BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Derita Binar..


__ADS_3

Setelah menidurkan Aivy dikamarnya Binarpun mandi dan bergegas pergi lagi. Biasanya libur seperti ini dia akan mengunjungi papanya di rumah sakit. Tapi karena Aivy merengek terus minta pergi ke kebun binatang esok hari, akhirnya Binar harus keluar untuk mencari uang malam ini juga.


Karena rasa-rasanya nggak enak juga baginya, buku Aivy dibayarin, makan dibayarin, puas main di wahana permainan pun masih dibayarin.


Walaupun sudut hatinya bersyukur ada orang baik yang akhirnya bisa membuat adik satu-satunya itu bisa merasakan kebahagiaan seperti semalam.


Motor Binar melaju kencang menuju salah satu cafe di pinggiran pasar modern Surabaya. Binar bekerja sebagai pencuci piring disana.


Harusnya sih dia libur hari ini, tapi karena dia butuh uang untuk besok, maka dia harus mencoba mencarinya malam ini.


Sepanjang jalan kilatan wajah Shine yang tersenyum ramah terus saja berkelebat di benaknya.


Degh!!


Jantungnya terpompa kencang setiap kali wajah tampan Shine melintas.


" ****!! ****!! ****!!!" Teriaknya seraya kedua tangan memukul-mukul stang motor dengan geram.


Hiiihhh...geli gue...geli..geli..geli...


Kenapa wajah dia terus saja muncul


Hoekkk...hoekkk. Gue cowok sejati...


Binar benar-benar geram. Semenjak kepulangannya dari Garmedeo benaknya didominasi oleh wajah tampan Shine dan senyuman ramahnya.


" Hiiihhhhh..." Binar bergidik ngeri saat lagi-lagi dadanya tiba-tiba berdebar saat mengingat perasaan sejuk dan nyaman dihatinya ketika berjabat tangan dengan Shine tadi.


Ada rasa yang menyebar bagai aliran listrik menyusup dalam hatinya saat itu.


Waduh sial!!. Kenapa wajah pacar Aya muncul terus...akhhhh


Nggak!! Nggak mau...gue ini biar benci cewek tapi bukan berarti suka cowok...


Karena terus memikirkan Shine, mood Binar benar-benar hancur. Beberapa kali dia hampir memecahkan piring yang sedang dicucinya.


" Kenapa kak Bin?, mikirin apa?. Kok kayaknya nggak fokus?" Tanya Zahra, putri pemilik cafe yang sejak lama menaruh hati pada Binar.


Biarpun Binar hanya selalu terlihat matanya saja tapi keindahan matanya jelas membuat orang bisa menyimpulkan betapa tampannya saat wajah itu terbuka tanpa masker.


Binar melirik sesaat pada Zahra, dan kembali fokus pada kegiatannya. Melihat dari gestur tubuhnya, Binar jelas tidak menanggapi keberadaan Zahra di dekatnya.


"Kak Bin sudah makan?" Tanya Zahra lagi.


Binar hanya mengangguk tanpa menoleh sama sekali.


" Zahra sini!!" Teriak ibu pemilik cafe. Beliau begitu tidak suka putrinya berdekatan dengan orang yang tidak selevel dengan mereka.


" Sebentar bu..." Jawab Zahra.


" Kak Bin, ini ada jaket untuk Aivy..." Zahra meletakkan papper bag warna biru di dekat Binar. Ditatapnya wajah tertutup Binar dari samping. Dia begitu menyukai pemuda ini sejak pertama Binar datang untuk mencari kerja tiga tahun lalu.


" Kak Bin...." Panggil Zahra.

__ADS_1


" Hemmmm" Jawab Binar tetap tanpa menoleh.


" Seminggu kedepan libur kan?, kita jalan yuk sama Aivy..." Ucap Zahra.


Beberapa saat lamanya Zahra menunggu jawaban Binar tapi tidak juga sepatah katapun yang keluar dari mulut tertutup masker itu.


