
*
*
"Aku minta maaf, telah membuatmu stress, aku janji tidak akan menggangumu lagi."
"Anda itu guru seharusnya anda lebih tau sopan santun, apa yang anda lakukan tadi sama sekali tidak mencerminkan seorang guru." sahut Yusuf.
"Maaf pak Yusuf, saya juga sadar kalau yang saya lakukan saat ini salah, tapi saya juga tidak bisa menahan diri ini yang ingin bertemu Niar."
"Silahkan anda pergi dan jangan pernah kembali kesini lagi!!"
"Oke, aku akan pergi."
Daniel akhirnya pergi, Niar langsung memeluk Yusuf dan menciuminya. "Kamu tidak apa-apa kan mas? Jangan berantem lagi, kalau kamu tadi jatuh gimana? Aku takut kehilanganmu mas." ujar Niar lalu kembali menangis.
Yusuf membalas pelukan Niar. "Seharusnya aku yang nanya sama kamu, kamu tidak apa-apa kan? Apanya yang sakit? Maafin aku sayang, aku selalu terbakar api cemburu."
"Aku tidak apa-apa hanya jatuh doang,
kita masuk yuk."
Yusuf membopong Niar masuk lagi dan mendudukannya di tepi ranjang. "Sayang, kamu sudah makan siang belum?"
"Belum sih mas tapi nanti saja aku belum laper, kamu sendiri?"
__ADS_1
"Sudah barusan, aku balik kantor lagi ya? kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?"
Niar merapikan baju Yusuf yang berantakan. "Tidak apa-apa, aku juga mau siap-siap kuliah."
"Nggak usah masuk dulu lah sayang tadi malam kamu demam loh, lagian mata kamu masih merah karena tadi menangis dan agak bengkak juga."
"Nggak apa-apa mas, dari pada aku bengong di rumah tambah stress."
"Terserah kamu, yang penting kamu happy." ujar Yusuf pasrah.
"Tapi aku barengan ya sama kamu?"
"Iyaa, nanti pulangnya aku jemput kamu."
"Tunggu sebentar aku siap-siap dulu."
Sampai di kampus Niar melihat Eva bersama laki-laki yang kemarin di jalan, mereka sedang duduk di bangku wilayah kampus. Niar mau menghampiri mereka namun tidak jadi takutnya malah mengganggu, Niar berjalan pura-pura tidak melihat Eva.
"Niar, sini!"
Suara Eva menghentikan langkah Niar lalu menoleh ke arah Eva. "Loh kamu disini Va?"
"Kenalin temenku."
Roy mengulur tangannya. "Roy."
__ADS_1
Niar menyambut uluran tangan Roy. "Niar."
"Gue cabut duluan Va." ujar Roy sembari beranjak dari kursi tersebut.
"Oke." jawab Eva singkat sembari mengacungkan ibu jarinya.
"Itu tadi siapa Va?" goda Niar
"Temen." jawab Eva singkat.
"Temen atau demen?" goda Niar lagi.
"Ya-- temen, temen dekat."
"Temen dekat... dekat di hati maksudnya?" Niar masih terus menggoda Eva.
Eva membuang nafas kasar. "Iya ya dia temen dekat tapi kami belum jadian kok."
"Cie.. cie.. ada yang sedang jatuh cinta nih." Niar masih gencar menggoda Eva.
"Niar, mata kamu merah dan agak bengkak gitu kenapa? Kamu habis nangis? Apa ada masalah?" tanya Eva mengalihkan pembicaraan.
Niar pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Eva tentang Daniel, yang saat ini menjadi masalah di rumah tangganya.
"Masa sih Yar? Aku tidak menyangka kalau mas Daniel bisa jatuh cinta sama kamu, padahal dulu dia pernah berusaha mencintai aku namun tetap tidak bisa, sekarang malah jatuh cinta pada kamu yang jelas-jelas berstatus istri orang." tanya Eva seakan tidak percaya dengan curhatan Niar barusan.
__ADS_1
"Menurutmu aku harus gimana Va?"
Bersambung...