
*
*
"Kamu sedang ada masalah Va?" tanya Niar setelah memesan minuman.
"Aku dan mas Daniel akan berpisah Yar." ujar Eva lalu menunduk.
"Bukankah itu bagus? Kedepannya kalian bisa mencari kebahagiaan masing-masing."
Eva mengangkat kepalanya cepat. "Bukan perceraian yang aku takutkan Yar, tapi setelah perpisahan itu aku akan sendirian dan kesepian, kamu sering-sering ke rumahku ya ajak anak-anak juga."
"Itu pasti Va, kamu sudah yakin mau pisah?"
"Yakin Yar, buat apa bertahan kalau memang tidak ada cinta di antara kita."
"Aku do'a kan semoga kamu cepat dapat penggantinya, seorang laki-laki yang benar-benar mencintai kamu Va."
Eva tersenyum tipis. "Makasih Yar, maaf aku sudah merepotkan kamu."
Niar merogoh handphone dari saku jaketnya. "Bentar ya suamiku telfon."
"Oke."
"Hallo, ada apa mas?" tanya Niar to the point.
"Kamu di mana sayang? jam segini belum pulang." tanya Yusuf khawatir dari seberang telepon.
__ADS_1
"Masih di caffe mas bersama Eva."
"Kamu share lok caffenya sekarang ya, aku mau nyusul kamu."
"Tidak usah mas, aku sebentar lagi pulang kok."
"Justru itu aku khawatir, kamu malam-malam nyetir sendirian."
"Oke, aku share sekarang."
"Ingat, jangan pulang dulu tungguin aku!"
"Siapppp."
Niar memutuskan panggilannya lalu menatap Eva. "Maaf Va kita pulang aja ya, dilanjut besok kalau siang lebih panjang waktunya."
Niar terkekeh. "Mas yusuf marah? Suamiku itu orangnya lembut, dia jarang marah bahkan hampir tidak pernah."
Beberapa menit kemudian Yusuf datang,
dia datang langsung mencium pipi Niar. "Sayang, ayo kita pulang ngobrolnya di lanjut besok."
Niar beranjak dari kursi. "Tapi aku nganter Eva dulu ya?"
Eva menggeleng cepat. "Enggak usah aku bisa pulang sendiri, lagian deket kok."
"Udah, nggak apa-apa nyantai aja."
__ADS_1
Mereka akhirnya pulang, Niar mengantar Eva dulu baru pulang ke rumah, mobil Niar di depan dan Yusuf mengikutinya dari belakang untuk memastikan kalau istrinya pulang dengan selamat.
"Andai aku punya suami seperti mas Yusuf, orangnya perhatian, tutur katanya halus dan yang pasti sangat mencintai istrinya, tidak seperti suamiku." batin Eva setelah turun dari mobil Niar.
"Eva, kamu dari mana?" tanya Daniel setelah Eva memasuki rumah mereka.
"Tadi mampir di caffe dulu ngobrol-ngobrol sama Niar disana." jawab Eva sembari duduk di sofa.
Daniel menggeser beberapa lembar kertas ke arah Eva. "Ini surat-surat yang harus kamu tanda tanganni."
Eva menanda tangani surat-surat itu supaya perceraianya cepat selesai lalu menggesernya kembali ke arah Daniel. "Aku harap setelah perceraian kita, kita tetap berteman ya mas."
"Itu pasti dan rumah ini seutuhnya milik kamu, aku akan tinggal di apartemen dekat sekolah."
"Makasih mas, aku tau kamu itu orangnya baik tapi entah mengapa aku tidak bisa mencintaimu."
"Kita memang tidak berjodoh Va, semoga setelah perpisahan ini kita bisa menemukan jodoh kita masing-masing."
"Aku juga berharap seperti itu mas."
*
Beberapa bulan kemudian mereka telah resmi bercerai. Eva tinggal di rumah yang dulu mereka tempati dan Daniel tinggal di apartemen dekat sekolah.
Mereka lebih bahagia berpisah, membuka lembaran baru dan mulai mencari cinta sejati mereka masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1