Zahra menghela nafasnya berat. Selalu begini, tiga tahun sudah dia berusaha mendekati Binar. Tapi tetap seperti ini, Binar tetap kaku seperti batu.


Zahra manatap Binar sekali lagi, tidak!. Jelas gadis ini tidak akan menyerah, dia benar-benar sudah cinta mati denganya.


Zahra hendak melangkah meninggalkan Binar yang diam saja, dan tetap melakukan tugasnya tanpa menganggap keberadaan dirinya. Tapi saat baru selangkah pergi, suara Binar menghentikannya.


" Tunggu..."


Zahra seketika menoleh, rasa sejuk bagai hembusan angin surga begitu membuatnya bahagia, senyum cerah tersungging dari bibir pink Zahra.



" Bawa lagi jaketnya!, Aivy sudah ada!" Ucap Binar tegas.


Bagai dilambungkan ke atas awan lalu dihentakkan kebumi dengan keras, itulah yang dirasakan Zahra saat ini. Sakit!!


" Kak, sebenarnya apa salahku?, kenapa kau begini. Apa kau membenciku?" Zahra menunduk sedih.


" Ya, aku benci!!" Ucap Binar dingin.


" Tapi kenapa?, aku salah apa?" Zahra mengulurkan tangannya hendak menyentuh lengan Binar, tapi dengan cepat Binar menggeser tubuhnya.


" Karena kau WANITA!!!"


Zahra tahu dari Aivy bagaimana mama dan kak Lyra memperlakukan Binar. Binar diperlakukan bagai pembantu di rumah. Setiap hari tugas wajibnya begitu padat di dalam rumah. Pagi-pagi harus sudah mencuci baju, menyapu, mengepel rumah dan juga harus sudah memasak.


Sepulang sekolah harus kerja dan baru boleh pulang kalau sudah bawa uang.


Sebenarnya sudah dari lama Binar ingin lari, tapi bagaimana dengan Aivy.


Kalau hanya dia sendiri tentu dia bisa tidur dimana saja, mau makan apa saja juga tidak jadi masalah. Tapi..


Adiknya itu masih kecil, masih butuh kenyamanan, masih butuh perlindungan, apalagi masih dimasa pertumbuhan. Yang tentu masih membutuhkan kasih sayang keluarga untuk membentuk mentalnya dan butuh makan yang bergizi untuk membentuk fisik dan membangun otaknya.


Ditambah lagi Aivy juga harus sekolah, butuh biaya ini itu untuk beli buku, seragam dan alat-alat penunjang lainya.


Mama Ganis dan Lyra sih tidak akan perduli, mau Aivy sekolah mau nggak juga nggak penting bagi mereka. Karena bagi mereka Binar dan Aivy hanya bagai sampah yang dipunggut oleh suaminya dari comberan.


Pernah dahulu saat Aivy masih berusia kurang dari satu tahun. Sebelum berangkat sekolah, seperti biasa Binar telah memandikan dan menyuap Aivy kecil. Lalu diayunnya di ayunan bayi sampai tertidur.


Binar menitipkan adiknya pada mama Ganis. Tapi yang terjadi sungguh tragis.


Mama Ganis meninggalkan Aivy begitu saja tanpa pengawasan. Aivy kecil yang baru bisa melangkah dua tiga langkah itu harus bangun tidur tanpa siapapun di dalam rumah. Aivy kecil yang haus dan lapar terus menangis tanpa ada yang tahu, dan itu berlangsung hampir seharian


Untung saja saat itu Binar memutuskan pulang untuk mengambil senjata, karena ada rencana untuk duel dengan genk preman stasiun. Kalau tidak entah bagaimana nasib Aivy saat itu.


Binar menemukan Aivy kecil dalam keadaan yang memprihatinkan.

__ADS_1


Popok yang telah penuh dengan kotoran, wajah sembab, hidung dan mata yang memerah akibat terlalu lama menangis.


