
Ibu menggenggam tangan Yusuf. "Ibu nggak mau pisah lama-lama dengan cucu Ibu lagi."
Yusuf pun mengusap lembut tangan Ibunya. "Do'a kan Yusuf semoga bisa segera membawa mereka tinggal sama kita ya Bu."
Ibu mengangguk cepat. "Pasti itu, Ibu pasti mendo'akanmu."
Yusuf melepas genggaman tangannya. "Yusuf istirahat dulu bu capek."
"Iya, ibu juga mau istirahat sudah larut malam."
Yusuf dan ibunya pun masuk kamar masing masing dan istirahat.
*
*
Satu minggu telah berlalu, Yusuf kembali ke Bogor untuk menemui cintanya dan juga anaknya.
Pagi-pagi buta Yusuf sudah berangkat ke Bogor dia sudah sangat merindukan Erlang. Kurang lebih tiga jam Yusuf menempuh perjalanan akhirnya Yusuf sampai di Villa.
Yusuf memakirkan mobilnya di halaman Villa lalu ia turun dan berjalan sebentar menuju pintu.
Tok.. tok..tok.. "Erlang sayang, Papa datang."
Bi Imah yang habis memandikan Erlang segera membuka pintu. "Tuan. Silahkan masuk."
"Biar saya aja bi." ujar Yusuf saat melihat bi Imah hendak memakaikan pakaian untuk Erlang.
"Biar saya saja tuan ini tugas saya."
Yusuf meraih pakaian dari tangan bi Imah. "Nggak apa-apa bi, sini sayang Papa yang makein baju Erlang ya?"
__ADS_1
Erlang mengangguk.
Yusuf memakaikan baju dan menyisir rambut Erlang dengan penuh kasih sayang, setelah itu menciumnya, memangkunya serta mengajak bercanda, seorang anak yang sudah lama ia rindukan.
Yusuf mengedarkan pandangannya. "Niar kemana bi?"
"Masih di kamar tuan, sedang siap-siap berangkat kerja."
Yusuf menyatukan alisnya. "Loh. Hari Sabtu nggak libur?"
"Setengah hari tuan." jawab bi Imah.
Beberapa menit kemudian Niar keluar kamar.
Yusuf sampai melongo melihat kecantikan Niar, karena dulu Niar jarang memakai make-up dan baju rapi, nggak pakai make-up saja udah cantik.
Yusuf beranjak dari tempatnya lalu berjalan mendekati Niar. "Sayang, kamu cantik sekali hari ini."
"Gombal!! Kamu kok udah di sini mas?"
"Oo.. Cuma mau ketemu sama Erlang doang? Kangennya sama Erlang doang, sama Mamanya Erlang nggak kangen?"
Yusuf mencubit hidung Niar. "Pastinya kangen kalian lah, cemburu sama anak sendiri?"
"Ngapain cemburu, sudah ah aku mau sarapan terus berangkat sudah mulai siang ayo mas sarapan."
Yusuf menggeleng. "Aku sudah sarapan tadi di perjalanan."
Niar menarik kursi ruang makan. "Erlang, sini maem dulu."
Erlang lari mendekati mamanya, lalu Niar mendudukkan Erlang di sebelahnya, Niar mengambil piring dan mangkuk, piring untuk tempat makanan dirinya dan mangkuk untuk Erlang, Niar sudah terbiasa seperti itu setiap hari, dirinya makan sambil menyuapi Erlang.
__ADS_1
Yusuf berdiri di belakang Niar. "Erlang Papa yang nyuapin."
"Emang mau? Makan sama bi Imah aja dia nggak mau, nggak apa-apa mas aku udah biasa kayak gini."
Yusuf meraih mangkuk di tangan Niar lalu duduk di sebelah Erlang. "Erlang sayang, Papa yang nyuapin mau ya?"
Erlang geleng-geleng.
Niar merapatkan bibirnya menahan tawa. "Tuh, nggak mau kan?"
Yusuf mengangkat tubuh Erlang lalu memangkunya. "Nanti jalan-jalan sama Papa ya? Sekarang maem dulu!."
Erlang akhirnya mau membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Papanya hingga makanan dalam mangkuknya habis
Setelah selesai Niar segera mendekati anaknya. "Erlang, Mama berangkat kerja dulu, jangan nakal!"
Erlang mengangguk lalu memeluk serta mencium Mamanya. Yusuf melihat itu rasanya sangat bahagia namun juga pilu, dia telah membiarkan Niar bekerja, banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.
Niar beralih menatap Yusuf. "Aku kerja dulu mas nggak lama kok cuma setengah hari."
"Aku antar."
"Nggak usah deket kok cuma jalan kaki sebentar."
"Aku ngantarnya juga jalan kaki."
"Terserah kamu." ujar Niar pasrah.
Mereka berangkat dengan jalan kaki
sepanjang jalan Yusuf menggandeng tangan Niar.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like & share terima kasih šš