
*
*
"Baik Dok saya ngikut apa kata dokter, lakukan yang terbaik buat suami saya Dok."
"Tentu Bu, kami selalu memberikan yang terbaik untuk pasien-pasien kami."
Niar beranjak dari kursi. "Kalau begitu saya permisi dulu Dok."
"Baik, silahkan Bu."
Niar berjalan keluar dari ruangan Dokter menuju kamar rawat Yusuf.
Niar memasuki kamar Yusuf lalu duduk di samping ranjang dia mencondongkan tubuhnya lalu meletakkan kepalanya di bantal yang sama dengan Yusuf.
*
PerlahanYusuf membuka mata lalu menoleh ke samping dimana istrinya yang sedang tidur di dekatnya, Yusuf hanya tersenyum lemah dan membiarkan istrinya tetap tidur sampai bangun dengan sendirinya.
Cukup lama Niar tertidur dalam posisi seperti itu, sampai Niar merasakan kecupan di puncak kepalanya, Niar segera membuka matanya lalu menegakkan tubuhnya. "Mas, syukurlah kamu sudah siuman, apanya yang sakit? Aku panggil dokter ya?"
Yusuf hanya menggeleng lemah.
Dahi Niar berkerut. "Kenapa? Biar dokter memeriksa kamu lagi mas."
"Aku baik-baik saja." kata Yusuf dengan suara pelan bahkan hampir tidak terdengar.
__ADS_1
Niar menghela napas pelan. "Ya sudah jangan banyak bicara dulu, kamu istirahat lagi aja, tapi kalau kamu ngerasain sesuatu langsung bisa bilang aku!"
Yusuf hanya mengangguk pelan.
*
Andi telah sampai di Bali langsung menyusul Yusuf dan Niar di rumah sakit.
Andi berjalan cepat meneluri lorong rumah sakit mencari kamar rawat Yusuf. Setelah menemukan kamar yang di carinya, Andi segera membukanya perlahan. "Kak Niar."
Niar menoleh ke arah pintu. "Andi. Akhirnya kamu sampai juga."
Andi kembali melangkah menuju ranjang. "Bagaimana keadaan Kak Yusuf?"
"Sudah siuman dan sudah lebih baik."
"Kamu sudah bawa uang Ndi?"
Andi mengalihkan pandangannya dari Yusuf beralih menatap Niar. "Aku sudah bawa uang kak, kita mau langsung pulang ke Jakarta atau gimana?"
Niar menggeleng. "Tidak sekarang Ndi, kata Dokter nunggu beberapa hari lagi menunggu kondisi mas Yusuf membaik dulu. Tolong kamu ke hotel ngurus anak-anak dan tolong juga antar anak-anak dan bi Imah ke Jakarta, anak-anak juga harus sekolah."
Andi menyatukan alisnya. "Terus kak Niar dan Kak Yusuf gimana?"
"Kakak disini dulu nanti kalau mas Yusuf sudah boleh di bawa ke Jakarta Kakak akan hubungi kamu, kamu tidak keberatan kan kalau harus bolak-balik?"
"Sama sekali tidak keberatan Kak, kalau begitu Andi ke hotel sekarang dan terusan ke Jakarta." Andi mengeluarkan handphone dan amplop berwarna cokelat. "Ini handphone untuk Kak Niar, kalau mau bayar tagihan rumah sakit bisa langsung lewat handphone bair kak Niar nggak ribet, dan Andi juga sudah membawa uang cash."
__ADS_1
Niar menerima handphone dan amplop dari Andi. "Terima kasih Ndi, kamu hati-hati ya,
kamu juga nginep di rumah mas Yusuf dulu,
bantuin jaga anak-anak."
Andi memeluk Niar sesaat. "Pastinya Andi akan jagain ponakan Andi."
Andi keluar dari kamar menuju hotel menjemput anak-anak dan bi Imah, dan mengantar mereka kembali ke Jakarta.
*
"Sayang, aku bosan disini kita kembali ke Jakarta aja yuk, aku juga sudah kangen sama anak-anak." pinta Yusuf entah itu sudah yang keberapa kalinya.
"Tadi kata dokter kira-kira lusa baru boleh ke Jakarta mas."
"Tapi aku sudah sembuh." kekeh Yusuf.
"Tidak boleh!!"
"Tapi aku benar-benar bosan disini."
Akhirnya Niar mengambil kursi roda lalu Yusuf duduk di kursi roda tersebut. "Ayo kita jalan-jalan keluar."
Yusuf mengagguk lalu Niar mulai mendorong kursi roda tersebut menuju taman
Bersambung.....
__ADS_1