
Binar terlihat gelisah dalam tidurnya, foto Shanumnya dalam pelukan Sunny sungguh membuatnya bingung. Trus tadi Azmya bilang bahwa Cahaya adalah Shanum itu sendiri. Fix!!, otak Binar saat ini benar-benar mendidih.
Kalau yang difoto itu Cahaya mungkin dia akan percaya. Tapi Shanum??
Apa hubungan Shanumnya dengan keluarga ini?
Ceklek..
Binar berjalan menuju ruang belajar kembali setelah memakai kaos nya, penasaran di hatinya begitu besar. Dia berdiri mematung di keremangan ruangan itu sambil menatap pada foto Shanumnya. Dilihat dari ekspresi Shanum saat itu, nampak jelas dia begitu terlihat bahagia dalam dekapan Sunny.
Apa Shanumku salah satu adik mereka?
Tapi kok bisa Shanum adalah Cahaya?
" Kakak nggak tidur kak?, liatin apa?" Tanya Rayden yang membawa sebotol air putih ditangannya, matanya ikut mengamati foto keluarga itu.
Binar menoleh bingung, dia tadi sudah diperkenalkan dengan bocah tampan ini. Setahu Binar namanya Rayden.
" Ray, ini semua saudaramu kan?" Lagi, Binar berusaha menyakinkan kecurigaan dalam otaknya yang kian panas. Binar menunjuk pada foto anak-anak genk somplak yang berbaris di depan orang tuanya.
" Sure.." Sahut Rayden.
" Ini Luigi Tranvis dan Tania Travia, putra putri om Lenox dan tante Wari. Ini Aryan Syanbalt dan Arina Sheerin, putra putri uncle Brian dan aunty Numa. Ini kak Saga Vino dan kak Saka Vino, lalu ini kak Shanum Cahaya Ni----"
" Siapa?" Tanya Binar panik.
" Kak Shanum Cahaya Nilam, mereka bertiga putra-putri uncle Vino, kenapa?" Rayden menatap wajah Binar yang tiba-tiba pucat.
" Coba ulang siapa namanya?" Pinta Binar.
" Kak Shanum Cahaya Nilam..., kak!, kakak baik-baik saja kan?. Ray bangunin aunty ya?, kakak sepertinya sakit..." Rayden semakin panik melihat Binar yang terus mere*as-re*as kepalanya.
" Nggak usah..., kakak baik..." Binar duduk di sofa dan menghadap foto itu tanpa berkedip.
" Kakak suka kak Sha ya?, tapi nggak akan bisa!. Brothy kami tangguh, pasti dia akan menyingkirkan kakak dari surga!!"
Sunny? dan Shanum?
Sunn-Shan
Tulisan ini?
Binar meraba kembali bahunya dimana tatto permanen bertuliskan Sunn-Shan itu berada.
Jika Shanumku adalah Cahaya?
Apakah aku ini...
Apakah aku ini Sunny? Tapi dia meninggalkan?
" Ray.., tunggu sebentar. Coba ceritakan padaku tentang brothy Sunnymu.."
" Iya, tapi besok ya. Ray ngantuk..., Ray janji besok....hoammm" Rayden melangkah meninggalkan Binar yang penasaran mematung sendiri.
Binar merebahkan dirinya di sofa. Kilasan ingatan ketika Shanum yang syok saat melihat wajahnya terbuka untuk pertama kali membuatnya semakin dalam untuk berfikir. Apalagi sampai Shanum pingsan waktu itu.
Lalu perasaannya saat melihat Shinne untuk pertama kalinya, waktu itu dia sempat berfikiran bahwa itu perasaan suka sesama jenis. Tapi jelas bukan, ini adalah perasaan keterkaitan?
Keterkaitan apa?
Saudara?
Saudara kembar kah?
Binar melirik ke meja sebelah sofa dimana dia bersandar saat ini. Disana tergeletak puluhan album foto.
Diambilnya album foto pernikahan Denis dan Natasya yang begitu menyita perhatiannya.
Dibukanya dengan tangan bergetar, air matanya bercucuran saat menemukan foto dimana Sunny kecil menulis hena di pergelangan tangan Shanum.
Jadi benar aku ini Sunny?
Aku Sunny?
Sunny yang begitu dicintai Cahaya, itu aku..
