
*
*
Yusuf dan Niar duduk di bangku depan kamar Erlang. "Aku ingin kita membahas tentang penyakit kamu mas." kata Niar membuka pembicaraan.
Yusuf menoleh untuk menatap istrinya. "Apa harus sekarang?"
"Mau nunggu apa lagi? Nunggu penyakit kamu semakin parah? Sekarang Erlang sudah membaik, aku ingin kita fokus dengan kesembuhanmu. Aku nggak mau kalau sampai kehilangan kamu mas."
"Bagaimana dengan Daniel? Sebenarnya aku enggan berobat karena kamu akan meninggalkan aku." kata Yusuf sembari menundukkan kepalanya.
Niar mengangkat wajah Yusuf. "Kamu jangan terlalu khawatir tentang Daniel, aku sudah tau kelemahannya."
Yusuf mengernyit. "Maksud kamu?"
"Daniel selalu iba ketika melihat aku menangis, itu bisa aku jadikan senjata untuk menolaknya."
"Bukan hanya Daniel sayang, aku pun juga begitu jika aku melihatmu bersedih apalagi sampai menangis hatiku berdenyut nyeri. Kamu disana tidak di sentuh-sentuh Daniel kan?"
"Enggak. Daniel itu sebenarnya baik loh."
"Jangan bilang kalau kamu mulai jatuh cinta padanya?"
Niar hanya tersenyum melihat suaminya yang mulai cemburu.
"Kenapa senyum-senyum?"
__ADS_1
Niar menjadi gemas dan mencubit pipi Yusuf. "Kamu ini ada-ada saja mas, masa' aku hanya bilang Daniel baik di kiranya jatuh cinta,
emang kita anak muda, ingat umur mas."
"Habisnya kamu muji-muji dia sih."
"Kita kembali ke topik awal! Rencananya kamu mau berobat kemana? Di Indonesia atau ke luar negeri, Singapura misal?"
Yusuf menggeleng. "Aku belum tau sayang belum kepikiran."
Niar membuang nafas kasar. "Jangan bilang belum kepikiran! Tapi harus dipikirkan."
"Iya ya nanti aku pikirkan, sekarang kita masuk lagi kasian Erlang sendirian." Yusuf beranjak dari kursi lalu menarik tangan Niar.
"Kayla mana mas?" tanya Niar sembari berjalan beriringan dengan Yusuf memasuki kamar rawat Erlang
***
Niar memeluk suaminya untuk berpamitan. "Aku kerumah Daniel dulu ya mas." bisik Niar.
Yusuf pun membalas pelukkan istrinya. "Sungguh sebenarnya aku tidak rela kamu di sana sayang."
"Ehem... Ehem... pelukannya lama amat yak? Cuma di tinggal pulang doang kayak mau di tinggal perang aja." goda Erlang pada kedua orang tuanya.
"Iya nih Papamu manja, Mama pulang dulu ya nak jangan lama-lama di rumah sakit cepat pulang." pesan Niar pada anaknya lalu memeluk dan mencium Erlang.
"Iya Mah, Erang juga sudah rindu dengan bantal kasur Erlang di rumah."
__ADS_1
Yusuf terkekeh. "Rindu kok sama bantal kasur, rindu tuh sama pacar."
"Ini juga sesang nyari Pah tapi belum nemu, mungkin pacar Erlang masih kecil kali ya, kayak Papa sama Mama selisihnya jauh."
***
Niar kembali ke rumah Daniel, dan ternyata Daniel sudah menunggunya.
Niar berjalan memasuki rumah Daniel lalu menuju meja makan dimana Daniel sedang duduk disana. "Daniel, kamu nungguin aku?"
"Iyalah, temenin aku makan malam!" titah Daniel.
Niar menurut saja dia duduk di sebelah Daniel untuk menemaninya makan, selama Daniel makan, Niar hanya diam dan menunduk sampai Daniel selesai dengan makanannya.
Daniel memiringkan kepalanya untuk menatap Niar. "Kamu kenapa?"
"Apa kamu tidak tau? Aku disini tersiksa,
kamu telah merenggut kabahagiaanku." jawab Niar di sertai air mata mengalir di pipinya.
Daniel segera menghapus air mata di pipi Niar. "Maafkan aku Niar, aku sudah memberikan satu ginjalku pada anakmu,
apa aku salah jika aku hanya meminjammu sebentar saja sebagai imbalannya?"
"Maksudnya?"
Bersambung....
__ADS_1