Kening, pipi, tangan dan kaki yang lebam karena berulang kali terjatuh atau mungkin juga kejatuhan benda-benda yang berusaha digapainya, entahlah..


Tidak ada yang tahu apa yang dialami gadis kecil yang baru bisa berjalan itu di dalam rumah sendirian, kelaparan dan kehausan.


Sejak saat itu kebencian Binar pada mamanya semakin memuncak.


Binarpun memutuskan membawa Aivy kesekolah setiap hari, untuk dititipkan kepada penjaga sekolah. Dan Binar akan merawatnya di sela-sela jam istirahat.


Tak sampai situ saja kebencian seorang Binar terhadap spesies yang bernama cewek.


Diawali saat beberapa teman sekolah Lyra yang saat itu duduk di bangku SMA main kerumah mereka.


Binar yang memiliki wajah tampan rupawan jelas menarik perhatian teman-teman Lyra.


" Dia siapa Lyr?" Tanya salah seorang teman Lyra saat itu.


" Adik gue, SMP kelas 3..." Jawab Lyra sombong, karena dia juga mengakui ketampanan seorang Binar.


" Gue boleh dong ya Lyr, ajak adek lo jalan. Dia tinggi banget guy's. Nggak seperti anak SMP loh.... Pasti cocok dong ya..jadi gacoan gue." Ucap Daniela, si paling cantik di antara teman-teman Lyra.


" No!!, Dia harus jalan sama gue Lyr, gue kontrak adik lo selama satu bulan ini jadi pacar gue, tenang aja!. Nggak akan gratis.., karena gue akan bayar lo! Asal adik lo mau nemenin gue.." Ucap si paling kaya diantara teman-teman Lyra.


Mulai dari saat itu, Lyra selalu memaksa Binar untuk menemani teman-teman Lyra jalan atau kongkow-kongkow. Dan tentu saja Lyra semakin serakah untuk menjual ketampanan Binar.


Dan dari menjual Binar saja Lyra sampai bisa membeli mobil.


Jangan dikira bahwa Binar nurut-nurut saja, jelas Binar menolak! . Tapi apa daya, nasib Aivy ditangan mereka.


Tak sampai situ saja, rupanya mama Ganis yang mengendus kepintaran putrinya yang tidak berakhlak itupun ternyata ikut-ikutan.


Dia dengan sengaja mengundang teman-teman sosialitanya untuk berkumpul dirumahnya, lalu menawarkan Binar untuk para tante-tante gesrek.


Binar yang marah jelas mengamuk dan mengancam untuk pergi, tapi lagi-lagi papanya dan Aivy adalah kelemahannya.


Pernah beberapa gadis teman Lyra dan para tante itu ingin melecehkannya, dengan meremat bokong dan meraba dada Binar. Binar yang memang temperamen hampir saja membunuh mereka dengan kedua tangan yang telah berada di leher untuk mencekik para gesrek itu.


Binar akan berubah menjadi iblis mematikan bila seseorang telah berani menganggu kenyamanannya.


Binar paling tidak bisa disentuh sembarangan, apalagi area yang memang tidak boleh disentuh oleh sembarangan orang.


Berulang kali saat dirinya benar-benar emosi, maka Binar yang asli tidak ada lagi, Binar berganti menjadi Binar lain yang mengerikan, Binar si iblis..


Tapi bisikan kata-kata seorang gadis kecil selalu terngiang di telinganya.


" Aku akan menunggumu....., Nanti kamu harus menjemputku ke Surabaya..."


" Aku berjanji tidak akan berpacaran dengan siapapun sampai kau datang.."


Setiap kali kata-kata itu terngiang di telinganya, Binar akan kembali tersadar setelah beberapa saat berubah menjadi iblis.


Binar yakin dan sangat yakin, pasti gadis itu adalah gadis yang namanya tertulis indah di punggung kananya....

__ADS_1


Nama yang terus ia cari keberadaannya sampai saat ini.


Nama yang menjadi matranya untuk bisa menahan diri dari kesetananya saat emosinya meledak...


__ADS_2