
Tring..
Lagi-lagi bunyi notifikasi pesan masuk diponsel Shanum, dan si biang keroknya tetaplah Binar Buana Sanjaya.
" Ck, dia ini nggak belajar apa?, dari tadi chat terus.." Geram Shanum.
" Kok lo kaya nggak seneng gitu dapat WA dari Binar.." Bisik Ayu yang ada dibangku kanannya.
" Males gue, dia chat nggak kenal waktu" Balas Ayu.
" Tapi Binar sweet banget ya..., kirain mah cowok cool modelan dia bakalan flat kalo pacaran. Hambar gitu..." Bisik Alexandria yang dari kirinya.
" Dia lebih dari sweet, bahkan aku sampai diabetes tahu nggak kalian?" Bisik Shanum lagi.
" Maksud lo?" Tanya keduanya.
Shanum membuka room chat nya dengan Binar, lalu menunjukkan betapa bucinnya Binar di chatan mereka.
" Gila....merinding gue. Apa rasanya Ay?" Tanya Alexa.
" Rasa apa?" Shanum menggendikan bahunya pelan.
" Rasa dicintai sebesar itu oleh Binar?" Terang Alexa.
Shanum sedikit salah tingkah, tapi secepatnya gadis itu menutupi perasaannya yang sebenarnya dengan menarik nafasnya dalam-dalam.
" Aku nggak perduli, kan kalian tahu perasaanku kaya gimana?. Disini hanya ada Sunny.." Jawab Shanum mantap dengan menusuk dadanya.
" Tapi Ay... Binar?, lo nggak mikirin perasaannya apa?, lo tega banget..." Alexandria menatap tajam pada Shanum.
" Kan aku udah bilang, aku hanya akan melingkupi Sunny!. Arahku, tujuanku, Cita-cita dan cintaku hanya Sunny.... Tapi Binar memaksakan diri!, resiko dialah!. Trus dimana letak tega yang kamu pertanyakan Lex?. Masih bagus gue masih membuka diri padanya..." Jawab Shanum panjang lebar.
" Lo sama sekali nggak tertarik padanya Ay?" Tanya Ayu.
" Nggak!!"
" Walaupun cuma sedikit?" Tanya Ayu lagi penasaran.
" Nggak ada untuk Binar, hanya mungkin karena wajahnya mirip. Aku kadang menganggapnya sebagai Sunnyku... Yahh..., aku tau ini salah..dan karena itulah perlahan aku harus menjauh darinya..." Ucap Shanum sendu.
Ayu dan Alexa terdiam mendengar isi hati Shanum.
Mereka menghela nafas berat, memang tidak ada yang bisa memaksakan cinta. Karena cinta datang dari dalam hati yang paling dalam. Hanya Tuhan yang bisa menggerakkannya, kemana cinta akan berlabuh.
Bel tanda berakhirnya sekolah hari ini sudah berbunyi sejak tadi, tapi tripel A saat ini masih saja asyik ngerumpi di dalam kelas. Sampai panggilan berulang-ulang Binar pada ponselnya membuat Shanum beranjak berdiri.
" Apa sih dia ini!!" Sentak Shanum malas mengangkat ponselnya.
Alexandria dan Ayu melirik sekilas, ada nama Binar di tampilan layar ponsel Shanum.
" Angkat aja kenapa sih Ay, kasihan loh dianya..., pasti khawatir dia.." Ayu mengusap lengan Shanum pelan.
__ADS_1
Shanum menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dia tidak mau menghianati Sunny, dia sadar ada setitik rasa di hatinya untuk Binar saat ini. Sejak Binar menurunkannya di depan gerbang sekolahnya tadi sebenarnya Shanum sudah memantapkan hati untuk mengakhiri ini.
Ini semua salah, Binar begitu meresahkan. Binar pemuda yang tidak bisa diremehkan. Binar pemuda tangguh yang tidak mudah roboh. Kegigihan Binar mengerikan baginya, karena Shanum yakin lambat laun pasti Binar bisa menyingkirkan nama Sunny dari hatinya, dan Shanum tidak mau itu.
Shanum terus mereject panggilan dari Binar.
" Shanum angkat!!!" Bentak Ayu marah. Shanum sendiri terbelalak tidak percaya dengan keberanian Ayu membentaknya.
Apalagi dia memanggil namanya, nama yang disingkat menjadi S, semenjak kepergian Sunny.
Karena Shan pada Shanum akan menyakiti jika terdengar, karena sama seperti Sunn pada Sunny.
" Aku nggak mau!!" Shanum dengan cepat mematikan daya ponselnya.
Dan segera berlari meninggalkan kedua sahabatnya keluar kelas dengan mata yang berderai.
" Hik...hiks...hiks..." Shanum menangis di sudut taman SMU Pelita.
" Ay?, lo nangis?" Tanya seseorang di belakangnya.
Shanum menoleh sembari menghapus air matanya dengan lenganya.
" Nggak, cuma kelilipan debu disitu.." Tunjuk Shanum asal.
" Lo kenapa masih disini?, ini udah sepi. Lo masih ekskul?"
Cowok tampan yang juga ketos SMU Pelita itu tersenyum nyengir, ada yang aneh dengan sahabat sepupunya ini.