Binar menutup wajahnya, tangisannya begitu memilukan. Perasan hatinya campur aduk saat ini, antara sedih dan bahagia.
...***...
Binar hanya diam saja sedari pagi, matanya terus menatap wajah-wajah yang terlihat bahagia di meja makan pagi ini.
__ADS_1
Wajah-wajah yang sepertinya tidak asing, tapi jujur dia tidak ingat apa-apa.
Daddy Rangga turun dari tangga dan ikut bergabung duduk di sana.
" Mari, silahkan dimulai sarapan paginya pak Sanjaya..."
" Mari-mari..."
Merekapun memulai sarapan dengan diselingi celotehan Maureen, Azmya dan Tiara yang meributkan group band idol mereka.
" Om Sanjaya, nanti kami mau bawa Aivy ke White base boleh ya?" Ucap Almeer sopan minta ijin.
" White base?"
" Iya, kerumah kami yang lain om. Saudara kami ada yang datang dari LN jadi kami akan kesana.." Lanjut Almaeera.
" Nggak jauh kok pak, lagian mereka dianter sopir.." Ucap mommy Ara.
" Oh..boleh-boleh saja asal Aivy tidak merepotkan.." Jawab papa Sanjaya.
" Terimakasih papa, om, tante..." Seru Aivy bahagia.
Binar menatap wajah mommy Ara yang selalu ramah dan teduh itu.
Saat melihatmu untuk pertama kali, aku merasa kau adalah orang baik...
Ternyata kau memang sangat baik tante Ara..
" Ekhemm.." Deheman daddy Rangga mengagetkannya yang tanpa sadar terus-terusan menatap mommy Ara. Daddy Rangga itu pencemburu tingkat dewa, mau yang melirik istrinya itu bocil atau lansia dia tetap sama garangnya
" Ha..ha..ha..., awalnya hanya satu orang yang menatap mommy seperti itu, tapi sekarang ada dua..ha..ha.." Almeer mengolok-olok daddynya.
Dahulu saat masih ada Sunny, dia selalu menatap mommy Ara dengan kagum. Bahkan saat Sunny masih berusia lima tahun dia berkata akan menjadikan aunty princess sebagai pengantinnya.
...*...
Mereka saat ini sedang berkonsultasi dengan dokter neurologi.
" Benar, ini mungkin akan lebih efisien jika yang menanganinya Dr.Marvel langsung. Tapi untuk operasi tahap pertama mungkin masih bisa saya bantu sembari menunggu Dr. Marvel Sp. N datang.."
" Apakah Dr. Anara sudah menghubungi beliau?" Tanya dokter neurologi yang menangani papa Sanjaya saat ini.
" Sudah, dua bulan lagi beliu ada jadwal tugas ke sini dok.." Jawab mommy Ara.
Papa Sanjaya dan Binar tampak terlihat bahagia. Mereka bersyukur, di masa harapan untuk bisa jalan benar-benar sudah tidak ada lagi di bayangan papa Sanjaya, justru kuasa Tuhan hadir.
Setelah membuat janji dan mendapatkan jadwal operasinya untuk besok hari, papa Sanjaya dan Binar pulang ke rumah mommy Ara dengan sopir, karena jelas mommy Ara lanjut kerja.
Sampai dirumah, papa Sanjaya beristirahat dan mengumpulkan keberaniannya untuk operasi besok hari, karena jujur, beliau sedikit takut.
Rumah yang sepi tapi nyaman, membuat Binar kembali lagi ke ruang belajar. Disana lagi-lagi ia mematung di depan foto Shanum dan Sunny.
Jadi aku ini Sunny?
Tapi papaku? Aivy..
Roy dan Arnov bahkan mengenalku sejak kecil..
Mereka selalu bercerita tentang masa kecil kami..
Terus???...
Bukankah Sunny dinyatakan hilang di semester ganjil SMP?
Lalu dikabarkan meninggal...
Dan aku menjadi orang yang tidak ingat apa-apa di awal semester genap SMP..
Ini kebetulankah??
Ya Tuhan....kepalaku sakit...
Adakah yang bisa membantuku untuk memecahkan ini semua..
Binar duduk kembali sambil terus menatap wajah bunda Dian dan ayah Marvel.
Tes..tes...tes..
Air matanya keluar tanpa dikomando.
