
Beberapa jam bermain PS membuat Binar bosan.
Pria muda itupun menghentikan aktivitasnya. Mengucek kedua matanya yang terasa begitu pedih. Kepalanya menoleh pada Shanum yang tertidur pulas di tempat tidur, Binar bangkit dengan perlahan, mendekati tempat tidur Shanum dengan dada yang begitu berdebar hebat.
Dia nakal!!, nakal luar biasa dan dia sadar, tak sepatutnya dia begini. Menyelinap masuk di kamar cewek tengah malam begini.
Tapi inilah bentuk cintanya, inilah wujud ekspresi dari cinta itu.
Lama Binar hanya berdiri menatap wajah indah yang damai dalam tidur di depan matanya.
Binarpun perlahan-lahan duduk di tepi tempat tidur.
" Maafkan gue babe. Lo bener, akan lebih bahaya jika gue ada disini..., gue juga merasakannya babe.... Entah kenapa, gue benar-benar tidak bisa menahan diri jika itu tentangmu babe.."
" Gue tahu lo begitu mencintai Sunny, tapi maaf..., gue nggak akan mengalah!!.." Binar mengelus rambut panjang Shanum yang begitu lelap dalam tidurnya.
Cup.
Dikecupnya kening Shanum lama, seolah-olah tidak mau melepaskannya.
Jemarinya mengelus bibir pink alami yang sedikit terbuka itu dengan bergetar. Matanya menatap bibir itu penuh rasa ingin...
Sebagai pria remaja yang normal jelas Binar ingin sekali mencoba merasainya, merasai yang orang-orang sebut sebagai kissing itu.
" Gue boleh coba ya babe..." Bisiknya ditelinga Shanum, meminta ijin.
"Emmmhhh..." Shanum yang merasa terganggupun membuka matanya.
" Bin?, lo belum pulang?" Suara seraknya membuat dada Binar berdentum-dentum, apalagi wajah bantal Shanum begitu menggemaskan. Sudahlah! paket komplit untuk membuat Binar menggila karena cinta.
" I..iya. Bentar lagi...." Jawabnya gugup. Dimalam hari begini, hanya berdua dengan Shanum membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
Gambaran adegan-adegan tak senonoh yang pernah dilihatnya berkelebatan dibenaknya saat ini.
" Emmhhhh, gue...gue..." Binar menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu geram. Rasanya frustasi memikirkan itu semua.
" Kenapa?, lo mau pulang?, lewat pintu...jangan manjat Bin, entar dikira maling lo!!" Ucap Shanum pelan, kembali menarik selimutnya lalu mulai memejamkan matanya kembali.
" Babe......" Panggil Binar lirih.
" Hemmmm" Sahut Shanum tanpa membuka mata, memunggungi Binar.
" Don't ignore me babe please..." Binar menyentuh pundak Shanum agar tidak mengacuhkan keberadaannya.
" Sudah lah Bin, pulanglah.... Besok kita sekolah..." Shanum tak menghiraukan rengekan Binar.
" Kiss me babe, baru gue pulang..." Bisik Binar lembut ditelinga Shanum. Entah sudah gila atau nggak waras, kalimat itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutnya.
Binarpun tanpa sadar menepuk-nepuk bibirnya sendiri.
Shanum yang syok berat juga langsung duduk didepan Binar dengan mata melotot tajam.
" Bin????, otak lo nggak lo bawa?, atau lo tinggal di rumah hahh!!" Shanum berkacak pinggang menatap Binar dengan tatapan kecewa. Dadanya berdebar-debar seakan mau meledak.
" I don't no why. I drive myself crazy, setiap bersamamu aku selalu gila. I can't control myself to touching you, i'am sorry..." Binar meremas sprei tempat tidur Shanum dengan wajah tertunduk.
Shanum juga bingung dengan perasaannya saat ini, dorongan dalam hatinya juga sama seperti apa yang dirasakan Binar. Sejak tadi sebenarnya dia tidak benar-benar tidur, matanya terus saja mengintip gerak-gerik Binar yang mempesonakan dirinya. Binar yang cool tapi begitu gentleman. Binar yang tampan dan begitu menggemaskan.
