
Pagi ini Sunny terlihat lesu dan tidak bersemangat. Tubuhnya seperti kehilangan ruh-nya, tidak ada gairah untuk melakukan apapun.
Dua minggu waktu kebersamaannya dengan istri dan putra tercintanya tinggal dua hari lagi, bahkan koper Shanum, Saga dan Prince juga telah keluar dari lemari.
" Huffttt..." Desahnya berat.
Ditatapnya Shanum yang kini sedang melipat beberapa pakaiannya untuk dimasukkan ke koper.
" Aku pasti akan kesepian lagi..." Ucapnya sendu, terdengar nada suara yang begitu berat, sangat mencerminkan kesedihan yang mendalam dari diri Sunny.
Ingin rasanya bibir berucap jangan pergi, atau setidaknya meminta istrinya menundanya beberapa hari lagi. Tapi...
Sunny tidak mau disebut sebagai suami yang egois. Mereka sama-sama sadar akan passion mereka masing-masing.
Sunny sangat tahu cita-cita dan impian Shanum sejak kecil. Menjadi pendidik, menjadi guru, menjadi dosen....
Apalagi beberapa hari lalu datang surel di email Shanum, mengabarkan bahwa surat pengajuan dirinya untuk menjadi salah satu asisten dosen profesor Benjamin telah di acc.
" Hufftt...." Lagi-lagi Sunny hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar.
" Mau sarapan apa yang?, Sha siapin dulu ya..." Pamit Shanum setelah aktifitasnya pagi ini selesai.
Sunny menatap penjuru kamarnya, terlihat sudah sangat rapi semua, jelas beda. Ada istrinya disini dan tidak, jelas ada bedanya.
Kalau biasanya ranjangnya tidak pernah rapi saat dia akan pergi kerja, kini telah rapi tertata. Kalau biasanya handuknya akan terlempar disana-sini, kini rapi tergantung ditempatnya.
Sarapan, makan siang, makan malampun hampir dua minggu ini selalu tersedia tanpa harus repot-repot dirinya terjun ke dapur.
" Yang?, pagi-pagi kok ngelamun sih!!"
Tepukan lembut di pundaknya menyadarkan Sunny dari lamunanya sedari tadi.
" Ahhh, apa?. Apa babe?" Tanya Sunny.
Shanum menghembuskannya nafasnya pelan, sedari semalam suaminya ini tampak banyak diam dan melamun. Dan saat ini, hari masih sangat pagi, dia sudah harus mendapati suaminya melamun, lagi.....
" Yang, sepertinya ada yang kamu fikirkan akhir-akhir ini?, bagi denganku?, apa itu?" Bisik Shanum.
Jemari halusnya mulai mengelus rambut yang telah tersisir rapi itu, mengecup pucuk kepala suaminya penuh cinta.
" Yakin mau mendengar keluhkahku..." Desis Sunny berat.
" Tentu saja, aku istrimu.... Bagi beban beratmu padaku..." Sahut Shanum yakin.
Sunny melingkarkan kedua tangannya kepinggang ramping Shanum, lalu menariknya mendekat padanya.
Kini kepalanya benar-benar tepat didepan perut Shanum.
Seperti seorang anak yang haus akan kasih sayang, Sunny mengusap-usapkan wajahnya diperut rata wanita tercintanya setelah bunda Dian itu dengan pelukan yang erat.
__ADS_1
" Babe..., kenapa hidup kita terus seperti ini?, berpisah lalu bertemu...dan berpisah lagi..." Ucap Sunny sendu.
" Sedari kecil seperti ini, kita bertemu saat berkumpul di white base..., lalu berpisah lagi saat aku harus kembali ke Chelsea jika liburan telah habis" Lanjutnya.
" Kala itu juga kebahagiaan terbesarku kembali datang, saat pembicaraan pertunangan kita kau ingat?. Akan tetapi kebahagiaan itupun hanya sesaat. Aku kembali terpisah lagi denganmu karena penculikan itu..."
Sunny kembali mengeratkan pelukannya, semakin menenggelamkan kepalanya diperut rata Shanum.
Nyaman, perut istrinya adalah tempat ternyaman baginya.., tapi lusa...
Lusa surga kenyamanannya ini akan meninggalkan dirinya, kembali merana.
" Setelah menikah denganmu pun, lagi-lagi kita seperti ini..... Kapan kita bisa menjadi keluarga yang utuh seperti halnya keluarga orang-orang diluar sana babe?, kapan hari itu datang...?" Lanjut Sunny lagi.
Shanum menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan rasa sesak yang menghantam dadanya. Tapi apa yang bisa diperbuatnya sekarang?.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam, keduanya sama-sama menikmati kedekatan yang menentramkan ini. Rasa cinta dan kerinduan tidak hanya harus disalurkan dengan nafsu. Berdua berpelukan seperti ini juga sungguh mampu menghadirkan rasa nyaman tersendiri.
