
"Disini aja lah bentaran, ntar kalau sudah mau subuh gue baru pindah ke sofa..." Gumam Shinee dengan mata yang mulai terpejam karena sudah begitu berat dan mulai membaringkan dirinya di samping Ayu Andira, istrinya.
Shinee yang memang tidak bisa tidur dengan memakai bajupun mulai gelisah setelah beberapa saat.
Sama seperti halnya Sunny, Shinee juga selalu bertelanjang dada saat tidur. Dengan mata yang masih terpejam Shinee membuka seluruh kancing piyamnya, lalu melemparkan bajunya begitu saja.
Ayu yang gelagapan ketika merasa ada sesuatu yang menghalangi sirkulasi pernafasannya segera membuka mata.
Ternyata piyama Shineelah yang menutupi wajahnya.
Piyama itu begitu harum, seperti aroma tubuh Shinee yang manis dan maskulin. Ayu berdebar saat mengingat begitu terlenanya dia di malam itu saat mencium aroma harum tubuh Shinee.
Ayu terbelalak kaget saat mendapati dirinya berada di kasur. Apalagi saat menoleh kesamping, Shinee tidur nyenyak dengan tubuh atas yang terbuka.
Glek!!
Ayu menelan ludahnya dengan susah payah.
Gadis itu segera berpaling, tak mampu menatap tubuh Shinee yang begitu indah di matanya. Ayu sangat ingat betul betapa halus dan kenyalnya dada dan perut Shinee.
Gadis itu menurunkan kakinya hendak pindah ke sofa, tapi baru juga tubuhnya mulai beranjak suara petir dahsyat terdengar dari luar rumah.
Duaaaarrrrr!!!!
" Argghhh Shinee..."
Brugh!!
Ayu meloncat kembali ke kasur dan meringkuk di bawah ketiak suaminya itu.
" Ap...apa?, ada apa?" Tanya Shinee ikut kaget, dan segera duduk. Shinee mengucek matanya yang berat sementara dia juga belum sadar betul dengan apa yang terjadi.
Duuarrr!!...Duaarrrr!!!
Suara petir bersahut-sahutan diluar sana.
" Shinee, sini!!" Ayu melingkarkan kedua tangannya di perut Shinee agar kembali berbaring.
Brugh..
Shineepun menurut saja, tangan Ayu begitu bergetar, gadis itu menyembunyikan wajahnya di samping perut Shinee.
Duaaarrrr!!!
" Akkhhhh" Ayu semakin mempererat pelukanya pada perut pemuda itu.
" Kalau denger petir gitu harusnya berdoa, bukan teriak-teriak kaya gitu..." Ucap Shinee pelan dengan kembali memejamkan mata, membiarkan tangan Ayu berada diperutnya. Nyaman..
" Nggak sempet Shinee udah keburu terkejut" Sahut Ayu masih terus memeluk Shinee.
Ayu masih terus memeluk tubuh Shinee untuk beberapa waktu, dan Shineepun membiarkannya.
" Aku nggak tau doanya saat denger petir itu kaya gimana.." Bisik Ayu setelah mulai tenang, petir juga sudah mulai berkurang menyisakan hujan yang begitu lebat.
Shinee hanya tersenyum kecil, sudah tidak ada lagi getaran di tangan Ayu seperti tadi, sepertinya gadis itu mulai tenang.
" Duduk dulu yuk, mana bajuku tadi...?" Tanya Shinee sambil celingukan. Perlahan pemuda itu duduk bersila, dan diikuti Ayu yang meraih piyama Shinee yang telah dilipatnya diatas nakas.
" Nih bajunya..., lagian kan bisa ditaruh disitu, bukanya dilempar di wajahku.." Gerutu Ayu kesal.
Tapi aroma wood parfum Shinee begitu manis dan menggoda, membuatnya ingin terus menciumi baju Shinee.
" Siniin bajunya!, lagian orangnya ada disini kenapa bajunya yang diciumin, kenapa nggak orangnya aja..." Sindir Shinee.
" Ehhh!! Paan sih!! Orang aku cuma suka aromanya doang..." Sahut Ayu cepat. Dilemparkannya piyama itu dengan kesal di pangkuan Shinee.
" Heleh!! Alasan, bilang aja suka dengan yang pun----" Balas Shinee sambil memakai bajunya.
Duuuarrrr!!!
" Akkkhhhhhh" Jerit Ayu.