" Kiss me, dan aku akan segera pulang..." Pintanya lagi dengan mata yang sayu.
Shanum bingung, mereka saling tatap dengan tatapan yang sama-sama penuh cinta.
Shanum mengangguk dan mendekati Binar, perlahan tangannya terulur menyentuh kepala belakang Binar.
__ADS_1
Binar memejamkan matanya, rasa asing menjalari aliran darahnya yang menghangat saat ini.
Cup.
Cup.
Cup.
Tiga kecupan Shanum berikan.
Satu dikening Binar, dan dua di kedua mata Binar yang begitu indah saat terpejam. Bulu matanya yang lentik membuat Shanum tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melabuhkan kecupanya disana.
Binar masih terpejam, merasakan rasa yang tidak asing baginya, rasanya sama. Sama seperti yang pernah dirasakan dahulu saat seseorang menciumnya. Inilah kenapa Binar merengek seperti anak kecil memintanya pada Shanum. Sejak Shanum mengecup pipinya di bukit Villa kemarin, Binar berfikir keras. Seseorang sering menciumnya seperti ini.
" Sudah..., pulanglah...." Ucap Shanum pelan dan turun dari tempat tidurnya. Fikiranya kacau saat ini, wajah Sunny berkelebatan tiba-tiba. Shanum terduduk di depan meja belajarnya mengelus foto Sunny yang tertutup. Wajahnya terlihat sendu, ada tangis yang tertahan dalam hatinya saat ini.
Rasanya sakit, hatinya begitu pedih telah mengkhianati Sunnynya.
Selama ini hanya Sunny yang selalu diciumnya, bahkan Saga dan Saka adiknya saja tidak pernah diciumnya semenjak mereka tumbuh besar.
Tapi dia sendiri tak mampu melawan dorongan rasa yang begitu bergejolak untuk menyentuh Binar.
Binar menatap wajah polos itu tanpa berkedip, berusaha mengenali wajah yang dia yakini pernah ada dimasa lalunya itu.
Dimana aku bertemu denganmu sebelum ini babe?
Kenapa aku begitu merasa kau milikku babe...
Binar meremas tanganya kuat saat dilihatnya Shanum memeluk foto itu di dadanya dan mulai menangis.
" Apa kau begitu menyanyanginya?" Tanya Binar penuh rasa cemburu, matanya memerah menahan sesak didadanya.
Shanum mengangguk tegas, mengusap airmata dengan punggung tanganya.
Jawab Shanum dengan tatapan kosongnya, menerawang jauh ke masa lalu.
" Jika kau begitu sukanya pada Sunny, apa kau fikir Sunnymu itu juga iya!!" Binar memejamkan matanya untuk berusaha menahan diri agar tidak meledak dalam kemarahan.
" Sejak kami kecil dia hanya melihatku saja, fokusnya hanya padaku saja, dunianya hanya ada aku..... Aku yakin dia mencintaiku. Sampai diusia kami yang ke 13tahun, papaku dan ayah Sunny membicarakan tentang perjodohan. Kami begitu senang mendengarnya, kami langsung menyetujuinya.., kami begitu bahagia saat itu. Dia yang nakal tapi sangat tampan dimataku, akhirnya menjadi tunanganku, suamiku dimasa depan..."
" Sunny itu menggemaskan, dia sama seperti mu.... Dia..dia..juga sering memintaku untuk menciumnya, dan harusnya hanya dia---"
" Apa kau menurutinya? Kau menciumnya!!" Bentak Binar dengan wajah mengeras, meledak sudah rasa marah.
" Hemmm, tentu saja.." Jawab Shanum santai, seakan-akan tidak perduli dan tidak menyadari begitu marahnya Binar mendengar jawaban Shanum.
" Dimana saja kau menciumnya!!" Desak Binar lagi.
" Dimanapun yang aku suka, aku menyukai Sunny seperti orang gil---"
" Apa dibibir juga!!!" Sambar Binar cepat. Kali ini Binar telah berdiri dibelakang Shanum dengan tangan terkepal sempurna.
