
*
*
Yusuf dan Niar keluar dari ruangan dokter lalu kembali ke kamar Erlang.
Mereka duduk di sofa kamar Erlang untuk membicarakan jalan keluarnya.
Niar menjatuhkan tubuhnya kasar di sofa, kepalanya berdenyut nyeri. "Kita harus cari pendonor kemana mas? Terus gimana juga dengan penyakit kamu? Aku pusing mikirin semua ini." ujar Niar lalu matanya kembali berkaca-kaca air matanya menggenang di pelupuk matanya dalam hitungan detik cairan bening itu luruh di pipi Niar.
Yusuf menghapus air mata di pipi istrinya. "Kamu jangan mikirin aku dulu, yang penting sekarang kita fokus dengan kesembuhan Erlang anak kita. Kita harus menghubungi semua orang yang kita kenal semoga salah satu dari mereka ada yang cocok dan mau mendonorkan ginjalnya."
"Bagaimana kondisi Erlang kak?" tanya Andi setelah membuka pintu lalu berjalan menuju sofa.
Niar beranjak dari sofa lalu memeluk Andi. "Erlang belum sadar Ndi." jawab Niar kembali terisak.
Andi mengusap punggung kakaknya. "Yang sabar kak, Andi dan Rina juga akan ikut tes kak."
"Makasih Ndi."
Andi dan Rina ke ruang tes, mereka menjalani rangkaian tes. Namun hasilnya tidak ada yang cocok dengan ginjal Erlang, memang tidak mudah mencari pendonor ginjal.
__ADS_1
Niar mencoba menghubungi Juna,
akhirnya Juna juga datang kerumah sakit lalu bersedia menjalani tes dan hasilnya tidak cocok juga.
Ada beberapa rekan kerja Yusuf yang bersedia ikut mendonor ginjal mereka menjalani tes namun lagi-lagi hasilnya tidak cocok.
Yusuf dan Niar hampir putus asa. Niar semakin sedih sampai sekarang belum juga dapat pendonor untuk Erlang.
Niar meneteskan air mata saat melihat kondisi anaknya yang tidak berdaya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Yusuf juga merasa bersalah karena hanya ginjalnya yang cocok tapi dia tidak bisa memberikannya. "Erlang, maafin Papa nak, Papa tidak bisa menolong kamu, Papa tidak berguna, Papa nggak mau kehilangan kamu sayang."
Eva juga datang bersama suaminya, Eva langsung memeluk sahabatnya. "Gimana keadaan Erlang Yar?"
Eva melepas pelukannya. "Aku akan coba ikut siapa tau ginjalku cocok dengan Erlang."
Niar tersenyum tipis. "Makasih banyak Va dan semoga cocok."
Mereka bersedia mendonorkan ginjalnya jika cocok dan terlebih dahulu mereka ikut tes.
Setelah hasil tes keluar dan lagi-lagi Yusuf dan Niar harus menerima kenyataan pahit lagi, ginjal Eva dan suaminya tidak cocok dengan Erlang.
__ADS_1
Eva kembali memeluk sahabatnya. "Kita pulang dulu ya Yar, kamu yang kuat dan sabar."
Niar membalas pelukan sahabatnya. "Makasih Va kamu sudah bersedia mengikuti tes meskipun hasilnya tidak cocok.
Eva dan suaminya pun pulang. Di perjalanan pulang Eva kepikiran dengan Daniel. Daniel sudah pulang beberapa bulan yang lalu.
Dia mencoba menghubungi Daniel siapa tau ginjalnya cocok dengan Erlang.
*
Beberapa jam kemudian Daniel datang kerumah sakit itu.
Niar dan Yusuf sedang duduk di depan kamar Erlang, Daniel berjalan mendekati Yusuf dan Niar. "Niar, bagaimana kabar kamu?"
Niar tidak menjawab pertanyaan Daniel, dia tidak mampu berbicara hanya menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya berjatuhan tidak dapat di bendung.
Ingin rasanya Daniel menyeka air mata Niar
namun ada Yusuf di sebelahnya.
"Seperti yang anda lihat kami terpuruk tak berdaya dengan kondisi anak kami sekarang." jawab Yusuf.
__ADS_1
Bersambung....