Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Niar pergi meninggalkan Yusuf


__ADS_3

Yusuf berangkat kerja, dan lagi-lagi ibunya Yusuf datang dan kali ini dia benar-benar sudah hilang kendali.


"Hei! Wanita murahan keluar kamu!!" teriak Ibu dari luar kontrakan.


Begitu mendengar suara Ibu Yusuf, Niar keluar dari dalam kontrakkan. "Ada apa lagi Bu?"


Ibu Yusuf berjalan mendekati Niar. "Puas kamu sudah bisa menguasai anak saya?!"


"Maksud ibu apa?


"Jangan pura-pura pikun! Kamu sengaja kan menyita seluruh waktu Yusuf, sampai dia lupa pada Ibunya sendiri?!"


Niar menggeleng cepat. "Sungguh saya tidak ada maksud begitu Bu, nanti aku akan bilang sama mas Yusuf supaya jangan sering-sering kesini."


"Kamu kira itu cukup!?"


"Ibu maunya gimana?" tanya Niar pasrah.


"Tinggalkan anak saya!"


"Bagaimana dengan anak yang aku kandung? cucu Ibu."


Ibu melotot tajam. "STOP!!! Jangan sekali-kali bilang kalau itu cucuku, aku tidak mau punya cucu dari rahim seorang *******!! Lagian saya juga tidak percaya kalau itu cucuku, sudah berapa banyak laki-laki yang sudah menikmati tubuh mu? Mungkin itu anak dari laki-laki lain yang kamu tujukan kepada anak saya, kamu memanfaatkan perasaan anak saya yang tergila-gila sama kamu."


Bi Imah akhirnya buka suara. "Tolong cukup Bu jangan marah-marah disini!"


Ibu tersenyum meremehkan. "Hei! siapa kamu berani-beraninya ngatur saya!"

__ADS_1


Niar sudah tidak tahan dengan kata-kata Ibu Yusuf dia lari menjauh di ikuti oleh bi Imah di belakangnya.


Bi Imah segera meraih pergelangan tangan Niar. "Mbak Niar tunggu!"


Niar berhenti. "Aku sudah tidak kuat bi."


"Terus kita mau kemana mbak?"


"Entahlah bi. Bi Imah pergi saja cari majikan lain aku tidak apa-apa kok sendiri."


Bi Imah menggeleng cepat. "Enggak mbak, bi Imah kan tidak punya anak jadi bibi kesepian dirumah bibi ikut saja, menjaga mbak Niar."


Akhirnya mereka berjalan meskipun tak tentu arah, untungnya di jalan mereka ketemu Juna."


"Niar, kamu kenapa lagi?" tanya Juna pada Niar, karena Niar menangis di jalan. "Terus kalian mau kemana?"


"Kami pergi dari kontrakan, seperti biasa ibunya pak Yusuf datang dan marah-marah." jawab bi Imah.


"Kamu benar mas." ujar Niar sembari terus menangis.


"Terus sekarang kalian mau kemana?"


"Entahlah mas." jawab Niar sekenanya.


"Kalian tinggal saja di Villaku."


Niar mengernyit, dia baru tau kalau Juna punya Villa. "Dimana?"

__ADS_1


"Bogor, deket kebun teh, kalau mau aku anter sekarang."


Niar menatap Juna ragu. "Emang tidak apa-apa aku tinggal di Villa kamu?"


Juna terkekeh. "Jelas tidak apa-apa lah dari pada kosong, lagian kalau tidak boleh kenapa aku harus nawarin kamu."


Niar mengangguk cepat. "Aku mau, terima kasih banyak mas kamu sudah banyak membantu, aku tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikanmu."


"Melihat kamu tersenyum saja aku sudah cukup bahagia, kamu bisa hidup tenang disana." ujar Juna.


Niar menatap Bi Imah. "Bi Imah jadi mau ikut? tapi aku tidak punya uang untuk bayar bulanan bi Imah, tidak usah ikut juga tidak apa-apa kok bi. Bi Imah cari kerjaan lain saja."


"Enggak-nggak bi Imah biar ikut, dia yang akan menemani kamu, menjaga kamu, soal bulanan bi Imah biar aku yang nanggung." sahut Juna.


"Ternyata mas Juna baik ya." ujar bi Imah.


Juna tersenyum tipis. "Kemarin kan belum kenal bi."


"Tapi jangan sampai ada yang tau kalau aku di Bogor ya mas, kamu harus janji."


"Iya, aku janji."


Mereka berangkat menuju Villa di Bogor.


*


Jam istirahatpun tiba Yusuf ke kontrakan membawa rujak pesenan Niar, dia mencari-cari Niar dan bi Imah, namun nihil Yusuf tidak menemukan mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih sudah setia mengikuti kelanjutan ceritanya šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2