BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Persiapan


__ADS_3

Panggung telah berdiri megah, aula Villa disulap sedemikian rupa.


Beberapa team terlihat sedang latihan pagi ini.


Pentas seni rencananya digelar nanti malam, khusus untuk seleksi siswa putri.


Lagi-lagi setelah sarapan para siswa cowok bergerombol di ruangan luas yang terdapat beberapa sofa dan karpet yang terbentang luas.


Siswa putra terlihat bercumpuk-cumpuk tiga orang sesuai sekolahnya masing-masing. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka pentaskan besok malam. Binar, Arnov dan Roy juga nampak duduk di sofa.


" Jadi lo bisa drum Roy, dan lo bisa Gitar Bin. Nah gue ngapain dong..." Tanya Arnov sambil menggaruk kepalanya.


" Lo jongkok didepan kami sambil buka topi lo itu!!, barangkali ada yang nyawer...." Sahut Roy.


" Lo kate gue pengemis!!,ga ada akhlak lo!!"


" Berisik, bidadari gue turun tuh..." Ucap Binar dengan mata menatap tajam ujung tangga.


" Eh, iya.... Bidadari gue juga cantik banget...., duh gak tahan pingin ngawinin Alexa cepet-cepet..."


" Ngawinin!!, lo kate Alexa ayam betina apa?" Sembur Arnov.


" Kawin dulu, juga boleh..." Sahut Binar tanpa sadar.


Arnov dan Roy saling pandang tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut sahabat mereka ini. Karena selama ini Binar paling anti dengan perempuan, eh sekarang dia terlihat bucin dan gila karena perempuan.


" Lo mau ngawinin Cahaya?" Pancing Arnov.


"Yupp!!" Sahut Binar cepat dan segera berdiri ketika melihat Shanum dan kedua sahabatnya melintas.


" Mau kemana babe?" Serunya tanpa sadar.


Beberapa peserta yang berada di sekitar merekapun senyum-senyum. Tak terkecuali Arnov dan Roy.


" Babe?" Bisik Arnov pada Roy.


" Sejak kapan?" Tanya Roy balik, masih dengan berbisik.


Keduanya sama-sama menggeleng gemas melihat tingkah Binar.


" Katanya tidak jauh di belakang Villa ini ada air terjun. Kemarin sore beberapa anak sudah kesana, katanya sejuk. Enak latihan disana, tenang..." Ucap Ayu.


" Jadi kami mau kesana..." Sambung Alexa.


Sementara Shanum melirik tampilan Binar yang begitu memukau. Kalau biasanya pemuda itu selalu memakai jaket dan hoodie. Hari ini dia hanya memakai kaos pendek yang memperlihatkan tubuhnya yang kencang dan putih bersih.


" Ekhem..." Deheman Binar membuat Shanum gelagapan. Sebenarnya sejak semalam Shanum susah tidur. Dia sadar sesadar sadarnya bahwa telah tumbuh suatu rasa aneh dari hatinya untuk Binar.


Mangkanya sejak habis sarapan pagi tadi dia berusaha menghindari Binar.


" Ngelamunin apa?" Tanya Binar sedikit membungkuk mendekati telinga Shanum.


" Kam--" Shanum dengan cepat menepuk-nepuk bibirnya, hampir saja dia keceplosan.


"Kam?" Tanya Binar.


" Oh..iya.., itu Bin. Gue kangen kampung..


Iya..kampung..." Jawab Shanum gaje.


" Yuk..." Ajak Binar mulai melangkah.


Sementara Shanum menoleh menatap dua sahabatnya dan dua sahabat Binar.


" Kemana?" Tanya Shanum pada mereka.


" Katanya mau ke air terjun..." Sambar Roy.


" Oh...Dia ik--- Akkhhhh..." Tarikan keras Binar pada tanganya membuat Shanum terkejut.


" Ayo, kok malah pada ngobrol disini..." Seru Binar masih dengan menyeret Shanum.


" Tunggu..., lo begitu aja Bin?" Tanya Shanum.


" Begitu aja?" Tanya Binar bingung.


" Lo nggak pakai hoodie lo?"


" Nggak!, kenapa?" Binar mengamati penampilannya, tapi baginya tidak ada yang salah.


" Ya nggak kenapa-kenapa sih..." Shanum terlihat salah tingkah sendiri.


Beberapa cewek lagi-lagi tersenyum dan menyapa Binar genit.


" Binar mau kemana?" Tanya salah satunya.


" Oh...ke belakang Villa. Katanya ada air terjun.." Jawab Binar acuh.


" Boleh ikutan kan?" Tanya mereka.

__ADS_1


" Boleh..." Jawab Binar.


"Yeayyy..." Teriak mereka histeris, dan bersiap melangkah mengerumuni Binar.


