BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Galau...


__ADS_3

Pagi-pagi buta Saga sudah berada di depan ruangan rawat Shanum, seragam dan buku-buku kakaknya sudah ia persiapkan di paper bag.


" Kak, kak Binar nggak nginep sini?" Tanya Saga celingukan mencari keberadaan Binar diruangan kakaknya.


" Entahlah, waktu kakak mau tidur dia masih ada, tapi saat kakak bangun udah nggak ada.." Jawab Shanum cuek.


" Kak Sha pacaran ya sama kak Binar?" Tanya Saga hati-hati.


" He..emm, Begitulah.." Jawab Shanum.


Saga mengangguk, baginya mau bersama brothy Sunny, brothy Shinee ataupun kak Binar asalkan kakaknya bahagia, Saga mendukung saja.


" Kakak cinta kak Binar?"


" Belum, tapi kak Binar itu baik. Kakak nyaman bersamanya..." Ucap Shanum sambil menerawang jauh.


" Saga sih seneng jika kakak bisa melupakan brothy dan menerima kenyataan---"


" Tidak Saga!!, brothy Sunnymu masih disini... Suatu saat dia akan datang, dan kakak akan tetap berlari kearahnya.." Shanum menepuk dadanya.


Saga hanya bisa menghembuskan nafasnya. Dia sendiri belum jelas dengan hubungannya dengan Almaeera. Mencintai bocil sungguh perjuangan yang berat. Saga sudah terikat oleh pesona Almaeera sejak bahkan gadis itu baru dilahirkan.


Sampai hari ini perasaannya masih sama, hanya ada Almaeera. Tapi untuk masa depan?


Mana ada yang tahu.


Belajar dari pengalaman cinta kakaknya saja Saga bisa mengambil pembelajaran. Bahwa kita bisa merencanakan sesuatu, tapi skenario akhir tetap hanya Allah lah yang menentukan garis takdir kita.


Rasanya sesak saat terlintas gambaran akan kegagalan kisah cintanya, seperti yang dialami kakaknya saat ini.


Bisakah dia kehilangan Almaeeranya jika hal itu mungkin terjadi kelak?


Akkhhh, membayangkannya saja rasanya Saga ingin menangis.


" Kamu kenapa?" Tanya Shanum yang mendapati Saga diam saja, tidak seperti biasanya.


" Saga tidak bisa membayangkan jika Saga tidak berhasil dengan Meera..." Ucapnya sendu.


" Cukuplah hanya memberikan rasa sayang Saga, simpanlah rasa cintamu kelak untuk orang yang tepat.."


" Masa depanmu masih panjang, masih harus bertemu dengan banyak orang-orang baru..., lingkungan baru, pergaulan baru..."


" Menjaga cinta itu berat Saga, berat dan sakit..." Lanjut Shanum.



Saga terdiam, sudahlah nanti ya nantilah...


" Kak, hari ini Saga bawa mobil papa ke sekolah boleh nggak?, sekalian anterin kakak ke SMU Pelita.." Tanya Saga takut-takut.


" Nggak boleh!!, kita pulang dulu baru berangkat sekolah. Kamu pake motor seperti biasa, kakak nungguin kak Binar jemput" Sahut Shanum tegas.


" Hidiihhhh..., jadi kapan gue bisa bawa mobil!!" Teriak Saga geram.


" Lo buat apa bawa mobil!!, mau nge-grab!!, kurang duit lo??" Serang Shanum.


" Diiihhhh, masa nggak tau gaya sih kak!! Gaya!! Lifestyle gitu loh.."


" Lifestyle pala lo!!, mobil juga masih punya papa aja sok!, dah lah yuk pulang.." Shanum menarik kerah belakang jaket Saga.


" Tau gitu ngapain gue bawain seragam dan buku-buku kakak nih, Asyemmmm!!" Maki Saga kesal.


" Ha..ha..ha.., sok tau sih kamu..." Shanum merangkul adik tampanya itu gemas.


Sampai di rumah rupanya Saga masih ngeyel ingin membawa mobil papanya, dan Shanumpun mau tidak mau memberikanya ijin karena Binarpun meyakinkannya untuk ikut mengawasi Saga.


Binar hendak menyodorkan helm pada Shanum, tapi saat menatap wajah penuh luka itupun dia urung.



" Ijin aja nggak usah sekolah babe..." Ucap Binar tidak tega melihat wajah cantik itu penuh luka.


" Nggak bisa dong, dua bulan lagi udah tryout. Nggak bisa santai lagi..." Sahut Shanum.

