BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Imun...


__ADS_3

Binar memutuskan untuk mendatangi rumah pribadi Miko malam ini.


Miko tidak bisa dibiarkan, ancamnya benar-benar membuat fikiran Binar kacau.


" Tuan Miko ada di dalam ruang ini, silakan masuk.." Ucap salah satu anak buah Miko dengan membuka pintu itu segera.


Binar memasuki ruangan yang bercat putih bersih itu. Matanya terang seketika, karena sejak memasuki gerbang rumah Miko, seluruh dindingnya dicat dengan warna gelap.


Miko yang memang sudah dikabari bahwa Binar akan datangpun segera menyambut dengan arogan.


" Binar Buana Sanjaya....."


Prok..prok..prok...


Tepukan tangan bernada olokan itu menyambut Binar saat ini.


Miko duduk diatas meja dengan tampang berandalnya yang badas.



"Apa yang membuatmu mengunjungiku bro??"


" Bukan mengunjungi!!, gue datang untuk mengingatkan lo untuk tidak mengganggu cewek gue" Ucap Binar begitu dingin.


Miko hanya tersenyum tipis, menatap wajah tertutup masker Binar.



Pantas saja selama ini dia susah mencari informasi tentang Buana. Ternyata dia menyembunyikan identitasnya dibalik masker itu.


" Takut ya lo? Gue pastikan sama lo Buana!! Jika cewek lo tahu siapa lo, pembunuh yang telah membuat adik gue mati, tanpa gue paksapun Cahaya akan pergi ninggalin lo!!"


" Bukan gue yang bunuh adik lo Miko!!, jika dia mati dikeroyok oleh napi lain itu buah dari tingkahnya ya sok!!" Sahut Binar cepat.


" Tapi dia ditangkap karena lo!!" Seru Miko


" Bukan karena gue, tolol!!!, adek lo emang udah lama jadi incaran polisi!!" Sanggah Binar cepat.


" Huhhhh, sudahlah!!. Lo mau ngoceh, menyanggahnya sampai bibir lo copot sekalipun juga, gue tetap anggap lo yang bunuh adek gue!!" Ucap Miko sambil menggebrak meja.


"Serah!!. Yang jelas sekali lagi gue lihat lo ada di sekitar cewek gue, gue akan mewujudkan tunduhan lo. Gue bunuh lo!!" Ancam Binar.


" Sebelum lo bunuh gue Buana!!, gue pastikan gue yang merawanin cewek l---"


Buaghh!!!


Tinju Binar menghantam rahang Miko begitu kerasnya.


" Look!! Lo yang temperamen seperti ini apa pantas bersanding dengan malaikat seperti Cahaya?, tidak tahu diri!!" Ucap Miko lirih, tanganya mengusap rahangnya yang begitu ngilu.


" **** you!!" Bentak Binar dan berlalu pergi. Lama sedikit saja dia masih berada disitu, dia takut tidak mampu menahan diri.


...***...


" Babe...aku masuk ya..." Binar seperti biasa masuk ke kamar Shanum seenak udelnya sendiri.


Hari sudah sangat malam saat dia datang. Sudah seminggu ini Binar menyanyi di sebuah cafe rekomendasi pak Harun. Tips yang didapatkan setiap harinya lumayan besar, cukup untuk biaya hidup hari-hari dan bahkan dia masih bisa menabung.


Binar belum mengambil keputusan untuk menjual rumah kakek. Banyak yang harus di pertimbangkan sejauh ini.


" Dihhh gayamu babe, pake nanya segala!!, dilarang juga kamu masih tetap maksa masuk!!" Sahut Shanum tanpa mengubah posisinya yang tidur bersama Mosha, kucing pemberian Binar beberapa hari lalu.


Walaupun berkata-kata, Shanum sama sekali tidak membuka matanya.



Binar duduk dibelakang kepala Shanum, tanganya terus membelai rambut gadis itu pelan.


" Kamu nggak mau liat aku gitu babe?, aku dateng ini.." Bisik Binar pelan ditelinga Shanum.


" Emmm" Sahut Shanum sama sekali tidak membuka matanya.


" Ngantuk banget ya?" Binar menggesekkan hidungnya di telinga Shanum.


" Emmmppp...Bin, geli..." Ucap Shanum lirih, tanganya mendorong wajah Binar menjauh.


" Bangun dong yang....sebentar aja. Aku kangen berat ini babe. Sekalian aku juga mau pamitan.." Bisik Binar lagi.