Tidak ada yang tau bahwa saat ini hati Shanum begitu mendidih. Rasanya ingin sekali kuku-kuku jarinya dia pergunakan untuk mencakarin wajah beberapa gadis genit itu.


Rasa geram yang luar biasa menusuk-nusuk hatinya saat ini, sampai-sampai dia merasakan sesak pada dadanya. Apalagi beberapa cewek terang-terangan menyukai ketampanan Binar.


Dan sialnya Binar justru malah senyam senyum sok iye banget. Membuat Shanum bertambah gerah dan tersiksa rohaninya.


Kesalnya begitu memuncak saat salah satu cewek mencoba menyentuh rambut Binar, bodohnya lagi Binar diam saja. Fix!!, hati Shanum benar-benar meledak dan pecah berkeping-keping.


" Duh sorry, gue nggak jadi ke sana deh, gue baru inget ada janji VC Shine" Ucap Shanum kesal.


" Kan bisa VCan disana atuh Cahaya..." Sahut Roy.


" Nggak deh, takut nggak ada sinyal..." Ucap Shanum dan langsung memutar badan kembali ke Villa.


Binar menatap punggung Shanum yang kembali kearah Villa. Terlihat raut sendu diwajahnya.


" Gue juga ngga jadi deh..." Ucap Binar dan mengejar Shanum.


" Loh kok?, Bin tunggu Bin...." Teriak para cabe-cabean itu mengejar Binar yang justru sedang mengejar Shanum.


" Tunggu Aya..." Binar menarik tangan Shanum yang baru akan menaiki tangga.


" Apa?, gue mau latihan Bin....." Ucap Shanum dan melepaskan tangan Binar.


" Kita latihan sama-sama yuk?" Binar kembali menangkap tangan Shanum lagi.


" Latihan apa? ha..ha..ha .." Shanum tak dapat menahan rasa geli di hatinya.


" Latihan untuk lo perfom nanti malam..."


" Ha..ha..ha ya Tuhan Binar, jadi lo mau jadi Shah Rukh Khannya gitu?" Shanum tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai mengusap perutnya yang keram.


" Maksud lo?" Tanya Binar lagi.


" Nanti malam kami bertiga itu performanya menari, tarian lagu india, masa lo mau latihan sama gue..ha..ha.., ngelawak lo.."


Binar tersipu malu, senyum kecil terbit dari bibirnya yang keren.


" Kalau mau hayuu..., boleh juga lihat si Binar ini nari..acha...acha...nehi...nehi...ha..ha..ha.." tawa Shanum lagi sambil terus menggoda Binar.



" Heyy, akhirnya..... Gue bisa liat senyum lo juga ya ampun...mimpi apa gue semalam..." Ucap Shanum saat melihat senyum indah di bibir Binar terbit dengan cerah.


" Yuk ikut gue babe..." Ucap Binar dengan menatap tajam Shanum.


" Kemana Bin?"


" Ke KUA..."


" Ihhhh, kamu ini Bin..ha..ha.."


" Ha..ha...ha.."


Mereka berdua tertawa tergelak di dasar tangga. Sementara yang lain melongo tak percaya. Si Binar yang cool itu rupanya bisa tertawa juga. Para gadis semakin klepek-klepek melihat aura ceria seorang Binar Buana Sanjaya.


" Ya Ampunn sakit perut gue karena lo Bin.." Shanum mengusap air matanya karena kebanyakan tertawa.


" Lo suka?" Tanya Binar


" Suka apa?" Shanum justru balik bertanya.


" Gue!, lo suka gue kan?"


Duaarrrrr!!!


Jantung Shanum tiba-tiba meletus karena syok akan ucapan Binar yang tepat sasaran.


Walaupun dengan mati-matian Shanum menyangkalnya, tapi inilah kenyataannya.


Benar bila saat ini telah tumbuh tunas kecil dalam hatinya tunas baru yang tumbuh segar menghijau, tepat disamping pohon yang telah berakar kuat didalam hatinya dan tak tergoyahkan sama sekali.


Ya, pohon lebat yang mengakar kuat itu adalah Manggala Sunny Putra Marvellino.


Sementara tunas kecil yang mulai tumbuh itu adalah Binar Buana Sanjaya.


" Ya ampun Binar, lo kepedean banget sih it----" Ucap Shanum gelagapan.


" Nggak perlu merasa terpaksa, kita pelan-pelan saja, tapi benarkan lo suka gue?" Binar menatap mata Shanum tajam.


Mata mengerikan yang ditakutin oleh Shanum. Karena mata itulah dia selalu merasa terhanyut dan bisa melupakan Sunny sesaat.


" Dih..kok gue ja---""


" Aya cantik !! aa Dion udah balik ni. Nih titipan neng Aya"

__ADS_1


Pemuda tampan dengan rambut cepak rapi menghampiri Cahaya.