__ADS_1
Petir kembali terdengar begitu dahsyat.
Shinee segera menarik Ayu yang gemetaran ke dalam pelukannya.
" Jangan teriak!!, doa Ayu, baca doa...... Ishh jebol lama-lama telingaku..." Sambil berucap Shinee menengadahkan tanganya ke langit lalu berdoa.
Allahumma la taqtulna bighodobika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika.
Ayu hanya diam dan mengaminkan.
Rasanya enggan melepaskan diri dari Shinee, tapi untuk seperti ini terus rasanya malu.
" Hoamm, mau pelukan gini terus?. Sambil tiduran yuk, ngantuk aku..." Keluh Shinee.
" Akhh, sorry Shinee sorry..." Ayu langsung melepaskan pelukanya dan beringsut menjauhkan posisinya dari suaminya itu.
" Huffttt.." Shinee menghembuskan nafasnya kesal.
Ada rasa kehilangan saat Ayu kembali menjauhinya, ada sudut hampa dalam hatinya.
" Kamu tidurlah disini, aku saja yang tidur di sofa.." Ucap Shinee dengan nada sengak.
Ayu tersentak kaget, matanya yang bulat langsung menatap pergerakan Shinee.
Loh, kok dia marah?, aku salah apa?
Karena sudah mengganggu tidurnya ya?.
" Shinee kamu marah?" Tanya Ayu pelan.
Tak ada jawaban dari pemuda itu, tanganya sibuk memunguti bantal dan selimut.
" Shinee...maaf jika aku sudah mengganggu tidurmu... Aku ada trauma dengan hujan dan petir seperti ini Shinee, bapakku meninggal disaat hujan dan petir seperti ini, saat itu bapakku sedang berusaha menyelamatkan papa Hanggara".
" Pencuri berhasil membobol rumah malam itu, bapakku bahkan sampai-sampai mengorbankan dirinya sendiri. Demi melindungi harta benda milik juragannya, bapakku melawan pencuri hingga titik darah penghabisan"
" Jadi aku mohon padamu, jika aku sedikit bertingkah konyol seperti tadi tolong kamu sedikit memahaminya Shinee..." Cerita Ayu.
Gadis itu merasa tidak nyaman karena sudah mengganggu tidur Shinee.
Aku kan cuma kesal dia lepas pelukanya gitu aja..., aku kan jadi merasa dicampakkan.
Hanya akan dipakai jika diperlukan! Duh! Mana hujan deras kaya gini...dingin tau Yu...
Gini amat jadi pengantin baru, ya nggak harus naninu juga! Minimalnya kelonan kek...
Di suratnya aja ngakunya cinta banget sama aku, giliran dikawinin akunya dianggurin kek gini..
Brugh!!
Shinee melemparkan tubuhnya disofa dengan kesal. Kedua tanganya dilipat sebagai bantalnya dan langsung memejamkan mata.
Melihat itu semua Ayu jadi benar-benar menyesal telah bertingkah impulsive seperti tadi, tapi beneran Ayu sangat takut dengan petir. Bahkan sampai saat ini saja tubuhnya masih bergetar seperti orang menggigil.
" Shinee...."
" Hemmm..."
" Kamu marah?"
Tidak ada jawaban dari Shinee, suami dari Ayu Andira itu hanya memejamkan matanya, tapi fikiranya melayang kemana-mana.
Kenapa aku harus semarah ini?
Tapi pelukan Ayu memang membuatku nyaman..
Dan saat aku memeluknya, aku juga merasa damai...
Apa aku terlalu rakus?, apa ini namanya aji mumpung?
...***...
Seharian ini Sunny mondar-mandir ke kedutaan untuk melengkapi berkas-berkasnya. Sedangkan bunda dan Shanum berada di kamarnya untuk menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa Sunny. Tiket sudah diurus oleh uncle Brian, dan Sunny akan terbang dini hari nanti.
__ADS_1
Tengah hari Sunny baru bisa bernafas lega setelah semua berkasnya telah lengkap dan beres. Pemuda itu segera mamacu mobilnya seperti pembalap profesional menuju White Base.
Kebersamaannya dengan Shanum tinggal dalam hitungan jam. Dia sangat ingin mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Karena perpisahan ini akan sangat lama.
Tiga tahun adalah waktu yang paling singkat untuk berada di camp pelatihan. Itu jika dia bisa melewati semua dengan nilai sempurna. Jika tidak, maka waktu yang dihabiskan bisa semakin bertambah lama.
