
"Sayang, ternyata kamu di sini." ujar Yusuf setelah sampai di sebelah Niar.
Niar hanya diam membisu tanpa ada satu patah kata yang terucap.
Yusuf melangkah lagi hingga di depan Niar dan mencondongkan tubuhnya lalu mencium serta mengelus perut Niar. "Maafin Papa ya nak, Papa telah membuat Mamamu sedih."
Niar masih membisu, perlahan Niar meneteskan air matanya, dia sangat sedih.
Ayahnya meninggal, Yusuf belum juga menikahinya dan mungkin sebentar lagi Andi juga akan pergi, tinggalah dia sendirian dalam kesedihan.
Yusuf menegakkan tubuhnya lalu menarik tubuh Niar masuk ke dalam pelukannya. "Maafin aku sayang aku belum bisa menepati janji, tapi kita coba lagi ya, besok kita temui Ibu."
Niar melonggarkan pelukan Yusuf. "Untuk apa?"
Yusuf mengeratkannya pelukanya lagi. "Aku akan bilang kalau kamu hamil, mungkin dengan begitu Ibu akan merestui hubungan kita lagi."
Niar mendongak. "Apa mungkin bisa?"
Yusuf menunduk dan tatapan mereka saling bertemu. "Kenapa tidak mungkin. Ibu sudah lama menginginkan cucu."
Niar sedikit lega seperti ada sedikit cahaya dalam kegelapan. "Oke. Aku setuju, kita ketemu Ibu kamu semoga ini menjadi jalan keluar terbaik untuk kita."
Yusuf tersenyum. "Aamiin."
"Kita pulang yuk?" ujar Yusuf.
Niar mengangguk dan merekapun pulang ke kontrakan.
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya mereka benar-benar menemui Ibunya Yusuf.
Tapi ketika mereka sampai di rumah ibunya sedang pergi.
"Bi...bibi...." panggil Yusuf pada pembantu rumahnya.
"Ya, tuan." sahut Bibi dari dapur.
"Ibu kemana bi?" tanya Yusuf.
"Nyonya sedang arisan tuan, mungkin sebentar lagi pulang." jawab Bibi setelah sampai di dekat Yusuf.
"Ya udah, bi tolong bikinin minuman."
"Baik tuan." Bibi sedikit membungkuk lalu berjalan menuju dapur lagi.
Niar belum sempat duduk, rupanya ibu Yusuf sudah pulang.
Ibu menatap tajam ke arah Niar. "Yusuf!! Kenapa kamu ajak wanita ini ke sini?" tanya Ibu tanpa melihat Yusuf, tatapannya tertuju pada Niar.
Yusuf menggenggam tangan Niar. "Ada yang mau kita sampaikan Bu."
Ibu bertolak pinggang. "Apa lagi?!"
Yusuf mengeratkan genggamannya. "Niar hamil Bu, dia sekarang sedang mengandung cucu Ibu."
Ibu tersenyum miring. "Terus kamu pikir ibu percaya? Yusuf buka mata kamu! Jangan di butakan oleh cinta, dia itu wanita malam sudah berapa banyak laki-laki yang sudah menidurinya, jangan percaya kalau itu anak kamu, jangan mau di bohongi wanita malam itu!"
__ADS_1
Niar sudah tidak kuat mendengar kata-kata Ibunya Yusuf, dia lari keluar dari rumah itu, kemanapun asal tidak mendengar hinaan dari wanita paruh baya itu.
Yusuf mau mengejarnya namun tangannya keburu di tarik Ibunya. "Kalau kamu mau berbakti pada ibu biarkan dia pergi jangan mengejarnya! Ingat janji kamu dan amanah Ayahmu."
Yusuf menghempaskan tangan Ibunya. "Yusuf akan tetap mengejarnya Bu, nganterin Niar pulang dulu nanti kita bicarakan lagi."
Yusuf segera keluar namun Niar sudah keburu pergi, akhirnya Yusuf pun kembali masuk.
"Bu... sudah berapa kali Yusuf bilang, Niar bukan orang seperti itu Bu. Dia wanita baik-baik." ujar Yusuf setelah memasuki rumahnya kembali.
"Kamu bisa bilang seperti itu karena kamu dibutakan oleh cinta, tapi kenyataan nya?!! Begini saja buktikan dulu kalau yang di kandung wanita itu benar-benar cucu Ibu, baru Ibu akan menerimanya, dan selama belum ada bukti selama itu pula Ibu tidak akan merestui kalian!"
"Baik. Akan Yusuf buktikan, sekarang Yusuf mau nyusul Niar dulu." ujar Yusuf lalu dia keluar dari rumah lagi menuju kontrakan Niar.
Yusuf sampai di kontrakan hanya ada Andi sedang duduk di teras.
"Kak Niar ada Ndi?" tanya Yusuf setelah duduk di sebelah Andi.
Andi mengernyit. "Loh. Bukannya tadi sama kak Yusuf? sampai sekarang kak Niar belum pulang, kirain masih bersama kak Yusuf."
"Mungkin dia di danau kak Yusuf cek kesana dulu." ujar Yusuf sembari beranjak dari kursi.
Andi juga ikut beranjak. "Aku ikut kak."
"Ayo buruan!" titah Yusuf, dia mulai panik.
Mereka menelusuri pinggiran danau dan ternyata Niar tidak ada disitu.
Bersambung...
__ADS_1
Hay gayss... duh Niar dimana ya gayss?? ingin tahu jawabannya?? ikuti terus kelanjutan ceritanya,, mohon maaf apa bila masih banyak kata yang salah, tanksππ