Pemuda itu menyerahkan papper bag pada Shanum.


Alhamdulillah lo datang tepat waktu Dion...


"Wahhh, thanks. Kamu mau repot-repot cariin pesanan gue Dion..." Shanum melompat-lompat seneng.


" Buat lo apapun akan gue berikan, bahkan hatiku juga boleh lo miliki..." Dion menaik turunkan alisnya.


" Yeeee...ea..ea..., meleleh...gue ha...ha..ha..." Sambar Shanum dengan tawa kecilnya yang lucu.


Binar menatap interaksi keduanya penuh selidik.


Dari interaksi yang terlihat akrab dan dekat, sepertinya mereka telah saling kenal lama.


" Oh ya Cahaya, nih... Tolong isi blangko gue. Dan ini blangko lo kemarin. Sorry baru gue kembaliin.., semalam keburu tidur gue..." Lanjut Dion dengan menyodorkan dua lembar blangko pencarian teman baru.


" Oke siap boss..." Shanum berhormat ala hormat bendera pada Dion.


" Lo makin lucu ya Cahaya, dih nyesel banget gue pindah sekolah..." Dion menepuk keningnya, menyesal.


" Tuh..kan nyesel!!, ngeyel sihhh, gue nggak cuma tambah lucu loh Yon, gue juga tambah manis nih...."


Ucap Shanum dengan bergaya imutnya.



Binar menggenggam erat kepalan tanganya. Geram!!, cemburu!!, dongkol!!, memenuhi hati Binar saat ini.


Dia masih ada disini, tapi Aya dan cecunguk itu mengabaikan keberadaannya begitu saja.


" Gue balik dulu ya Ya, mau lenturin jari. Ntar malam dandan yang cantik ya.... Habis lo perfom kita makan malam bareng yuk...." Ucap Dion percaya diri.


" Issshh, lagak lo Yon!!, kita ini karantina. Enak aja keluar masuk sesuka lo..." Jawab Shanum.


" Gue ada kenalan panitianya Ya, aman lah itu, yang penting kan ada ini..." Dion menggesek jari jempol dan telunjuknya.


" Idih!!, nyuap itu mah..... Ogah gue Yon" Sahut Shanum cepat.


...*...


Sepeninggal Dion tadi sampai sore ini Binar hanya diam saja.


Shanum yang lemot nggak pekaan dan Binar yang merajukan, benar-benar ibarat air dan minyak tanah.


" Lo kenapa Bin?" Tanya Roy saat melihat Binar hanya tiduran di tempat tidur, terlihat malas-malasan.


" Pusing mikir Cahaya gue..." Jawab Binar jujur.


Arnov dan Roy saling pandang, dan sama-sama menggendikkan bahu mereka.


" Aya itu..., lo kenal dia sejak kapan?" Tanyanya pada Rio.


" Sejak SMP kelas 2, sejak gue pertama kali bertemu Alexa untuk pertama kalinya di Garmedeo" Sahut Roy, bibirnya tersungging senyum tipis saat mengingat masa lalunya bersama Alexa.


" Lo kenal Dion Pratama nggak Roy?"


" Kenal.., dia sepupunya Ayu Andira" Sahut Roy acuh.


" Oh..." Binar mengangguk paham sekarang.


Berarti emang temanan dari kecil, aman lah, batin Binar.


Pemuda itu melirik blangko Shanum yang disitanya tadi, dia kesal karena blangko Shanum sudah full terisi. Tapi namanya tidak ada sama sekali, padahal punya dia Shanum diurutan nomor satu.


" Jadi kita mau perfom apa nih?, dari kemarin belum fix juga!!" Tanya Arnov.


Mereka terlihat sama-sama sedang berfikir keras.


" Lo bisa nyanyi nggak Bin?" Tanya Roy.


" Bisa..."


" Lo nyanyi aja pakai piano Bin...." Ucap Roy lagi.


" Trus kita?" Sambar Arnov.


" Lo bisa apa?" Tanya Roy balik.


" Nggak bisa apa-apa gue mah..." Jawab Arnov santai.


" Ya udah diem bae lo..." Roy mentoyor pundak Arnov.


" Nah trus apa gunanya gue ikut nih?" Ucap Arnov lagi.


" Ya nggak tahu gue, sebagai pawang hujan kali. Rambut lo yang jabrik itu kan mirip penangkal hujan. Mbak Roro Istiati yang nangkal hujan di Mandalika aja kalah sama lo ha...ha..ha.."


" Ck!!, gue nih nanya bener-bener, Bin!! Gue ngapain nih?"

__ADS_1


" Lo lipsing, gue keyboard dan Roy gitar. Yuk kita jajal sekarang. Tempat latihan kosong tuh..." Ucap Binar.


__ADS_2