Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Bi Imah di pecat


__ADS_3

*


*


Bi Imah akhirnya benar-benar angkat kaki dari rumah Yusuf. Niar tidak bisa mencegahnya karena keputusan ada di tangan suaminya.


Kini Niar merawat anak-anaknya di bantu bibi pembantu rumah Yusuf.


Erlang sudah berumur delapan tahun jadi dia tidak rewel di tinggal bi Imah tapi Kayla, dia masih berumur empat tahun, dia terus rewel mencari bi Imah. Mau makan nangis, mau mandi nangis membuat Niar menjadi stress.


Niar sudah mencoba membujuk suaminya untuk memperkerjakan bi Imah kembali, namun Yusuf tetap pada pendiriannya.


Hari ini badan Kayla sampai panas, dan mengigau menyebut-nyebut nama bi Imah terus. Yusuf yang masih di rumah sakit sampai di telepon Niar karena Kayla juga sakit.


Yusuf akhirnya pulang untuk melihat kondisi anaknya. Yusuf membuka kamar Kayla lalu berjalan kemudian duduk di tepi ranjang, tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Kayla. "Sayang, cepat sembuh ya. Jangan bikin Papa khawatir."


Niar duduk di sebelah Yusuf. "Aku sudah membawa Kayla ke Dokter tapi belum sembuh juga, Kayla sering mengigau bi Imah,


mungkin dia kangen sama bi Imah."


Yusuf mengalihkan pandangannya dari Kayla beralih menatap Niar. "Sampai seperti itukah?"

__ADS_1


"Bisa jadi mas."


"Kalau begitu panggil bi Imah kembali suruh dia kerja lagi sama kita, aku tidak mau terjadi apa-apa sama Kayla."


Niar tersenyum lega. "Beneran mas?"


Yusuf mengusap pipi Niar. "Iya sayang, apapun akan aku lakukan demi anak kita."


"Terima kasih mas, aku akan segera memanggil bi Imah kembali." ujar Niar antusias.


Yusuf beranjak dari ranjang. "Aku mau ke rumah sakit lagi, kamu jaga Kayla baik-baik ya." Yusuf mengecup kening Niar lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening Kayla. "Sayaang Papa ke rumah sakit lagi ya, cepat sembuh, sakitnya jangan lama-lama kasian Mama jadi khawatir sama Kayla."


Kayla mengangguk. "Iya Pah."


Seketika Yusuf menjadi lemas, Niar segera memanggil bibi untuk menjaga Kayla.


Niar yang mengemudikan mobil menuju rumah sakit karena Yusuf sudah tidak bisa konsentrasi.


Mereka sampai di rumah sakit dan tangis Yusuf pun pecah ketika melihat Ibunya sudah tidak bernyawa lagi.


Niar memeluk suaminya untuk menyalurkan kekuatan. "Ikhlaskan ibu mas, biarkan dia tenang disana."

__ADS_1


Yusuf menangis di pelukan Niar. "Aku belum bisa menjadi anak yang berbakti, aku belum bisa membahagiakan Ibu, aku belum bisa membalas jasanya, sekarang Ibu sudah pergi, padahal hari ini Ibu ulang tahun seharusnya hari ini menjadi hari yang bahagia untuk Ibu."


"Sebaiknya kita segera membawa pulang jenazah Ibu Kak, jangan berlarut-larut dalam kesedihan." ujar Andi dan di setujui oleh Niar dan Yusuf.


*


Dua minggu telah berlalu namun Yusuf masih dalam kesedihan, Yusuf masih sering teringat Ibunya.


Setiap kali Yusuf merindukan Ibunya Yusuf akan masuk ke kamar Ibu meskipun hanya duduk di tepi ranjang Ibunya.


Niar menyusul Yusuf ke kamar Ibu lalu duduk di sebelah Yusuf. "Jangan sedih terus mas, sudah dua Minggu Ibu pergi, Ibu tidak bisa tenang disana kalau kamu sedih terus."


Yusuf menyadarkan kepalanya di pundak Niar. "Aku masih menyesal karena aku belum bisa membahagiakan Ibu."


Niar membelai rambut Yusuf. "Kamu masih bisa membahagiakan Ibu mas, do'akan Ibu, Ibu pasti akan bahagia kalau kamu rajin mendo'akannya, daripada kamu sedih terus itu akan membuat Ibu juga sedih disana."


Yusuf mengangkat kepalanya lalu memeluk istrinya.


"Terima kasih sayang, jangan pernah meninggalkan aku, sekarang aku hanya punya kamu, Erlang, dan Kayla, aku tidak akan bisa menjalani hidup tanpa kalian."


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih šŸ™šŸ™


__ADS_2