Apalagi setiap prajurit hanya diberikan masa cuti yang hanya satu bulan dan harus kembali lagi untuk melanjutkan pendidikannya selama dua tahun lagi, bedanya prajurit bisa tinggal diluar camp setelah melewati masa pembelajaran full di tiga tahun awal.
Apa aku bisa bertahan Shan....
Bagaimana jika rindu ini membunuhku Shan..
Ya Tuhan..., sudah tepatkah pilihanku ini..
Tak berselang lama, mobil memasuki gerbang White Base, tapi Sunny berubah fikiran untuk memarkirkan mobilnya. Ada tempat yang ingin ditujunya bersama Shanum.
Sunny mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shanumnya.
" Hallo Assalammualaikum sayang..." Suara lembut Shanum terdengar dari dalam ponsel barunya yang dibeli beberapa saat lalu. Ponsel lama pemberian Almeer memory nya hampir jebol karena tiap hari dipergunakannya untuk merekam seluruh aktivitas Shanum.
" Waalaikumsalam yang.., turun yang.. aku udah di bawah..." Sahut Sunny cepat.
" Tapi aku lagi siapin perlengkapan kamu yang..." Balas Shanum.
" Itu bisa nanti, biar aja. Kalau ada yang kurang bisa beli disana. Cepetan turun yang..." Ucap Sunny memaksa.
Shanumpun akhirnya buru-buru mengepak semua koper Sunny yang memang tinggal ditutup saja.
Gadis itu berlarian menuruni tangga dan menuju taman belakang.
" Sunn....." Panggilannya saat tak mendapati Sunny disana.
Padahal tadi Sunny bilang menunggunya di taman belakang.
" Heyy princess...I'm here...."
Shanum langsung menoleh kebelakang, dimana Sunny berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di jendela.
Gayanya benar-benar mengingatkan Shanum dengan sosok Sunny kecil yang selalu usil dan membuatnya manangis. Tapi sosok itulah yang mampu dicintainya sampai selama ini.
" Ada apa?, kenapa wajahmu sedih begitu yang..." Shanum mendekat dan meraih kedua tangan Sunny untuk dikecupnya.
" Apa berkasmu ada yang tidak lolos?, ditolak?, ada apa yang?" Tanya Shanum bingung dan ikut cemas.
Sunny masih tetap tidak menyahut, dia hanya menatap lekat wajah cantik sang tunangan. Tapi detik berikutnya pemuda itu menarik Shanum kedalam dekapanya dan memeluknya erat.
" Aku ingin menikah sayang, aku ingin menikah sebelum pergi...." Bisik Sunny.
Shanum melotot tak percaya, di pukulnya pelan pundak Sunny gemas.
" Jangan gini lagi dong yang.....Kita kan sudah sepakat?, jika saat itu tiba aku yang akan berlari menggapaimu sayang...aku janji..." Bisik Shanum.
Sunny semakin mengeratkan pelukanya bahkan sampai-sampai mengangkat tubuh Shanum lalu mengayunkannya pelan ke kiri ke kanan.
" Aku pasti akan didera rindu yang luar biasa sayang...." Bisik Sunny.
" Dan akupun pasti sama Sunn..." Balas Shanum.
" Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, bersiaplah..." Sunny mengecup kening Shanum.
" Kemana?"
" Kerumah papa, aku ingin mengajakmu pamitan padanya..." Sunny kembali melingkarkan kedua tangannya ke perut Shanum.
Sumpah jika menangis itu tidak memalukan baginya, rasanya Sunny pengen nangis kejer saat ini.
Setelah bersiap-siap mobil merekapun meluncur ke perumahan komplek mommy Ara dimana Sunny memindahkan papa dan Aivy kesana.
Selain itu papa juga dipekerjakan sebagai salah satu staff penting di Al-ghifari company.
Mengingat jasa beliaulah Sunny masih bisa berada di tengah-tengan keluarga besar itu, bahkan Ayah juga sudah memohon maaf lahir batin untuk semua kesalahan pahaman yang terjadi diawal terbukanya identitas Sunny.
__ADS_1
Tapi sayang, sampai hari ini mama Ganis dan Lyra belum juga tertangkap. Mereka masih berada di persembunyian mereka di luar negeri bersama Crystal.
...πΉ...