
Ibu mengusap bahu Yusuf. "Ibu pasti mendo'akan cucu dan menantu ibu."
Yusuf mencium punggung tangan ibunya dan segera masuk ke dalam menemani istrinya melahirkan.
Sampai di dalam Yusuf melihat istrinya yang sedang merintih kesakitan. Dia langsung mendekat serta mengelus perutnya, menggenggam tangannya dan mengecup kening istrinya. "Sayang, apanya yang sakit? Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu tidak kesakitan?"
"Sabar pak, ini hal yang wajar seorang ibu yang mau melahirkan normal memang harus melalui proses pembukaan dulu, nanti kalau bayinya sudah lahir rasa sakit itu perlahan akan hilang." ujar Dokter.
"Tapi masih berapa lama lagi dok? Kasian istri saya kesakitan, atau di cesar saja dok supaya lebih cepat."
"Kalau bisa melahirkan normal sebaiknya lahir normal saja pak."
Niar menggenggam erat tangan Yusuf. "Sudah mas, tidak apa-apa kok aku masih kuat, yang penting kamu sudah ada disini menemani aku, itu sudah membuat aku bahagia dan kuat menjalani proses ini."
"Aku akan selalu disini untukmu, kamu yang kuat ya sayang, dulu waktu melahirkan Erlang juga seperti ini?" tanya Yusuf, dia membayangkan waktu Niar melahirkan Erlang seorang diri.
"Iya mas, perjuangan ibu melahirkan memang harus seperti ini." jawab Niar.
Yusuf kembali mengecup kening istrinya. "Maafin aku sayang waktu itu aku tidak di sampingmu."
Niar tersenyum tipis. "Yang sudah berlalu biarkan berlalu mas."
"Ibu Niar sudah saatnya melahirkan
ikuti aba-aba saya ya bu."
__ADS_1
Niar pun mengikuti aba-aba dari dokter.
Yusuf sampai meneteskan air mata melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka. Setelah perjuangan panjang, akhirnya lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik.
"Selamat ya pak/bu, bayinya lahir dengan selamat berjenis kelaminnya perempuan,
dia cantik secantik ibunya." ujar Dokter.
"Terima kasih dok sudah menolong istri saya melahirkan buah hati kami."
"Sama-sama pak ini sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya tinggal dulu."
Dokter keluar, setelah bayi di bersihkan suster menyerahkannya kepada mereka dan kini sudah bobo cantik sebelah Niar.
Yusuf menghujani istrinya dengan kecupan. "Terima kasih sayang kamu sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan zuriatku, buah hati kita yang cantik."
"Kamu ada ide sayang?" tanya Yusuf.
"Terserah kamu mas, karena bayi kita perempuan yang penting ada nama belakangku."
Yusuf berfikir sejenak. "Aku kasih nama anak kita 'Kayla Jihania Samudra' gimana bagus nggak?"
"Nama yang cantik mas aku setuju, ibu dan Andi suruh mereka masuk mas pasti mereka sudah tidak sabar menunggu dari tadi."
"Ok. Aku keluar dulu."
__ADS_1
Yusuf pun keluar untuk mempersilahkan Ibu dan Andi masuk. "Ayo masuk bu cucu ibu yang cantik sudah menanti ibu, pengen lihat Oma nya." Lalu Yusuf beralih menatap Andi. "Ayo Ndi masuk tengok keponakanmu yang cantik."
Mereka masuk dengan bahagia menyambut anggota baru di keluarga mereka.
Ibu langsung mendekati cucunya. "Boleh ibu gendong?"
"Boleh dong bu, Kayla pasti pengen di gendong oma nya."
"Ooh cucu ibu yang cantik ini namanya Kayla?" ujar Ibu dengan menirukan suara seperti anak kecil.
"Nama lengkapnya 'Kayla Jihania Samudra' bu." sahut Yusuf.
"Nama yang cantik secantik orangnya."
Andi merentangkan kedua tangannya. "Boleh gantian nggak bu, om Andi juga pengen gendong ponakan om yang cantik ini."
"Makanya cepat cari istri dong nanti kamu bisa bikin sendiri anak yang banyak." ujar Niar dan membuat mereka tertawa.
"Sebenarnya sudah ada kak tapi nunggu waktu yang tepat dulu." jawab Andi.
Niar melebarkan matanya. "Oh ya? Kok belum dikenalin ke kak Niar?"
"Nanti lah kak kalau Andi sudah punya rumah sendiri."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan share+ tekan love sebagai favorit kalian terimakasih šš