__ADS_1


Mendengar kata pamitan, Shanum segera membuka matanya.


" Mau kemana?, kamu mau kemana?" Shanum duduk bersila menghadap Binar.


" Besok dan dua hari kedepan aku ada acara pekan olahraga di provinsi. Kamu aku titipin sama Arnov, aku minta kamu hati-hati sama Miko. Arnov yang gantiin aku untuk antar jemput dan jagain kamu..." Binar meraih kedua tangan Shanum dan mengecupnya.


" Kemanapun kamu mau pergi ajakin Arnov jadi bodyguard kamu ya babe" Pesan Binar.


" Tapi..."


" Tidak ada tapi-tapi yang... Nurut aku babe please..." Binar meraih Shanum dalam pelukannya.


" Okey baiklah tuan Binar. Emmmm, Aku pasti akan kangen banget sama kamu Bin..." Shanum mengusap-usap rambut Binar lembut.



" Emmmhhh, jadi ngantuk babe kalau dielus-elus kaya gitu.." Bisik Binar dengan mata tertutup.


" Ya udah tidur aja disini..." Ucap Shanum ringan.


" Iya, terus besok paginya aku mati digorok papa kamu..." Sahut Binar.


Binar menatap mata indah Shanum yang cantik, matanya kembali menatap bibir indah Shanum.


Setelah first kiss mereka seminggu yang lalu, Binar belum berani memintanya lagi pada Shanum.


Tapi hari ini keinginan itu kembali meletup-letup.


" Babe, boleh aku minta imun buat jadi bekal aku ke provinsi besok?" Ucap Binar ragu-ragu.


" Imun?"


" Iya babe, penyemangatku gitu..." Lanjutnya.


" Maksudnya kamu minta jimat gitu?" Tanya Shanum lagi.


" Bisa dibilang begitu.."


" Tapi aku nggak punya tuh.., nggak pernah tuh pake jimat.." Sanggah Shanum.


Tingkah Binar yang menggigit-gigit bibirnya saat ini mengingatkan nya akan Sunny.


Tanpa kata-kata Shanum berdiri, berusaha menyembunyikan raut sendunya yang datang tiba-tiba, saat ini ingatanya penuh akan Sunny, hatinya terisi oleh Sunny kembali.


" Sayang..." Binar menarik pinggang Shanum untuk mendekat padanya.


" Kiss me, for my support system "



Shanum, mengusap poni Binar kebelakang, lalu melabuhkan kecupanya lama di kening Binar.


Sunny please forgive me...


" On lips babe please..." Pinta Binar dengan mata sendu.


Shanum tersenyum tipis, tebakannya benar. Binar ingin itu...


" Pejamkan matamu..." Pinta Shanum lirih.


" Tidak!!, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku pergi.." Sangkal Binar.


" Bin..., kau hanya pergi tiga hari, gayamu seolah-olah akan bergi selamanya saja" Shanum mencubit perut Binar, tapi justru itu adalah tindakan yang salah.


Dengan begitu sesuatu yang ditahan Binar sejak tadi akhirnya meledak juga.


Selanjutnya tanpa diduga-duga Binar menyambar tengkuk Shanum dan ******* bibir Shanum dengan seduktif.


Tidak ada lagi kelembutan seperti sebelumnya, yang hanya kecupan ringan. Kecupan yang menghanyutkan seperti awal first kiss mereka.


Tapi ciuman kali ini begitu panas membara.


Shanum benar-benar tidak percaya dengan ini semua.


Apa ini? Ada apa dengan Binar?, kenapa dia begitu agresif malam ini.


Tapi rasa indah yang mampu melambungkan dirinya setinggi langit itu membuatnya terlena, tanpa disadarinya diapun membalas ciuman Binar kali ini.

__ADS_1


" Emmmphh hah..hah..hah..." Shanum cepat-cepat menghirup udara sepuas-puasnya, saat Binar melepaskan ciumannya.


Dadanya seperti akan meledak, begitupun Binar. Dia bahkan syok akan tingkahnya barusan. Dari mana keberanian itu berasal.


Gila!!!Beberapa saat lalu bahkan dia sendiri sempat lupa bagaimana caranya bernafas.


Brugh...


Binar merebahkan tubuh Shanum di kasur, dan menindihnya.


Sumpah!!