Aku begitu ingin memeluk kalian saat itu, apakah itu pertanda hubungan kita..
Lalu bagaimana aku bisa sampai ke Surabaya?
" Assalamualaikum.."
__ADS_1
Suara dari pintu samping membuat Binar segera berdiri dan melangkah kesana.
" Waalaikumsalam.." Jawab Binar.
Daddy Rangga tersenyum kepada Binar sesaat lalu tak lama muncul dari belakangnya seorang orang pria dan wanita yang sedikit terkejut melihat Binar.
" Bagaimana keadaan papamu boy?" Tanya daddy Rangga.
" Papa sehat dan bisa dioperasi besok om.." Jawab Binar.
" Oh iya, kenalkan ini uncle Lenox dan istrinya aunty Wari. Mereka datang dari Jerman..." Daddy Rangga memperkenalkan uncle Lenox dan aunty Wari pada Binar.
Uncle Lenox menatap Binar tajam, tatapan matanya penuh selidik. Dia seakan pernah melihat pemuda ini sebelumnya.
" Apa kita pernah bertemu sebelumnya boy?" Tanya uncle Lenox saat tangan mereka saling bertaut, tatapan matanya terus mengamati wajah Binar.
" Sepertinya tidak uncle.." Jawab Binar jujur.
" Kamu sangat tampan boy, tapi masih kalah tampan dari Saga..." Ucap uncle Lenox.
" Saya rasa tidak uncle, Sayalah yang lebih tampan dari Saga.."
" Tidak!!, uncle rasa Saga!!" Sahut uncle Lenox tak mengalah.
" Sudahlah..., kalian ini.." Aunt Wari mengelus lengan uncle Lenox pelan.
Dasar Lele Bayclin!!! Umpat Binar dalam hati.
Lele Bayclin???
Darimana aku mendapatkan kalimat itu?
Kenapa aku merasa biasa mengucapkannya saat bertemu pria ini?
Apa Sunny dulu memanggilnya begitu?
Lalu kenapa harus Lele Bayclin?
...**...
Sampai sore tiba, anak-anak genk somplak masih berada di White base. Sementara Lenox dan Wari permisi untuk mengunjungi panti asuhan Casablanca dan juga rumah profesor Maha Daffran.
Seperti biasa Ranggalah yang bertugas memasak disaat istrinya ada lembur.
Papa Sanjaya bersantai ditaman samping.
" Papa bisa sendiri Bin, kamu bantu om Rangga masak saja sana..." Ucap papa Sanjaya.
" Baiklah pah.."
Binar melangkah menuju dapur terbuka yang berada tak jauh dari taman yang menghadap ke kolam.
" Biar binar bantu om.." Ucap Binar yang kini sudah berdiri dibelakang om Rangga.
" Waduh, terimakasih banyak. Maaf ya jadi ngerepotin kamu boy.." Ucap Rangga malu-malu.
" Yang ada kebalikannya om, saya yang nggak enak karena ngerepotin keluarga om.." Sahut Binar yang langsung cekatan mencuci sayur-sayuran dan memotonginya.
Bahkan setelah itu langsung mengupas bumbu-bumbu dengan gesit. Tingkah lakunya menunjukkan bahwa dia sudah sangat terbiasa bekerja di dapur.
" Kamu suka masak boy?"
" Hanya bisa dan memang sudah terbiasa sih om, kalau ditanya suka atau tidak, Saya lebih suka olahraga daripada masak.." Jawab Binar.
" Tamu yang tadi itu siapa om?, maksud saya uncle Lenox tadi---"
" Dia sahabat istri saya, istrinya adalah adik angkat dari istri saya.." Jawab Rangga.
Binar menganggukkan kepalanya. Tapi tetap saja, dia tidak ingat apa-apa.
" Om, boleh saya tanya sesuatu?" Ucap Binar segan.
" Bertanyalah, om akan jawab selama om tahu.." Sahut Rangga sambil tersenyum menatap wajah tampan Binar.
" Om, bagaimana ceritanya sampai Sunny bisa meninggal?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Readers : thor, bukanya Almeer udah mau kuliah ya?, kok kembali kecil di sini?
Author : jadi disini ceritanya mereka masih versi bocil, di Childhood love story mereka udah gedenya.
Jadi jangan rancu ya guys...
__ADS_1