
*
*
"Tangan kamu kenapa sayang, kok merah gini?"
Niar kembali duduk di kursi. "Tidak apa-apa mas cuma tadi kena air panas dikit."
Yusuf meraih tangan Niar lalu memeriksanya. "Hati-hati dong sayang."
"Iyaaa."
*
Beberapa minggu kemudian Yusuf hampir sembuh sudah 90% namun Niar masih menemani Yusuf kerja, bekerja seperti biasa.
"Sayang, nanti jam makan siang kita ketemu rekan bisnisku ya di restoran sekalian makan siang." ujar Yusuf sembari duduk di kursi.
"Aku tidak ikut ya mas, soalnya tadi malam aku tidak bisa tidur, jadi sekarang ngatuk, aku tiduran aja ya disini?"
Dahi Yusuf berkerut. "Terus makan siangnya gimana?"
Niar menghela napas pelan. "Kamu bungkusin buat aku satu, bisa kan?"
__ADS_1
"Ya sudah terserah kamu." ujar Yusuf pasrah.
Mereka kembali sibuk bekerja sampai jam istirahat pun tiba, Yusuf pergi untuk menemui rekan bisnisnya sekalian beliin makanan untuk niar.
Itulah kesempatan pak Irwan mencoba mendekati Niar, hampir semua karyawan juga sedang makan siang. Dia masuk ke ruang kerja Yusuf dan melihat Niar sedang tidur di sofa, dia terus memandangi wajah Niar yang cantik, kulitnya putih mulus, tubuhnya yang seksi membuatnya tergiur dan mencoba menyentuh Niar.
Dia menyentuh wajah Niar tanpa suara,
dan Niar membiarkannya karena dia mengira itu Yusuf suaminya. Lama-lama sentuhannya pindah ke kancing baju, sontak Niar membuka mata dan dia sangat terkejut, yang menyentuhnya tadi ternyata bukan suaminya.
Niar segera menegakkan tubuhnya. "Apa-apaan ini!! Berani-beraninya anda menyentuh saya!!"
Pak Irwan tersenyum miring. "Ayolah manis jangan hanya memberi kepuasan pada pak Yusuf, aku juga mau di puasin sama wanita cantik kayak kamu."
"Jangan sok jual mahal manis, kamu minta bayaran berapa? Oh, pasti pak Yusuf sudah boking kamu ya? Aku tidak keberatan kok jadi sampingan kamu."
Niar bergidik ngeri. "Anda sudah gila!!"
"Ya, memang aku gila, gila karena kamu yang selalu berputar-putar di otakku."
Niar mencoba lari namun tangannya keburu di tarik pak Irwan. "Lepaskan saya!! Kalau tidak saya akan teriak minta tolong."
"Teriaklah tidak akan ada yang mendengar, semua karyawan sedang makan siang."
__ADS_1
Niar menggigit tangan pak Irwan dan Niar berhasil lari keluar ruangan di luar dia menabrak seseorang. Seseorang itu adalah Yusuf yang batal ketemu rekan kerjanya karena ada keperluan mendadak. "Sayang, kamu kenapa ketakutan gitu, ada hantu?"
Niar bersembunyi di belakang tubuh Yusuf. "Pak Irwan menyentuh aku dan mencoba merayuku mas."
"Dia bohong pak!!Dia yang merayu saya duluan pak, dasar wanita murahan!"
'PLAKK' Yusuf menampar pak Irwan. "Jangan kurang ajar kamu, dia istri saya, seharusnya kamu sopan dengan istri bos! Atau kamu sudah bosan kerja disini?"
Pak Irwan menunduk. "Maaf pak saya tidak tau kalau dia istri anda."
"Sekarang juga kamu saya pecatt!!" Yusuf sudah di selimuti emosi.
Pak Irwan meraih Yusuf. "Tolong pak jangan pecat saya, saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Keputusan saya sudah bulat! Masih bagus saya cuma pecat kamu, atau mau saya laporkan polisi?" ancam Yusuf.
"Jangan pak, baik pak saya akan keluar dari kantor ini."
Yusuf segera menghubungi pihak HRD untuk mengurus surat pemecatan pak Irwan.
Setelah selesai Yusuf memeluk Niar. "Kamu tidak apa-apa kan sayang? Kamu sudah di apain sama dia?"
Bersambung...
__ADS_1