Saat ini Shanum begitu ketakutan, sementara Binar menatap bibir Shanum yang terlihat bengkak karena ulahnya.


Kembali Binar mendekatkan kepalanya.


Cup.


Hanya kecupan kecil dan sekilas. Kedua kening itu kini beradu lama, mereka sama-sama mengatur nafas yang begitu menggila, kedua mata mereka saling tatap penuh cinta.


" Maaf sayang, aku benar-benar lepas kontrolku jika bersamamu seperti ini....." Bisik Binar dengan mata terpejam, sementara kening mereka masih menyatu.


...***...


Tiga hari terlewat begitu cepat. Dengan semangat luar biasanya, apalagi bekal sempurna dari Shanum yang tidak akan terlupakan oleh Binar. Pemuda itu akhirnya berhasil pulang dengan prestasi yang gemilang.


Semua medali cabang atletik disabetnya dengan hasil maksimal.


Sampai dirumah seperti biasa mama Ganis selalu meminta jatahnya.


Tapi Binar sekarang bukanlah seperti Binar yang polos seperti dulu. Binar sudah mulai pintar menyembunyikan penghasilannya, karena Aivy dan dirinya juga butuh untuk masa depan mereka.


Seperti biasa, setelah merapikan rumah yang benar-benar amburadul seperti kapal pecah karena ketidak beradaanya tiga hari ini. Binar bergegas membersihkan tubuhnya guna mengajak adiknya makan diluar. Dia ingin membahagiakan adiknya yang selalu rela berkorban dititipkanya dirumah Arnov.


Berbekal buah tangan yang lumayan, Binar mengetuk pintu rumah Arnov.


Seorang wanita baya keluar menyambut Binar ramah.


" Heiii, nak Binar sudah selesai lombanya?" Tanya ibunda Arnov setelah mempersilahkan Binar masuk.


" Sudah bu Alhamdulillah, ini ada sekedar oleh-oleh" Binar menyerahkan parcel untuk ibunda Arnov.


" Duhh, nggak usah repot-repot..."


" Nggak repot bu, Alhamdulillah Binar dapat juara, dan hadiahnya lumayan.." Sahut Binar.


" Oh gitu, ya sudah ibu terima ya. Dan Terima kasih banyak.... "


Binar terlihat celingak-celinguk mencari Aivy dan Arnov yang tidak juga muncul.


" Coba langsung cari di ruang TV nak, tadi ibu lihat mereka main PS bersama".


Binarpun mengangguk patuh dan melangkah menuju ruang TV.


Saat sampai di ambang pintu, matanya begitu sejuk melihat pemandangan di depanya.


Kepala Aivy begitu nyaman berbaring di pangkuan Arnov dengan mata yang terpejam, ya...gadis itu tidur. Begitupun Arnov yang tertidur juga dengan menyenderkan kepalanya di punggung kursi.


Di tanganya masih terdapat konsul PS, sepertinya diapun tertidur sebelum selesai bermain.


Puk...puk..


Binar menepuk pelan pipi Aivy. Gadis kecil itu membuka matanya pelan.


Tampak Binar tepat didepanya dengan meletakkan telunjuknya di bibir. Binar meminta adiknya untuk tidak mengganggu tidur Arnov. Binar sangat tahu bahwa sahabatnya itu pasti capek. Capek jadi sopir Cahaya dan Aivy, belum lagi berperan jadi kakak yang sabar mendampingi Aivy belajar.


Jika segitu saja Arnov capek terus apa kabar Binar?.


Binar sudah terbiasa bangun pukul tiga dini hari untuk memulai rutinitas paginya.


Dan itu sudah dilakoninya sejak kelas dua SMP sampai sekarang ini. Tidak mengherankan jika Binar memiliki bentuk tubuh yang berotot diusianya yang baru 18tahun.


Belum lagi semenjak tiga tahun lalu papanya harus kecelakaan dan lumpuh. Mau tidak mau Binarlah yang menjadi tulang punggung keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarga.


Pekerjaan apapun dia terima dengan iklas, dari mencuci piring di sebuah kedai, lalu jadi pengangkut di pasar. Tapi untungnya masa kelam itu telah lewat. Koneksi dari pak Harun, membuat hidupnya berubah ke arah lebih baik.


Sahabat pak Harun yang baru membuka cafe memerlukan penyanyi, dan menurut pak Harun, Binarlah yang tepat mengisi posisi itu.

__ADS_1


__ADS_2