" Ay, lo mencurigakan sekali sih? Lo sembunyi dari siapa?" Tanya Reza, sepupu Ayu Andira. Karena sejak tadi pemuda itu mendapati mata Shanum terus melirik ke arah gerbang sekolah, seolah-olah ada yang sedang dicarinya, atau mungkin di hindarinya?.
" Eh?, mencurigakan gimana sih?, enggak lah..." Bantah Shanum kikuk.
" Kuy lah..., pulang bareng gue!. Gue mau mampir rumah paman gue juga nih..." Reza menarik paksa tangan Shanum untuk menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah, tepatnya disamping pos sekuriti.
Mata elang Binar menangkap sosok yang ditungguinya sejak tadi. Hatinya yang gundah daritadi begitu sejuk seketika.
Seharian ini pesan-pesannya tidak ada satupun yang jawabi oleh Shanum. Bahkan beberapa tidak di read sama sekali oleh Shanum. Entah kenapa hari ini rasanya jantung Binar seakan diremat-remat. Apalagi sejak satu jam yang lalu dia berusaha menghubungi gadisnya itu, tapi tidak juga diangkatnya.
Binar meremas stang motornya saat sudut matanya menangkap tangan Shanum yang sedang digandeng seseorang. Ditambah lagi mereka masuk ke dalam satu mobil.
Binar menutup helmnya dengan kasar, tanpa menoleh lagi pemuda itu memacu motornya dengan kencang.
...***...
Shanum memasuki rumahnya yang sepi tanpa penghuni.
Brugh!!
__ADS_1
Dijatuhkannya tubuhnya yang penat di sofa ruang keluarga.
Dia merasa bersalah kepada Binar, sebenarnya sejak tadi dia tahu kalau Binar ada di depan gerbang. Tapi egonya terus saja meminta dia untuk menjauhi Binar.
Tok..tok..tok...
Pintu diketuk dari luar, padahal jelas pintu itu terbuka lebar.
" Boleh gue masuk?" Binar yang di depan pintu bisa melihat keberadaan Shanum yang terpantul lewat kaca aquarium.
" Maaf Bin, gue ngantuk. Mau tidur siang..." Usir Shanum.
Binar menarik nafasnya yang sesak. Satu yang paling dibencinya, yaitu diabaikan. Dan saat ini gadis yang digilainya siang malam itu kini sedang mengabaikannya, dan mengacuhkannya.
" Katakan padaku Ay!, apa salahku....? Kenapa kau mengabaikanku?" Binar nekat masuk walaupun telah jelas-jelas diusir.
" Kapan aku mengabaikan mu!!, jangan bikin gara-gara deh!!" Sentak Shanum kesal. Kesal karena begitu beratnya menghempas Binar.
" Kamu tidak menjawab pesanku Ay, kau juga tidak me read pesan-pesanku berikutnya, saat aku hubungi juga tidak kamu jawab. Sampai kau mematikan ponselmu, katakan Ay....perbuatanku yang mana yang tidak kau sukai.." Binar mengusap poninya kebelakang.
Shanum membuang pandangannya saat nampak jelas ketampanan Binar di depanya saat ini.
" Ponselku lowbatt..." Jawab Shanum singkat, masih tidak mau menatap Binar.
" Hufft...." Binar menghembuskan nafasnya berat. Dia tahu Shanum bohong, karena beberapa menit tadi status WA Shanum online.
"Kamu bohong Ay! Tapi sudahlah...just tell me!!. Apa salahku?, apa yang membuatmu mengabaikan aku"
" Katakan padaku Ay?. Bagian mana dari sikapku yang harus ku rubah agar sesuai dengan kriteria mu .." Ucap Binar dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Shanum tidak sanggup lagi menyembunyikan sesaknya, rasa yang ingin dibuangnya malah semakin menancapkan akarnya.
" Pulanglah!!, aku mau tidur ngantuk!!!" Bentaknya keras demi untuk menyembunyikan hatinya yang mulai goyah.
" Ay...., lihat aku..." Binar memanggil Shanum yang sudah mulai beranjak menaiki tangga.
" Pulanglah!!!" Teriak nya penuh emosi, tanpa menoleh sama sekali.
" Babe...." Binar berlari menubruk Shanum yang membelakanginya, memeluknya erat dari belakang.
" Jangan membuatku marah please..., jangan abaikan aku..." Pintanya pelan dibelakang punggung Shanum.
" Jangan tutup matamu atas cintaku..., don't push me away..." Bisiknya lagi masih dengan bibir yang menempel dipunggung Shanum.
Shanum memejamkan matanya, rasanya ingin sekali dia berbalik badan, memeluk pemuda yang begitu tulus mencintainya ini. Sekuat apapun dia berusaha mendorong Binar jauh darinya dia justru akan semakin tertarik akan pesona Binar.
" Pulanglah Bin....., aku ingin sendiri dulu..." Ucap Shanum pelan, mengelus tangan Binar yang melingkar diperutnya.
" Baiklah, Naiklah keatas dan tidurlah. Aku akan pulang setelah membuatkanmu makanan..." Ucap Binar, dengan perlahan melonggarkan pelukanya.
Lalu beranjak ke dapur tanpa menoleh.
__ADS_1