" Mommy...daddy!, Prince mau susu hiks..hiks..." Seru Prince didepan pintu.
Pria kecil itu segera mendekat, wajah protesnya terlihat begitu dingin.
Selama hampir dua minggu disini, Prince selalu tidur bersama Saga.
Sunny berhutang banyak akan semua kebaikan Saga selama mereka berada disini.
Karena berkat Saga juga, malam-malam panasnya beberapa hari ini lancar luncur tanpa hambatan.
" Husstt....kok Prince ngomong kaya gitu?, kapan mommy dan daddy tidak sayang Prince.." Sergah Sunny cepat.
" Jadi kalian tetap sayang Prince kan walaupun nanti ada adik bayi?" Tanya Prince lagi.
" Adik bayi?"
Kini kedua orang dewasa itu saling berpandangan, berusaha memahami kemana arah ucapan Prince.
" Ya adik bayi, uncle Saga bilang..Prince harus tetap tidur dengan uncle sampai adik bayi ada di perut mommy. Big Ayah dan big Bunda juga bilang begitu kemarin.." Sahut Prince.
Sunny tersenyum sambil mengelus tengkuknya. Saga dan Ayah bundanya ternyata benar-benar berperan apik dalam usahanya memonopoli istrinya hampir dua minggu ini.
Tapi babby?, tak terbersit sedikitpun dalam benak Sunny saat ini untuk memiliki anak lain selain Prince.
" Jadi Prince pengen punya adik?" Tanya Sunny lembut, jempol dan telunjuknya kini terjulur untuk mencubit pipi putranya yang menggemaskan itu.
" Sure!!, William punya adik yang sangat cantik. Prince juga pengen adik kecil yang cantik seperti Cellina..." Jawab Prince tegas.
" Oke akan mommy dan daddy buatkan. Tapi...kita mandi dulu, biar mommy buatkan susumu. Lalu kita pergi berdua, mau?" Ucap Sunny.
" Berdua?, daddy dan Prince? tapi...mommy tidak diajak?" Kini tatapan matanya menatap sang mommy.
__ADS_1
" Tidak!!, hari ini khusus hari kita berdua saja....mommy tetap dirumah. Mau tidak kita ngdate berdua?" Tawar Sunny.
" Tentu! tapi...mommy tidak cemburu kan?" Lagi, pertanyaan Prince seolah begitu mengkhawatirkan perasaan mommynya.
Shanum berjongkok menyamakan tingginya dengan putranya itu. Dirangkumnya pipi chubby Prince dalam kedua telapak tangannya.
" Kenapa cemburu?, kalian sama-sama kesayangan mommy. Daddy kecintaan mommy, Prince juga buah cinta mommy..... Disini, dihati mommy tersimpan cinta yang besar untuk kalian, sangat besar sampai penuh dan tumpah-tumpah.Oke!!, kalian harus bersiap!, mommy siapkan sarapan dulu..."
Cup...
Cup...
Dikecupnya pucuk kepala kedua pria beda usia itu lembut, lalu beranjak melangkah menuju dapur.
...***...
Sepeninggal suami dan putranya pergi nge-date, Shanum kini duduk termenung di sofa ruang keluarga, matanya memang menatap pada layar laptop didepannya.
Tapi hati dan fikiranya penuh akan kata-kata curhatan hati suaminya tadi pagi. Sejatinya hari ini adalah batas terakhir jawabanya akan kesediaan Shanum bergabung dengan team Profesor Benyamin.
Beberapa hari lalu sudah pasti jelas Shanum masih sangat antusias untuk langsung meng-oke kan form itu, tapi kini keraguan merayapi hatinya.
Rasa resah saat mengingat wajah kesenduan Sunny sangat mengusik hatinya.
Rasa sesak saat mendengar curhatan Sunny sungguh-sungguh begitu meremat hatinya.
Sakit....sungguh sakit, beberapa kali dia mengusap air mata yang meleleh tanpa disadari olehnya.
Untuk apa aku mengejar mimpi dan materi yang tak seberapa jika suamiku tidak ridho...
Untuk apa aku begitu sibuk mengejar cita-citaku jika suamiku kesepian disepanjang harinya..
Untuk apa aku mati-matian mengorbankan kebahagiaan putra dan suamiku hanya demi satu kata 'mimpi'.
Apakah aku telah egois selama ini..
Ya Alloh...
Sakit hati ini mendengar keluhannya seperti tadi...
Apakah sudah saatnya aku melepas semua...
Semua yang aku impikan telah ada didepan mata saat ini..
Tapi keluarga kecilku? Benar kata Sunny..
Kapan kami bisa mewujudkan Sakinah, Mawadah dan Rahmah jika kami terus terpisah begini.
Benar kata Saga...
Umur tidak ada yang tahu, pergunakanlah sebaiknya selagi bisa...
__ADS_1