
*
*
"Oya mas mulai sekarang biar aku yang antar jemput anak-anak ya? Daripada aku bosan tidak ada kerjaan." pinta Niar terhadap suaminya.
Yusuf tersenyum tipis. "Iya, terserah kamu yang penting kamu happy."
Niar sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Yusuf. "Kamu tidak cemburu kan?" tanyanya hati-hati.
"Ngapain cemburu? Nggak akan ada yang bisa ngambil kamu dariku kecuali Tuhan." jawab Yusuf mantap.
Niar mengecup singkat bibir Yusuf. "Okay, deal. Aku mandi dulu."
"Hemm." Yusuf hanya menjawab dengan deheman.
Niar mandi secepat kilat pakai baju dan dandan ala kadarnya terus menyusul Yusuf dan anak-anak di meja makan.
"Selamat pagi semua maaf Mama telat, Papa sih nggak bangunin Mama."
"Pagi Mah."
"Pagi Mah."
Jawab Erlang dan Kayla bersamaan.
__ADS_1
"Ayo sarapan terus berangkat keburu siang nanti macet."
Mereka sarapan sembari sesekali ngobrol hingga selesai.
Yusuf berangkat duluan karena ada meeting pagi-pagi.
Setelah Yusuf berangkat, Niar juga segera menuju garasi bersama anak-anak, mereka memasuki mobil lalu Niar melajukannya membelah jalan menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah Niar membukakan pintu mobil untuk anak-anak dan mereka berpamitan serta mencium punggung tangan Mamanya.
Niar mengelus puncak kepala anak-anaknya. "Belajar yang pinter ya sayang, jangan nakal! Dan pulangnya nungguin Mama, oke?"
"Iya Mah."
"Iya Mah."
"Dadah Mama." lanjut mereka sembari melambaikan tangan lalu memasuki gerbang sekolah tersebut.
Anak-anak berjalan memasuki gerbang dan Niar masih melihatnya sampai anak-anak masuk kelas. Saat Niar sedang memperhatikan anak-anaknya tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya.
"Selamat pagi bu Niar."
Niar menurunkan kaca mobilnya. "Selamat pagi pak."
"Dari tadi saya perhatikan kayaknya anda tidak rela anaknya masuk sekolah, kalau anda tidak rela bu Niar ikut sekolah lagi saja."
__ADS_1
Niar tersenyum kecil. "Pak Daniel ada-ada saja masa sudah jadi ibu-ibu masih mau sekolah pak."
Senyum Niar menular pada Daniel. "Saya justru senang kalau punya murid segede bu Niar."
"Saya duluan pak." ujar Niar sembari tersenyum ramah, lalu dia melajukan mobilnya kembali.
Niar menyetir namun fikirannya melayang entah kemana. "Aku di rumah mau ngapain ya? Bingung juga nggak ada kerjaan, anak-anak sudah sekolah, masa' aku harus hamil lagi biar punya kesibukan?" Niar menggeleng. "Aduuhh enggak deh. Apa aku kuliah saja ya biar punya kesibukan. Ah, nanti deh aku omongin dulu sama mas Yusuf." Niar bermonolog sendiri.
Niar sampai rumah dan baru masuk dia melihat bibi mau belanja keperluan rumah. "Bi, biar aku saja yang belanja."
Bibi menggeleng cepat. "Enggak usah mbak ini sudah menjadi tugas bibi."
Niar tetap merebut daftar belanjaan yang di tangan Bibi. "Udaahh bibi tenang saja daripada aku bengong di rumah nggak ada kerjaan mending aku bantuin bibi."
"Ya udah kalau mbak Niar maksa." ucap Bibi pasrah.
"Oke, aku belanja dulu bibi jaga rumah."
"Siapp." jawab Bibi.
*
Sore hari Niar menyiram bunga-bunga kesayangannya, dia menoleh ke garasi belakang dan melihat mobil yang dulu, mobil yang selalu di pakai Yusuf untuk kencan dengannya. Bahkan Niar pakai mobil itu waktu latihan nyetir dulu. Mobil itu memang sudah lama tidak di pakai karena sudah ketinggalan jaman, namun sayang kalau di jual mobil itu banyak kenangan.
Niar mendekati mobil itu dan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Bersambung...