Shanum mempererat pelukanya pada foto Sunny.
" Kau fikir saja sendiri, Sunny itu tumbuh dan besar di Amerika. Kau tahu sendirikan kehidupan luar seperti apa. Sunny itu tidak sepolos seperi anak SD kelas 6 seperti yang kau kira..." Jawab Shanum.
" Sejauh mana kau dan Sunnymu itu" Binar semakin sakit mendengar kata-kata Shanum, ia terduduk lagi dikasur seperti orang yang tidak lagi bertulang.
" Kenapa?, kau ingin tahu bagian yang mana?, bahkan kami sudah sering tidur bersama..." Ucap Shanum lagi.
Binar meremas kepalanya, cemburu begitu mencekiknya. Tapi dia harus tetap waras, sejauh Sunny belum muncul dia masih ada kesempatan.
Mereka sama-sama terdiam cukup lama, keduanya tenggelam dalam lamunannya masing-masing.
" Bin...pulanglah...., aku mau tidur lagi..." Usir Shanum dengan mendorong tubuh Binar menyingkir dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Binar menatap foto yang kini tergeletak terbuka di atas meja belajar.
Dia kah Sunny??, kenapa dia terlihat seperti diriku?
Bahkan aku merasa dia adalah diriku...
Ada apa ini..., siapa dia? Dan...
Siapa diriku sebenarnya...
" Bin...pulanglah pleaseee...." Pinta Shanum dengan sangat.
" Hemmm, jadi dia ini Sunnymu?" Binar meraih foto Sunny dan mengamatinya dengan serius.
" Ya..., dia matahariku, kekasihku, cintaku...he's everything to me..." Ucap Shanum pelan, matanya sudah sangat berat. Gadis itu sudah tidak peduli lagi, kantuk sudah menyerangnya, mau pulang atau tidak si Binar terserahlah.
...***...
Pagi menyapa begitu hangat, setelah sholat subuh Shanum turun untuk membuat sarapan pagi. Mungkin yang simpel saja asal bisa mengganjal perutnya pagi ini, selai dan roti misalnya, atau roti dan selai tepatnya.
Tapi matanya terpaku saat mendapati sebuah memo yang tertempel di pintu kulkas.
π Sarapannya dimakan ya babe π
" Sarapan?" Gumam Shanum, langkah kakinya buru-buru berlari kecil ke meja makan.
Dengan cepat gadis itu menyambar tutup saji diatas meja itu.
Nasi goreng yang begitu menggiurkan.
Masih hangat, kapan dia memasaknya?
Apa dia masih disini?
Shanum memutar tubuhnya, mencari -cari keberadaan Binar.
" BIN!!!" Teriaknya mencoba memanggil. Barangkali belum pulang, tapi tidak ada sahutan.
Seperi biasa, tepat pukul enam tiga puluh pagi, Shanum telah selesai bersiap untuk berangkat sekolah.
Pintu ruang tamu yang terbuka menampakkan siluet pemuda yang berdiri di samping motornya, di depan gerbang.
" Hahhh???,dia udah disitu??" Gumamnya heran.
Binar melambaikan tanganya saat melihat Shanum melangkah keluar. Senyum manis terbit dari bibir Shanum tanpa dia sadarinya.
Binar melangkah masuk ke halaman rumah Shanum dengan langkah kaki lebarnya.
" Lo pulang jam berapa Bin?, sempat-sempatnya masak dulu..." Sambut Shanum dengan pertanyaannya.
" Enak nggak?, lo suka?" Tanya Binar dengan antusias.
" He em, enak banget...terimakasih, lo pulang jam berapa semalam Bin?" Tanya Shanum lagi masih penasaran.
" Sebelum subuh..." Jawab Binar dengan tangan lincah memasangkan helm ke kepala Shanum.
" Trus kamu nggak tidur?" Tanya Shanum lagi.
" Tidur dong..." Jawab Binar berseri-seri.
" Dimana?"
" Dikasur sama kamu..."
__ADS_1
" Hahhh!!!, APA BIN???"