu, membelakangi Shanum.


" Apa kamu membenciku?" Ucapnya sambil menunduk.


Grebb


Shanum kembali memeluk Binar dari belakang.


" Kenapa harus membencimu?" Tanya Shanum, bibirnya begitu hangat menempel di punggung Binar.


" Karena aku ini iblis..." Sahut Binar, matanya terpejam menahan kekesalan kepada dirinya sendiri.


" Iblis?, kalau iblisnya semanis ini, apa aku bisa tahan?..hemmm?" Shanum menggesekkan hidungmu di punggung Binar.

__ADS_1


Entah dari mana datangnya keberanian Shanum, tapi sejak berada dalam sekapan Miko. Shanum merasa ketakutan tidak bisa memberikan yang terbaik untuk seseorang yang mencintainya dan dicintainya.


Saat Miko berusaha menyentuhnya, apalagi Miko yang maksakan diri untuk mencium bibirnya, Shanum terus melawan. Karena pada saat itu yang ada diotaknya hanya Binar!!, yang boleh menyentuhnya hanya Binar. Entahlah kenapa wajah Binar yang muncul..


Dan kenapa bukan Sunny?, kemana Sunny pergi?


Binar berdebar tidak karuan, ketakutanya akan dibuang Shanum ternyata hanya ada difikiranya sendiri.


Dengan cepat Binar berbalik badan dan langsung memeluk erat Shanum.


" Kau benar-benar tidak benci aku?" Bisiknya. Shanum menggeleng sebagai jawaban.


Binar menggigit bibirnya begitu bahagia.


" Apa berarti kau sudah mencintaiku?" Tanyanya lagi.


Wajahnya menunduk menatap wajah Shanum yang menengadah menatapnya.



Tapi rupanya pertanyaannya terlalu terburu-buru, karena Binar bisa merasakan begitu tersentaknya Shanum. Dan gadis itu hanya membisu dan menunduk.


Binar memejamkan matanya, tapi kedua tanganya justru semakin mengeratkan pelukanya.


" Nggak papa..., aku akan terus menunggu..." Bisiknya tepat di telinga Shanum.


Diangkatnya pipi kedua sisi pipi Shanum lagi untuk menatapnya.


Bibir pink dan seksi Binar begitu menggoda, membuat Shanum menelan ludahnya berkali-kali.


Sementara fokus tatapan Binar justru pada luka-luka diwajah Shanum.


Wajah Binar semakin mendekat, bibirnya mengerucut.


Dada Shanum seolah berhenti, nafasnya juga tiba-tiba sesak. Blank sudah.


Secara naluriah gadis itu memejamkan matanya, dan parahnya Shanum memonyongkan bibirnya pula.


Mau tidak mau Shanum membuka sedikit matanya.


Serrrrr....


Rasa malu merasuk mengalir diseluruh nadinya saat ini.


Rupanya Shanum salah paham, Binar mendekati wajahnya dan mengerucutkan bibirnya hanya ingin meniupi luka-lukanya.


Shanum yang malu segera melipat bibirnya, matanya melirik kesana kemari menyembunyikan rasa kesalnya. Gadis itu kesal karena merasa telah di prank oleh Binar.


Binar yang juga tahu banget apa yang sedang dirasakan Shanum hanya berpura-pura menoleh kesamping, sekedar menyembunyikan rasa geli dan ingin tertawa atas sikap Shanum barusan.


" Kenapa?" Tanya Shanum jutek.


" Nggak papa..." Binar tertawa kecil, karena tidak sanggup menahan rasa geli akan keimutan Shanum.


" Kamu ngetawain aku?" Shanum berkacak pinggang marah.


" Hhh ha..ha..ha..." Binar tak mampu lagi menahan tawanya.


" Kau ini!!, menyebabkan!!" Shanum menghentakkan kakinya geram.


" Hey..hey...babe... Look at me!. You wanna kissing with me?" Olok Binar dengan masih tertawa.


" Kau....., beraninya ka---" Ucapan Shanum terhenti, jari jempol Binar telah menyumpal bibir Shanum.


Binar mengusap perlahan-lahan bibir Shanum menggunakan jempolnya, tatapan matanya menatap ingin pada bibir Shanum yang lembut.


