
*
*
"Buburnya enak sekali sayang."
"Iya dong kan bikinnya pakai cinta."
Yusuf terkekeh. "Tumben kamu bisa gombal."
"Aku nggak gombal tau!!"
tok tok tok
Niar beranjak dari ranjang lalu berjalan untuk membuka pintu. "Kayla, ada apa nak?"
Kayla melangkah memasuki kamar kedua orang tuanya. "Papa Mama kok belum turun sih Kayla nungguin dari tadi di meja makan."
Niar mengekori Kayla menuju ranjang. "Papamu tadi malam demam jadi Mama sudah membuat bubur untuk sarapan, kamu sarapan sama bi Imah saja."
Kayla mendekati Papanya lalu memeriksa dahinya. "Ah nggak apa-apa kok Papa pura-pura ini Mah biar di manja sama Mama."
"Beneran Kayla, masa' sakit di buat-buat
awas kamu ya berani ngerjain Papa
uang jajanmu Papa potong!" ancam Yusuf pada putrinya.
__ADS_1
Kayla melingkarkan tangan di pundak Papanya lalu mencium pipinya. "Iya ya Pah, maaf, Papa sakit apa? Sakit rindu ya? Rindu di manja-manja?"
"Kaylaa.. sudah sana sarapan sama bi Imah."
Kayla kembali mencium Papanya. "Cepet sembuh ya Pah."
"Iyaa... Papa sudah sembuh kok." jawab Yusuf.
Kayla turun lalu sarapan di temani bi Imah dan kebetulan Erlang juga baru pulang.
Erlang mencuim pipi adiknya dari belakang. "Pagi Kaylaa."
Kayla menoleh. "Tumben kak sudah pulang biasanya siang kadang malah sore, eh kak kapan-kapan aku boleh ikut muncak boleh ya?'
Erlang menarik kursi di sebelah Kayla lalu menduduki kursi tersebut. "Disana tuh nggak ada yang cewek tau! Jauh, capek, nggak ada mall nggak ada salon."
"Terserah kamu sih, tapi kalau capek jangan minta gendong." ledek Erlang.
"Iyaa, terus kita berangkat kapan kak?" tanya Kayla antusias.
"Mungkin bulan depan."
"Hah?" Kayla membelalakkan matanya. "Kok lama sih?" protesnya.
Erlang menghela nafas pelan. "Masa' mendaki gunung sering-sering, capek tau!!"
Niar dan Yusuf juga turun ke bawah karena tadi Niar belum sarapan.
__ADS_1
"Pada ngomongin apa sih?" tanya Yusuf.
Kayla menyatukan alisnya. "Loh katanya tadi sakit? Tuh kan sakitnya pura-pura." ledek Kayla.
"Sudah-sudah kalau sedang makan tuh jangan sambil ngomong!" ujar Niar.
*
Keesokkan harinya Yusuf dan Erlang ke kantor. Di kantor Erlang selalu mendampingi Papanya supaya cepat paham.
Siang itu Yusuf dan Erlang pergi untuk menemui rekan kerja di restoran, makan siang sambil membahas kerja sama mereka.
Setelah selesai mereka kembali lagi ke kantor
di perjalanan menuju kantor Yusuf mimisan di dalam mobil.
Dia sedang fokus menyetir mobil tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang keluar dari hidungnya dia menyentuhnya dan ternyata darah yang keluar dari hidungnya. Yusuf langsung menepikan mobilnya dan berhenti.
Erlang yang duduk di belakang heran kenapa mobilnya di tepikan.
"Kenapa Pah?" tanya Erlang panik saat melihat hidung Papanya, dia langsung mengambil tisu dan membersihkan darah di hidung Papanya. "Papa kenapa? Papa sakit? Kita ke dokter ya."
Yusuf menggeleng. "Enggak usah Papa nggak apa-apa kita pulang saja, tapi nanti kamu balik kantor lagi ya nak, masih ada beberapa berkas yang harus di cek."
"Iya Pah, Papa beneran nggak apa-apa? Biar Erlang yang nyetir Pah, Papa senderan aja di belakang."
Erlang pindah depan dan Yusuf pindah ke belakang lalu Erlang melajukan mobilnya menuju rumah.
__ADS_1
bersambung...