
*
*
Niar kembali ke kamar Erlang untuk membicarakan tentang keinginan Daniel pada Yusuf.
"Sayang kamu sudah kesini lagi?" tanya Yusuf.
Niar berjalan mendekati Yusuf. "Mas, ada yang ingin aku bicarakan."
Yusuf berdiri untuk memberi tempat duduk pada Niar. "Apa itu?"
Niar pun duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Yusuf. "Daniel ingin setelah dia keluar dari rumah sakit ini, aku ikut dengannya dan merawatnya sampai sembuh."
"Terus kamu mengiyakan?"
Niar menghela nafas pelan. "Sebenarnya aku sudah menolak dengan alasan kalau aku tidak mau karena belum ada ikatan, tapi dia malah ingin mempercepat perceraian kita terus aku mengiyakan ke inginannya. Menurutmu gimana mas?"
Yusuf mengusap pipi Niar. "Kita bisa apa sayang, selain mengikuti permainannya."
Niar menggenggam tangan Yusuf yang berada di pipinya. "Sebenarnya aku tidak mau mas, tapi aku juga tidak mau kalau di suruh buru-buru pisah dari kamu."
Niar dan Yusuf sedang pelukan dan lagi-lagi Daniel menelepon dan meminta Niar kembali ke kamarnya.
Niar menurut saja permintaan Daniel, dia kembali ke kamar Daniel.
"Kenapa lagi? Aku capek tau bolak-balik ke sana kemari." protes Niar.
__ADS_1
"Makanya kamu disini saja! Jadi kamu nggak capek." pinta Daniel.
"Tapi aku kuga pengen merawat anakku."
"Lagi-lagi aku tidak bisa menolak permintaanmu, terserah kamu."
*
Beberapa hari kemudian Daniel sudah di perbolehkan pulang namun Erlang belum,
seperti kesepakatannya Niar ikut Daniel pulang ke rumahnya.
Yusuf dan Kayla tetap menunggu Erlang dirumah sakit.
Niar membereskan barang-barang Daniel dan siap-siap pulang ke rumah Daniel.
"Ayo Niar kita masuk."
Dengan canggung Niar memasuki rumah Daniel.
Daniel menepuk sofa di sebelahnya. "Duduk sini!"
Dengan ragu Niar pun duduk.
"Kamu jangan kaku gitu dong sayang."
Niar langsung melotot. "Jangan panggil aku sayang!"
__ADS_1
Daniel terkekeh. "Apa salahnya? Toh sebentar lagi kamu juga jadi istriku."
"Sudah berapa kali aku bilang aku belum mau menikah denganmu sebelum Erlang sembuh."
"Tapi pada akhirnya kita akan menikah juga kan, oya nanti kita tidur sekamar ya?"
"Nggak mau!!!" tolak Niar dengan suara lantang.
"Jangan takut aku tidak akan memakan kamu, aku juga masih sakit gini, nanti kamu tidur di ranjang aku yang tidur di sofa."
"Nanti aku pikir-pikir dulu." jawab Niar sekenanya.
"Pikir-pikir dengan alasan kita belum ada ikatan?? Kalau begitu aku akan menyuruh Yusuf secepatnya urus perpisahan kalian!" ancam Daniel entah sudah keberapa kalinya.
"Kamu tuh selalu ngancem aku, iya ya aku tidur di kamar kamu, tapi awas kalau berani macam-macam!!!"
"Janji. Bi tolong siapkan makan malam." teriak Daniel menyuruh pembantunya.
Pembantunya segera menyiapkan makan malam, tak butuh waktu lama makan malam telah tertata rapih di atas meja makan.
Niar berjalan menuju meja makan dia duduk dan Daniel malah mengambilkan makan malam untuknya, Niar menjadi bingung. "Kenapa aku disini malah di layani Daniel ya?" tanya Niar dalam hati.
Mereka makan malam terus istirahat. Seperti kesepakatan sebelumnya Niar tidur di ranjang dan Daniel tidur di sofa.
Niar sudah tidur duluan diam-diam Daniel mendekatinya.
Bersambung....
__ADS_1