" Aku ingin...., ingin sekali malah. Kau tidak tahu saja perjuanganku menahan diri. Tapi...aku akan menciummu jika kau sudah benar-banar mencintaiku.." Binar menundukkan wajahnya, menyatukan keningnya dengan kening Shanum.


" Saat ini hanya aku yang mencintaimu, tapi aku yakin lambat laun kau pasti akan mencintaiku..."


Ceklek..


" Kak Sha...."

__ADS_1


Kemunculan Saya membuat keduanya langsung melepaskan pelukan satu sama lain, dan menjauh secara otomatis.


Masing-masing bertingkah canggung dan salah tingkah.


" Apa yang terjadi?, kak Ayu bilang kalian jatuh dari motor?" Saga memutar-mutar tubuh kakaknya.


" Mana yang sakit?, apanya yang sakit?" Saga terlihat begitu khawatir.


" Nggak ada yang sakit kok.." Shanum merangkul Saga dan menarik nya dalam pelukannya.


" Nggak usah cemas begitu, kakak nggak kenapa-kenapa kok" Shanum mengecup pucuk kepala Saga.


" Tapi kakak dirawat?"


" Nggak, om Bastian yang sengaja menahan kakak tinggal di sini. Om Bastian takut papa ngamuk jika melihat luka-luka kakak.."


Binar yang mendengar itu menundukkan kepalanya, malu karena tak mampu menjaga kekasihnya.


" Papa dan mama nggak ada dirumah, mereka langsung ke Malang, kakek buyut kurang sehat. Saga jaga kakak disini saja.." Saga melirik Binar yang sedari tadi melirik kakaknya.


Saga bukan anak polos yang nggak tau gesture tubuh seseorang. Saga taulah, apa yang akan terjadi jika dia tidak muncul tadi. Pasti kakaknya dan Binar akan berciuman.


" Kak Binar pulang aja nggak papa, ada Saga kok yang jaga kak Sha..." Ucap Saga menatap pada Binar.


" Eh...emmmm, iya nanti saja.." Sahut Binar kikuk.


Saga bersiap duduk di tepi ranjang. Tapi tak lama remaja tampan itu menepuk keningnya pelan.


" Duh, ponsel Saga ketinggalan dimobil, bentar kak! Saga ambil ponsel dulu.." Saga berlari keluar ruangan dengan cepat.


Shanum melirik ke arah Binar, Binarpun rupanya juga sama.


Mereka tersenyum sambil menunduk malu-malu.


" Kamu mau aku disini atau pulang?" Tanya Binar pelan, saat ini mereka ada di balkon RS.


" Hemmm...mau jawaban jujur atau bohong?" Tanya Shanum dengan tersenyum jahil.


" Yang bohong deh..." Sahut Binar dengan tersenyum disela merokoknya.



" Bohong jika aku ingin kamu pulang..." Jawab Shanum seperti bergumam.


" Hemmm?" Binar mengakat dagunya, meminta jawaban yang jelas.


" Apa?, aku nggak dengar..." Protes Binar.


" Sayang sekali, nggak ada siaran ulang..."


Shanum beranjak masuk ke dalam, tapi Binar menangkapnya dari belakang.


" Aku nggak mau pulang, tapi nggak enak ada Saga.." Bisiknya ditelinga Shanum.


" Semenjak pertama melihatmu di pos sekuriti SMU Putra Bangsa dua bulan yang lalu. Sejak saat itu aku susah terpejam. Wajahmu seakan lengket di kelompak mataku..."


" Hanya saat aku tidur denganmu dua malam lalu, walaupun cuma sebentar, aku merasakan tidur yang sebenarnya. Begitu nyaman..." Bisiknya lagi.


Shanum berbalik badan, digenggamannya kedua tangan Binar, lalu dikecupnya.


" Gimana caranya mengusir Saga..." Ucap Shanum dengan tertawa kecil.


Binar ikut tertawa dan menyentil dahi Shanum.


" Kamu mulai nakal..." Ucapnya.


" Kan kamu gurunya..." Sahutnya.


Brak...


" Kak...sorry!!, Saga nggak bisa temenin kakak disini. Aldo mau tidur di rumah kita, ayah ibunya keluar kota. Gimana dong?" Saga terlihat bingung.


Sementara dalam hati Binar begitu bersorak-sorai kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2