
Niar telah selesai meminum susu hangatnya lalu meletakkan gelas kosongnya di atas meja. "Oya mas, Andi mau pulang rencananya dia mau menetap disini tidak akan ke Palu lagi."
"Oh ya, kapan sayang?" tanya Yusuf.
"Katanya sih kira-kira satu minggu lagi." jawab Niar.
"Bagus dong rumah kita jadi makin rame."
"Andi tidak tinggal di rumah kita mas,
dia mau beli perumahan sendiri."
Yusuf menyatukan alisnya. "Kenapa harus beli rumah sendiri? Suruh Andi tinggal disini saja sayang bantuin aku jaga kalian. Karena rencananya aku mau melebarkan sayap perusahaan kita di Rusia dan aku harus turun tangan langsung mengawasinya sampai perusahaan kita di sana benar-benar berjalan lancar. Mungkin enam sampai sepuluh bulan aku disana."
Niar merengut. "Lama banget mas, aku nggak mau pisah sama kamu lama-lama gitu."
"Jangan khawatir sebulan sekali aku pulang kok."
Niar mendesah kecewa. "Masa aku melahirkan sendirian lagi."
"Kan ada Ibu, bi Imah, Andi, do'a kan semua berjalan lancar agar aku bisa pulang secepatnya."
"Aku pasti mendo'akanmu, aku pasti kangen berat sama kamu mas." ujar Niar manja.
__ADS_1
"Dulu berpisah dua tahun lebih kamu sanggup, sekarang maksimal sepuluh bulan masa nggak sanggup sih?"
"Entah mengapa sekarang aku tidak ingin jauh-jauh dari kamu mas."
Yusuf memeluk Niar serta mengecup keningnya. "Sabar ya sayang semua demi masa depan anak-anak kita."
*
Satu minggu kemudian waktunya Andi pulang ke Jakarta. Yusuf, Niar, Erlang menjemputnya di Bandara, setelah Andi sampai di Bandara mereka kangen-kangenan sebentar lalu pulang ke rumah.
"Selamat datang di rumah ini lagi Andi."
Andi mencium punggung tangan Ibu. "Terima kasih Bu."
"Kamu tinggal di rumah ini saja tidak usah beli rumah dulu." pesan Ibu pada Andi.
"Jangan sungkan-sungkan loh."
Andi tersenyum. "Sekali lagi terima kasih Bu."
"Ndi kamu mau makan siang dulu atau mau istirahat dulu?" tanya Niar.
Andi mengangkat tubuh Erlang. "Nanti aja kak aku mau main dulu sama Erlang ponakan Om paling ganteng."
__ADS_1
Andi membopong Erlang menuju taman belakang rumah.
Niar dan Yusuf duduk santai di sofa.
Yusuf mengelus-elus perut Niar. "Hai anak Papa lagi mainan apa di dalam? Maafin Papa ya sayang, Papa nggak bisa nemenin kamu setiap saat, Papa harus kerja cari uang yang banyak untuk kalian, demi masa depan kalian, jangan nakal, temenin Mama, kasian Mamamu kesepian. Oya, kamu mau minum susu buatan Papa nggak?"
"Mau Pah." jawab Niar dengan suara menirukan suara anak kecil.
Yusuf mencium perut Niar lalu menegakkan tubuhnya. "Sebentar ya sayang aku buatin dulu, spesial buat istriku tercinta."
Padahal sudah ada pembantu tapi Niar lebih suka susu buatan suaminya, sejak hamil Erlang dulu juga begitu.
Tak butuh waktu lama Yusuf telah selesai lalu kembali ke sofa beserta segelas susu hangat di tangannya. "Sayaang susunya sudah siap."
Niar meraih susu hangat dari tangan suaminya. "Terima kasih papa sayang."
*
Dua minggu kemudian waktunya Yusuf berangkat ke Rusia, dan malam ini adalah malam terakhir mereka. Mereka ingin malam ini menjadi malam yang indah dan berkesan karena kemungkinan mereka bakal lama bertemu kembali.
Yusuf menghias kamarnya bak kamar pengantin, bunga-bunga bertaburan di mana-mana.
Niar juga memoles wajahnya dengan makeup dan memakai gaun yang indah meskipun perutnya buncit namun tidak mengurangi pancaran kecantikannya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan share+tekan love sebagai favorit kalian terimakasih š