
*
*
Eva sedang menunggu seseorang yang sedang memperbaiki mobil.
Niar turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati Eva. "Va, kenapa mobilnya?"
Eva menoleh. "Mogok Yar."
"Mau bareng aku atau nungguin mobilnya jadi?" tanya Niar.
"Makasih Yar, aku nunggu mobilnya jadi aja."
"Oh, oke aku duluan ya." Niar memasuki mobilnya lagi lalu melajukannya menuju kampus.
Ternyata di kampus Daniel memberi kejutan untuk Niar, karena dia sudah tidak sanggup menahan rasa cintanya, dia ingin mengutarakannya perasaannya pada wanita yang dicintainya.
Yusuf pun juga sudah menunggu di kampus dan sebenarnya dia juga ingin memberi kejutan untuk Niar namun sudah keduluan Daniel.
Niar telah sampai parkiran lalu turun dari mobil namun tiba-tiba ada anak kecil mendekatinya dan memberi setangkai bunga mawar merah. "Selamat siang tante."
Niar mengernyit bingung. "Siang, ada apa dek?"
__ADS_1
Anak kecil itu menyerahkan bunga mawar yang dibawanya tadi. "Ini ada setangkai bunga mawar titipan dari seseorang."
Niar kembali mengernyit. "Siapa?"
anak kecil itu menarik tangan Niar. "Ayo ikuti aku tante."
Niar menurut saja karena dia mengira itu dari suaminya, Niar mengikuti anak kecil itu menuju caffe dekat kampus.
Yusuf juga sudah ada disitu dari tadi, dia melihat ada seseorang yang memberi istrinya bunga, dia penasaran dan terus mengikuti Niar sampai caffe.
Anak kecil itu menuju ke sebuah meja lalu menarik kursinya. "Silahkan duduk tante sebentar lagi akan ada seseorang pemberi bunga ini datang."
"Oke." Niar duduk, dan anak kecil itu lari menuju toilet.
Anak kecil tadi mengacungkan ibu jarinya. "Beres om."
"Bagus, karena kerjaanmu bagus om akan kasih bonus buat kamu." upah yang di janjikan Daniel sebelumnya seratus ribu menjadi dua ratus ribu.
Mata Anak kecil itu langsung berbinar. "Wah banyak sekali terima kasih om."
"Sama-sama, sekarang kamu sudah boleh pergi."
Anak kecil itu pun pergi, dan Daniel segera menuju meja tempat duduk Niar.
__ADS_1
Yusuf terus mengikuti Niar.
"Selamat siang Niar." kali ini Daniel sudah tidak memanggil Niar dengan sebutan 'Bu' lagi.
Niar terlonjak kaget. "Loh, pak Daniel, anda di sini juga?"
Daniel menarik kursi di sebelah Niar lalu menduduki kursi tersebut. "Saya yang menyuruh anak kecil tadi memberimu setangkai bunga yang indah meskipun bunga itu tak seindah dirimu."
Niar masih plonga-plongo bingung dengan sikap Daniel.
"Izinkan aku menyampaikan sesuatu padamu, tapi aku berharap kamu tidak marah dan kita masih tetap berhubungan baik."
Niar semakin bingung. "Maksud anda apa?"
Daniel menatap Niar. "Niar, semakin hari, semakin aku mengenalmu ada rasa cinta yang tumbuh di hatiku, padahal aku sudah tau kalau kamu sudah memiliki pasangan, tapi aku tidak bisa mencegah perasaanku sendiri Niar, cinta ini tumbuh dengan sendirinya, aku tidak bisa menolaknya dan aku juga tidak bisa mengatur perasaanku pada siapa aku akan jatuh cinta."
"Maaf pak aku sudah punya keluarga, aku sudah sangat bahagia dengan keluargaku sekarang, anda salah tempat! Carilah wanita yang masih single, muda, cantik dan baik tentunya." ujar Niar hati-hati.
Daniel meraih tangan Niar. "Aku tidak meminta kamu untuk menerimaku, aku hanya ingin engkau tau perasaanku padamu, dan aku juga tidak akan merusak kebahagiaanmu. Aku bersedia menunggu jandamu.
Yusuf yang dari tadi hanya mengintai,
begitu melihat Daniel memegang tangan istrinya, langsung naik darah, rahangnya mengeras dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
Bersambung....