
Yusuf mencari Niar kesana-kemari namun tidak ketemu, handphonenya juga di tinggal, Yusuf ke danau menelusuri danau tapi hasilnya tetap nihil.
Yusuf juga mencari sampai makam Ayah Niar, belum ketemu juga.
Yusuf sudah kesana-kemari seperti orang gila, Yusuf sedih, frustasi, akhirnya Yusuf menunggu Niar di kontrakan. Sampai larut malam Yusuf masih di teras kontrakan.
Juna kebetulan lewat dia baru pulang nganter Niar. Juna membuka kaca mobilnya. "Hei.. Anda ngapain bengong disitu?"
"Bukan urusan anda!"
"Kamu nunggu Niar? sampai ubanan pun kamu nggak akan ketemu Niar disitu."
Yusuf menatap Juna. "Maksud kamu apa?"
Juna berdecak. "Ck ck ck Kamu nggak tau?"
"Jangan bikin aku tambah pusing, tolong jelaskan!"
Juna membuang napas kasar. "Kamu nggak tau apa yang terjadi tadi? Ibu kamu tuh datang lagi kesini dan marah-marah. Niar dan bi Imah pergi karena tidak tahan dengan mulut Ibu kamu yang tajamnya melebihi pedang."
"Terus mereka sekarang pergi kemana?" tanya Yusuf serius.
Juna mengedikkan bahu. "Nggak tau, katanya mau pergi jauh nenangin diri, lebih baik anda pulang, Niar nggak akan kembali lagi."
Yusuf akhir nya pulang dengan hati hancur.
Sesampainya dirumah Yusuf hanya duduk di samping ranjang memandangi foto-foto Niar.
Ibunya memasuki kamar Yusuf karena dia merasa ada yang aneh dengan anaknya. "Yusuf, jam segini kamu baru pulang?"
__ADS_1
Yusuf menatap Ibunya. "Ibu sekarang puas kan? Sudah berhasil memisahkan Yusuf dengan belahan jiwa Yusuf."
Ibu ikut duduk di sebelah Yusuf. "Maksud kamu apa sayang?"
"Ibu tadi datang ke kontrakan Niar dan menyakitkan hati Niar lagi, sekarang Niar benar-benar sudah pergi ninggalin Yusuf." ujar Yusuf dengan mata yang berkaca-kaca sembari memegangi rambutnya frustasi.
Ibu Yusuf mengusap bahu anaknya. "Maafin Ibu sayang, ini semua demi kebaikanmu, kelak kamu juga akan mengerti kenapa Ibu seperti ini."
"Tolong tinggalkan Yusuf sendiri bu!"
Ibu beranjak dari tempatnya. "Ibu akan pergi, tapi kamu jangan larut dalam kesedihan masih banyak wanita lain yang lebih baik dari wanita itu."
Yusuf tidak menanggapi ucapan Ibunya.
Ibu akhirnya keluar kamar meninggalkan Yusuf sendiri dulu.
Pagi-pagi ibunya sudah menunggu di meja makan namun Yusuf tidak muncul-muncul.
"Tumben Yusuf belum siap biasanya pagi-pagi udah siap." batin Ibu Yusuf. "Bi, tolong panggilkan Yusuf di kamarnya."
Bibi mengangguk. "Baik, sebentar nyonya."
Bibi ke atas mengetok pintu kamar Yusuf. "Tuan, sarapannya sudah siap."
"Nanti aja bi." sahut Yusuf dari dalam kamarnya.
"Tapi nyonya sudah menunggu tuan di meja makan."
"Suruh Ibu sarapan sendiri!"
__ADS_1
Akhirnya Bibi turun lagi lalu menuju ruang makan lagi. "Tuan belum mau sarapan nyonya"
"Ya sudah bi, biar saya yang kesana."
Ibunya naik ke atas, dia membuka pintu kamar Yusuf yang tidak terkunci, dia melihat Yusuf masih dengan posisi seperti semalam dan sepertinya Yusuf tidak tidur semalaman.
Ibu kembali mengusap bahu Yusuf. "Yusuf, ayo kita sarapan."
Yusuf tidak bergeming. "Ibu saja dulu, Yusuf belum lapar."
"Yusuf sayang, ibu kan sudah bilang, jangan larut dalam kesedihan, bangkit dong kamu kan laki-laki."
Yusuf tersenyum kecut. "Dengan mudahnya Ibu bilang seperti itu, Ibu nggak tau apa yang Yusuf rasakan, hati Yusuf hancur Bu, separuh jiwa Yusuf pergi bersama Niar."
"Lama-lama kamu pasti akan terbiasa hidup tanpa kehadiranya. Kenapa kamu belum siap-siap ke kantor?"
"Malas!" jawab Yusuf singkat.
"Terserah kamu! Waktu akan terus berjalan dan waktu yang akan menyembuhkan luka di hatimu." ujar Ibu pasrah lalu keluar dari kamar Yusuf menuju ruang makan lagi.
"Bi, tolong antar makanan ke kamar Yusuf." titah Ibu pada pembantunya.
"Baik nyonya."
Bersambung...
Terima kasih buat semua pembaca,
jangan lupa selalu dukung &like aku š š
__ADS_1