
" Kau minta putus karena cemburu kan?" Bisik Sunny ditelinga Shanum. Hembusan nafasnya menerpa ruang dengar Shanum membuat gadis itu merinding.
" Tidak!!" Jawab Shanum tegas.
" Lalu karena apa?, karena fitnah itu?"
" Termasuk..." Jawab Shanum dengan membuang mukanya kesamping.
" Termasuk? Lalu alasan lainya?" Kejar Sunny dengan mencoba mencari mata Shanum untuk ditatapnya.
" Alasan lainya......., karena aku tidak pernah mencintaimu!!" Jawab Shanum dengan mata terpejam.
Duaarrrrr!!!
Jantung Sunny seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat.
" Apa? Ha...ha..ha...kamu bohong kan..." Sunny melepaskan pelukanya dengan tubuh yang bergetar
" Aku tidak bohong Binar!!, aku tidak pernah mencintaimu...sama sekali" Ucap Shanum dengan bibir bergetar.
Gadis itu memejamkan matanya, tampak hembusan nafasnya begitu berat dan sesak. Ini berat, tapi harus diucapkan sekarang, sebelum cintanya semakin besar.
Sunny mematung ditempatnya, dadanya begitu pedih. Fix, jantungnya serasa dicabut paksa dari tempatnya.
" Kamu bohong!!, sejak kita pacaran sampai hari ini kamu sudah 12 kali mengucapkan cinta padaku, bahkan aku masih ingat betul dimana saja kau mengatakannya babe..." Sunny memutar kursi Shanum agar menghadapnya.
" Lihat aku, kamu mencintaiku..aku merasakan itu..."
" No, I'm not!!" Seru Shanum masih dengan menunduk, rambutnya menjuntai menutupi wajahnya.
" Yes!! You're!!" Sahut Sunny, matanya mulai memerah menahan tangis.
" No!!!" Teriak Shanum dengan berderai air mata, kedua tanganya menutup rapat wajahnya.
" Yes you are!!!" Bentak Sunny emosi! dia tidak mau mendengar ini, kepalanya begitu pusing tiba-tiba. Pemuda itu terlihat menjambaki rambutnya sendiri dengan frustasi.
" Pergilah...., aku mau kita putus...." Bisik Shanum lagi.
Sunny mengeratkan genggaman tangannya sampai bergetar dan semua kuku-kukunya kini berubah memutih.
Sreek.. Brugh!!
" Ahhhhh..."
Sunny mengangkat tubuh Shanum dan menjatuhkanya di ranjang.
" Kau bilang tidak mencintaiku?, kau....tidak??" Mata Sunny kini memerah begitu mengerikan.
" Tidak...." Jawab Shanum lemah.
Sunny mer*mas-rem*s rambutnya kasar. Emosinya mendidih sekarang. Dadanya panas dan jantungnya begitu cepat berdetak. Matanya memerah, air bening merembes dari sana..
Brugh!!
Kini dia mengungkung tubuh Shanum dibawahnya.
" Kau tidak mencintaiku?" Tanyanya lagi, suara Sunny begitu bergetar, air mata menetes tanpa disadarinya.
Sakitnya begitu dalam, gadis yang digilainya seumur hidupnya hari ini berkata-kata yang menyakitkan. Tidak mencintainya!!
" Tid---- emmppph....emmmpp....ennn ahhhh"
Sunny menyambar bibir Shanum, ********** dengan lembut, dengan penuh perasaan.
" Tidak?" Tanya Sunny lagi dengan mata yang begitu sendu.
Shanum tetap menggeleng.
Lagi, bibir Sunny kembali menyambar dengan cepat, kali ini Sunny ********** dengan brutal, bahkan tak hanya itu. Sunny mengigit kecil bibir itu hingga terbuka dan lidahnya dengan nakal mengobrak-abrik mulut Shanum, menjelajahi setiap sudut-sudutnya.
Shanum menjerit dalam hati, kedua tanganya memukuli punggung Sunny sekuat-kuatnya, tangisnya pecah tak lagi terbendung. Sementara Sunny hanya membantu dan terus tenggelam dalam kemarahannya.
" Tidak?, sedikit pun?" Tanya Sunny lagi setelah melepaskan ciuman brutalnya. Bibir Shanum terlihat memerah dan bengkak, air matanya membasahi wajahnya yang ayu.
Shanum yang tidak bisa berkata-kata karena terengah-engah hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi.
