
*
*
Setelah menempuh perjalanan jauh Akhirnya Yusuf dan keluarga sampai di Jakarta.
Anak-anak bersama bi Imah di rumah, Yusuf dan Niar ke rumah sakit.
"Gimana Ndi kondisi Ibu? Masih kritis?" tanya Yusuf pada Andi yang berada di luar kamar rawat Ibu.
Andi menunduk sedih. "Masih Kak."
"Kakak masuk dulu." ujar Yusuf sembari berjalan cepat menuju pintu lalu membukanya.
Yusuf dan Niar masuk kamar rawat Ibunya, Yusuf mendekati Ibunya lalu menggenggam tangan Ibu yang tidak terpasang infus. "Bu. Ibu kenapa? Kemarin Ibu sehat-sehat saja sekarang menjadi kritis begini, Ibu cepat sembuh ya, sebentar lagi kan Ibu ulang tahun, kita rayain bersama cucu-cucu Ibu."
Niar mengusap bahu Yusuf. "Sabar mas do'akan Ibu semoga cepat sembuh dan bisa berkumpul bersama kita lagi di rumah."
Yusuf meraih tangan Niar yang ada di bahunya lalu meremasnya lembut. "Itu pasti sayang, kamu juga do'akan Ibu ya."
Niar mengangguk. "Iya mas, sebaiknya kita keluar dulu biarkan Ibu istirahat."
Yusuf beranjak lalu melangkah keluar dari kamar rawat Ibunya beserta Niar di sebelahnya.
__ADS_1
Yusuf menutup pintu lalu duduk di sebelah Andi. "Aku masih belum bisa mengerti Ndi kenapa Ibu bisa sampai begitu?"
Andi memutar tubuhnya menghadap Yusuf. "Bibi bilang kalau sebelumnya Ibu menelpon bi Imah dan bi Imah bilang kalau Kayla hilang, itulah yang membuat Ibu shock, kaget lalu pingsan."
Yusuf mengeraskan rahangnya emosinya memuncak. "Oh, Ini semua gara-gara bi Imah!!" Yusuf segera beranjak dari kursi lalu berjalan meninggalkan Niar begitu saja.
Niar langsung mengikuti suaminya. "Mas.. mas.. tunggu!" Niar mengikuti Yusuf karena sebelumnya Niar belum pernah melihat Yusuf semarah ini.
Niar menoleh sebentar ke arah Andi. "Ndi tolong jaga Ibu lagi Kakak mau menyusul mas Yusuf dia sedang marah besar." ujar Niar lalu dia lari menyusul Yusuf.
*
"BI IMAH!!!" Yusuf memanggil bi Imah dengan berteriak.
BI Imah dari kamar Kayla berjalan tergopoh-gopoh. "Iya tuan."
"Bi Imah adalah penyebab Ibu saya kena serangan jantung dan sampai kritis, kenapa bi Imah tega melakukan itu??!"
BI Imah menunduk takut karena selama ini Yusuf belum pernah semarah ini. "Maaf tuan, saya tidak sengaja membuat nyonya kena serangan jantung, waktu itu nyonya menelpon saya, saya sendiri masih dalam keadaan panik dan keceplosan bilang kalau non Kayla hilang."
Yusuf membelalakkan matanya. "Apa??!! Keceplosan??!! Kalau bicara itu di pikir dulu!! Satu keceplosan bi Imah membuat Ibu saya jadi kritis, paham itu!!"
Niar beralih mengusap bahu Yusuf. "Mas sabar, kamu jangan marah-marah gini."
__ADS_1
Yusuf mengacak rambutnya. "Gimana aku mau sabar, Ibu yang tadinya sehat-sehat saja sekarang tiba-tiba kritis hanya gara-gara kecerobohan bi Imah!"
"Kan bi Imah tadi sudah bilang kalau dia tidak sengaja, bi Imah waktu itu juga panik nyariin anak kita."
"Bi Imah sekarang saya pecatt!!!"
BI Imah langsung menangis. "Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak sengaja, tolong jangan pecat saya. Saya terlanjur menyayangi den Erlang dan non Kayla."
Niar meraih tangan suaminya. "Mas jangan pecat bi Imah dong, bi Imah sudah banyak membantu kita bertahun-tahun dia bekerja untuk kita, dia hanya bikin satu kesalahan masa langsung di pecat."
"Tapi satu kesalahan yang di perbuatnya adalah kesalahan yang fatal, dan tidak bisa di toleransi!"
"Kasihlah hukuman atau apa, tapi jangan di pecat, kasian anak-anak mereka sudah dekat dengan bi Imah."
"Kita tinggal cari pengganti dia bisakan."
"Baiklah kalau memang dengan saya di pecat bisa menebus kesalahan saya, saya rela, saya akan angkat kaki dari rumah ini." ujar bi Imah lalu dia melangkah meninggalkan Yusuf dan Niar.
Niar menarik lengan bi Imah. "Bi tolong jangan pergi bi, kasian anak-anak bi."
*
Bersambung...
__ADS_1