__ADS_1


" Aku bantuin belajar deh.., ijin aja satu dua hari lagi..." Rayu Binar lagi.


" Sorry deh Bin nggak bisa, aku harus dapetin nilai maksimal dan daftar kehadiran yang juga sempurna. Uncle Rangga sudah mempersiapkan koneksi untukku belajar di Universitas tempatnya sering mengisi kuliah umum"


" Dimana?" Tanya Binar cepat, dadanya tiba-tiba begitu sesak, sudah ada feeling bahwa permasalahan tempat kuliah akan membuat mereka berpisah.


" Boston University.." Jawab Shanum dengan menunduk.


" Boston? Massachusetts USA, kamu mau kesana?" Tanya Binar pedih, dadanya begitu sesak.


Baru kemarin dia memberikan penolakannya atas tawaran beasiswa ke Boston pada pak Harun. Dan hari ini, dia harus mendengar bahwa kekasihnya justru akan kesana.


" Hemmm" Sahut Shanum sedih saat melihat Binar terlihat murung.


Binar memejamkan matanya, kalau mau egois Binar bisa saja mengubah keputusannya untuk tetap mengambil beasiswa itu. Tapi lingkup hidupnya tidak hanya Shanum seorang. Ada papa Sanjaya dan Aivy yang sudah menjadi tanggungjawabnya.


...***...


Binar lagi-lagi melamun, beberapa kali guru menegurnya karena tidak fokus dikelas. Selama satu jam pelajaran saja sudah delapan kali Binar disuruh cuci muka oleh gurunya, padahal aslinya bukan mengantuk, Binar hanya sedang stress saja.


" Kamu kenapa lagi sih Bin?" Tegur Arnov.


" Gue lepas beasiswa gue kemarin, tapi Aya justru berlari kencang kesana Nov.."


" Maksud lo?"


" Aya mendapatkan koneksi dari unclenya untuk kesana, lanjut ke Boston.." Ucap Binar sedih.


" Duh...sayang banget sih, padahal harusnya kalian bisa sama-sama menuntut ilmu disana. Ya Tuhan pasti sweet deh bisa kuliah di tempat yang jauh barengan pacar. Bisa-bisa lulus kuliah udah nggendong anak aja ha..ha..ha...." Arnov tertawa diatas derita Binar, pemuda itu begitu menyesalkan keputusan Binar.


" Anak siapa yang digendong?" Roy seperti biasa, baru nongol dan langsung duduk di samping Binar.


" Eh Bin, nih gue udah dapet informasi tentang rumah besar yang lo liat fotonya dirumah Cahaya itu.." Roy sedikit mengangkat pinggulnya untuk mengeluarkan ponsel dari kantung celananya.


" Jadi Bin, kata Alexandria... Rumah itu benar milik bersama. Milik om Vino dan para sahabatnya. Jadi rumah itu adalah tujuan mereka saat liburan datang. Yang dari luar negeri akan kesitu dan yang dari luar kota juga akan kesitu. Intinya mereka mempergunakan rumah itu untuk berkumpul disitu seperti rumah kedua"


" Nih fotonya Bin..." Roy menyodorkan foto rumah besar itu pada Binar.



" Mereka menyebut rumah ini dengan sebut---"


" White Base..." Sahut Binar cepat.


Roy melongo, pemuda itu mengernyitkan keningnya tanda keheranan.


" Apa Cahaya yang memberitahukannya padamu?" Tanya Roy cepat.


" Tidak, aku hanya menebak.." Jawab Binar.


" Rumah ini ada di Jakarta Bin, nah ini alamatnya, gue kirim ke nomor lo ya..." Roy men-forword file alamat dari Alexandria ke ponsel Binar.


Binar membaca pesan itu dan membaca berulang-ulang alamat itu. Lagi-lagi, dia merasa sangat tidak asing dengan nama jalan dan daerahnya.


" Ini Bin, gambar yang diambil Alexandria saat dia ikut menginap disana.." Lagi Roy membuka galeri chatnya yang dikirim Alexa semalam.


Sebuah gambar kolam renang, tapi sukses membuat Binar mengigil.


" Disini, gue pernah naik diatas tembok ini..." Tunjuk Binar pada dinding tembok yang berdiri di belakang kolam.



Roy dan Arnov saling tatap, bingung.


" Begini saja Bin, lo tanya ke papa lo. Mungkin papa lo kenal dengan salah satu diantara sahabat om Vino.., dan barangkali pula lo memang pernah diajakin kesana.." Ucap Arnov ada benarnya.


...****...