__ADS_1
Sunny semakin menggeretakkan giginya, geram. Dengan mata yang juga bercucuran air mata..... Sakitnya begitu dalam, sakitnya sampai meremat jantungnya.
" Baiklah juga itu maumu..."
Pemuda itu bergegas berdiri, lalu menuju pintu kamar.
Ceklek..ceklek..
Srekk!! Srekkk!!
Ceklek..ceklek..
Sunny melangkah dengan begitu marah, dikuncinya pintu kamar Shanum, lalu dengan kasar menarik tirai dan menutupnya rapat. Jendela dan pintu balkonpun ikut dikuncinya serta.
Tak sampai disitu, kini Sunnypun melepaskan hoddienya dan melemparkannya sembarangan.
" Jika kau begitu percayanya pada mereka sampai ingin putus dariku... Let's I show you. Aku akan men-servismu gratis!!" Ucapnya dingin dengan mata tajam menatap Shanum.
Shanum gemetaran dengan tubuh meringkuk disudut tempat tidur, dahulu saat melihat Buana menghajar Miko dia tak setakut ini. Tapi kali ini dia benar-benar takut.
Sunny duduk ditepi ranjang..., menatap gadis yang begitu merajai hatinya itu tanpa kedip.
" Katakan sekali lagi?, kau benar-benar ingin putus? Kau percaya mereka dan kau tidak mencintaiku!!" Lirih Sunny.
" Ya, aku percaya mereka, aku ingin putus dan aku......., tidak mencintai mu"
Srrettt...
Sunny menarik kaki Shanum hingga gadis itu jatuh terlentang.
Dengan cepat Sunny menindihnya...
" Jangan menyakitiku Shanum...please.., jika kau ingin break aku nggak masalah.... Tapi jangan putus, ku mohon..." Sunny menyatukan kening mereka, bahkan hidung merekapun bersentuhan.
Keduanya menejamkan mata dengan air mata yang sama-sama deras mengalir.
" Jika kau bosan denganku, baiklah kita istirahat dulu, kejarlah mimpimu. Dan aku pun begitu.... Tapi sayang, you're mine. Only mine.... Aku tidak akan mau putus.." Bisik Sunny lagi.
Cup...cup...cup...
" Jangan menyakiti aku Shanum...princess...." Liriknya lagi.
" Tidak Bin...., aku tetap ingin kita put---"
Dibekapnya mulut Shanum dengan telapak tangannya. Kepalanya menggeleng berulang-ulang. Matanya kembali menyala merah. Kesal juga lama-lama menghadapi gadis keras kepala ini.
" Fitnah telah membutakan matamu?, kau percaya aku sebejat itu?" Sunny yang kembali terkuasai emosi menyesap leher Shanum dengan kasar.
" Akkkhhhh" Teriak Shanum syok.
Tok..tok...tok...
Pintu diketuk dari luar..
" Princess??, Are you oke? I'm coming already. Kau sudah tidur?"
Suara Shinee mengagetkan Shanum saat ini. Kedua tangannya menutup mulutnya rapat.
Sunny tersenyum sinis, dengan cepat disesapnya leher Shanum disisi yang lainya.
" Akkkhhhhh" Teriak Shanum lagi tanpa sadar.
" Princess!!!" Teriak Shinee lagi diluar pintu, dari suaranya terdengar begitu khawatir.
" Bin pulanglah...kumohon....." Ucap Shanum penuh permohonan, didorongnya dada Sunny yang berada diatasnya.
" No, just say you love me babe ..." Sunny masih tetap kukuh.
" Tidak Binar, aku tidak mencintaimu. Ak----emmmppp...emmpp.."
__ADS_1
Sunny tidak perduli lagi, mau terciduk terciduklah!!
Mau diseret ke penjara sekalipun dia pasrah.
Srek...
Sunny merobek baju atasan Shanum dengan kasar, lalu melemparnya ke lantai begitu saja. Dan yah...
Sunny menyentuh daerah-daerah yang terlarang untuk disentuhnya, semuanya dikecupnya dengan airmata yang bercucuran.
Shanum berontak sebisanya, menendang mencakar. Tapi demi menjaga nama baiknya, gadis itu harus diam tanpa suara.
Diapun akhirnya menggigit tangan Binar agar tidak mengeluarkan suara-suara yang akan semakin membuat Shinee curiga.
" Stop it Binar...please..." Ucap Shanum lirih, tenaganya habis untuk melawan. Kali ini dia pasrah saja, tapi justru kini sentuhan Sunny yang awalnya kasar dan brutal berubah menjadi lembut dan penuh perasaan.