Sepulang mengantarkan Shanum ke rumahnya dan memastikan gadis itu meminum obatnya, Binar langsung menuju ke Panti dimana papanya berada.


" Nggak ajak Aivy nak?" Tanya papa Sanjaya.


" Nggak pa..., Aivy ada les.." Jawab Binar sambil mengupas pepaya untuk papa Sanjaya.

__ADS_1


" Apa rencanamu selanjutnya nak?, mau lanjut kemana?. Apa masih sama ingin menjadi guru?" Tanya papa Sanjaya.


Guru?


Apa aku pernah bercita-cita jadi guru?


Masa sih..


Seingatku aku pengen banget jadi agen FBI seperti...


Seperti siapa ya?, kok sepertinya aku begitu mengidolakan orang ini...


" Apa Binar pernah bilang ke papa, kalau Binar ingin jadi guru pah?" tanya Binar.


" Yah pernah.., waktu itu kamu begitu tertarik melihat orang diajarin baca di saung milik om Bastian" papa Sanjaya terlihat melamun setelah selesai berbicara mengenang masa kecil Binar.


" Om Bastian?, papanya Alexandria?. Apa papa kenal dekat dengan om Bastian pah?" Binar menggeser duduknya lebih dekat ke arah papanya.


" Ya, kamu kenal Alexandria?"


" Alexa itu pacarnya Roy pah. Trus papa kenal juga nggak dengan om Vino?"


" Vino?"


" Kalau nggak salah Vino Ramdhani Malik..." ucap Binar antusias.


" Vino Ramdhani....?. Oh, mungkin teman om Bastian kuliah.."


" Kalau Marvelino Putra Syahril?, Rangga Wijaya?, papa kenal nggak?"


Papa Sanjaya memejamkan matanya, mencoba mengingat nama-nama itu di memorinya.


" Nggak ada, nggak kenal. Nama-nama mereka asing bagi papa.." Sahut papa Sanjaya.


" Kenapa?, ada apa memangnya?" tanya papa Sanjaya balik.


" Nggak ada sih, oh ya... Pah apa waktu kecil kita sering ke Jakarta?"


" Jakarta? ha..ha..ha... Ya nggak lah!, mau kerumah siapa kita ke Jakarta?. Kerabat saja nggak punya." Jawab papa Sanjaya.


Binar mematung, fikiranya buntu saat ini. Kemana lagi dia harus mencari tahu tentang rumah yang begitu menyita fikiranya dua hari ini.


" Pah..., sebenarnya karena apa aku bisa hilang ingatan begini?"


Duaaarrrrr...


Pertanyaan Binar membuat jantung papa Sanjaya seraya ditarik paksa dari tempatnya.


" Oh I..itu..karena saat kita liburan ke Ancol, mobil yang kita tumpangi kecelakaan nak..." jawab papa Sanjaya gugup. Papa Sanjaya terlihat berulang kali menyeka keringat dingin yang tiba-tiba membasahi tubuhnya.


" Eh, ini Bin...anu...Lutut papa akhir-akhir ini agak ngilu Bin, kata dokter Neurologi ini sebuah keajaiban, sepertinya jaringan syarafnya kembali hidup" ucap papa Sanjaya cepat, berusaha mengalihkan topik bicara.


" Benarkah!!, Alhamdulillah kalau begitu, kabar bagus ini pah!. Terus kelanjutannya bagaimana pah?" sahut Binar antusias.


" Kata dokter harus diperiksa oleh dokter khusus yang ada di Jakarta. Dan hanya di Jakarta lah bisa dilakukan operasinya.."


" Operasi?" ucap Binar pelan.


" Ya nak, butuh seratus jutaan untuk sekali operasi, kaki papah baru bisa berjalan seperti semula jika sudah tiga kali operasi.." ucap papa Sanjaya panjang lebar.


" Harta papa yang tertinggal hanya sertifikat rumah itu, tapi kau tahu sendiri mama Ganismu itu seperti apa, jika kita jual dan hasilnya sebagian kita belikan rumah sederhana saja apa dia setuju...." lanjut papa.


Binar syok, terdiam tidak mampu berkata-kata.


Sebagai anak tentu Binar ingin papanya bisa berjalan lagi.


Tapi seratus juta?, dan itu harus tiga kali operasi baru berhasil.


Dapat uang darimana dia?


Tabungan hasil balap dan hadiah lomba-lombanya saja tidak sampai seratus juta, itu juga untuk cadangan biaya kuliahnya dan sekolah Aivy. Belum lagi urusan rumah tangga yang sebulan saja habis lima jutaan.


" Hufft...."

__ADS_1


__ADS_2