Sentuhan Sunny semakin menjadi-jadi bahkan membuat Shanum hilang kewarasan. Sisi wanitanya menari-nari diatas rasionalitasnya. Dan gilanya!!, sudut hatinya berharap lebih.
" Uuhhhhh" Lenguhnya saat gigitan dan kecupan Sunny semakin kemana-mana dan tak terkendali lagi. Sunnypun seakan lupa akan kemarahannya.
Tok..tok...tok..
" Princess!! Apa kau mimpi buruk!!" Suara ngebas maskulin diluar pintu menyadarkan Sunny seketika, kewarasannya kembali mencengkeram otaknya.
" Ayah!!!" Lirihnya pelan.
Dengan cepat Sunny meloncat menjauhi tubuh Shanum. Apapun di dunia ini bisa dia terjang, tapi tidak ayahnya. Satu yang ditakutkan Sunny di dunia ini dan itu adalah kemarahan ayahnya.
" Princess???" Lagi, volume suara uncle Marvel semakin terdengar meninggi.
Beberapa saat lalu Shinee memanggil ayahnya karena merasa ada yang aneh dengan Shanum.
" I...l...I'm oke...uncle, Sha oke..." Jawab Shanum gagap.
" Then...?"
" Itu...itu...itu hanya mimpi buruk uncle.." Shanum dengan cepat mengusap wajahnya yang basah oleh airmata, dengan tangan bergetar dia cepat-cepat membungkus tubuhnya yang terbuka bagian atasnya dengan selimut.
Sunny mematung dengan gelisah, berulangkali mengusap wajahnya yang begitu panik.
Ceklek.
Sunny yang mendengar suara kunci mulai berputarpun segera menhampiri Shanum, mengecup keningnya dengan lembut.
" I'm so sorry, but believe me.... I love you so much..."
Sunny buru-buru memakaikan hoddienya yang tergeletak dilantai pada Shanum.
" I'm sorry..." ucapnya lagi sebelum dengan cepat Sunny melesat keluar ke balkon.
Shanumpun tak kalah panik, gadis itupun segera di berdiri. Jemarinya menyisir rambutnya asal-asalan untuk menutupi bekas-bekas merah hasil perbuatan Sunny barusan. Lalu dengan cepat berlari kearah pintu.
Pintu terbuka, tepat setelah dia berada di balik pintu. Tampak wajah khawatir Shinee dan uncle Marvel berada tepat di depanya.
" Kamu berteriak sejak tadi, jadi aku meminta kunci cadangan pada ayah, takut terjadi apa-apa sama kamu.." Ucap Shinee sambil mengamati penampilan Shanum yang janggal dimatanya.
" Tidak, aku hanya mimpi buruk saja. I'm sorry..." Ucapnya dengan menunduk.
Marvel menatap tempat tidur yang begitu acak-acakan, lalu tatapannya berpindah ke wajah Shanum yang menunduk. Pria dewasa itu sepertinya mencurigai sesuatu.
Tanpa aba-aba diapun masuk ke kamar begitu saja. Beberapa buku-buku tebal masih berserakan di kasur, dengan sprei yang kacau. Tatapanya beralih ke tirai balkon yang terbuka dibagian pintunya saja.
" Kenapa belum ditutup pintunya, ini sudah larut..." Uncle Marvel melangkah kearah pintu balkon dan menutupnya.
Udara di dalam tidak terlalu dingin, berarti pintu ini baru saja terbuka..
Apa yang kau sembunyikan dari kami princess??
Dan hoddienya?, sejak kapan tidur pakai hoddie..dan terbalik???
Sedangkan bawahannya babbydol?
Mata Marvel yang jeli terus memindai seisi kamar, gigi-giginya memainkan bibirnya berulang-ulang dengan gigitan-gigitan kecil. Mirip seperti tingkah Sunny saat menggigiti bibirnya.
" Ya sudah, kembalilah tidur. Tidak usah memaksakan diri terlalu larut belajar..." Uncle Marvel mengusap kepala Shanum yang hanya diam dan menunduk sejak tadi.
__ADS_1
" Mau ditemanin?" Tanya Shinee dengan tawanya yang renyah.
Sementara uncle Marvel kembali menemukan petunjuk. Saat akan melangkah keluar, matanya melihat baju atasan yang semotif dengan celana yang dipakai Shanum saat ini, teronggok mengenaskan di sudut bawah kaki ranjang dalam keadaan yang robek.