
"Kak Yusuf masuk ya." ujar Yusuf sembari berjalan menuju kamar Niar.
"Iya kak." jawab Andi.
Yusuf membuka pintu kamar Niar dia memandangi wajah Niar yang cantik, Niar masih terlelap terlihat begitu tenang dan damai.
Yusuf mendekat dan mengecup kening Niar. "Aku berangkat kerja dulu ya sayang."
Lalu Yusuf keluar dan ternyata Andi di ruang tamu. "Ini Ndi sarapannya." ujar Yusuf sembari meletakkan kantong plastik berisi sarapan untuk Niar dan Andi.
"Makasih kak."
"Iyaa, kak Yusuf berangkat kerja dulu."
"Hati hati kak."
"Ok."
Yusuf pun berangkat menuju kantornya.
*
Matahari sudah meninggi Niar baru bangun karena memang semalam dia tidak bisa tidur, baru bisa tidur menjelang pagi, Niar keluar kamar dan kebetulan ada pak pos yang datang.
Tok.. tok.. tok.. "Permisi."
"Iya sebentar." sahut Niar dari dalam kontrakkan lalu membuka pintu.
"Apa benar ini alamatnya mas Andi?" tanya pak Pos setelah Niar membuka pintu.
"Betul pak."
Pak pos mengeluarkan sebuah amplop putih. "Ini ada surat untuk mas Andi."
Niar meraih amplop tersebut. "Oh, ya terima kasih pak."
"Sama-sama, kalau begitu saya terusan mbak." ujar pak pos.
"Iya pak, sekali lagi terima kasih pak."
__ADS_1
pak pos pergi lalu Niar masuk ke kamar Andi. "Ndi ini ada surat buat kamu."
Andi mengernyit. "Surat apa kak?" Andi nampak berfikir sejenak. "Oh, mungkin surat panggilan kerja kak, rekomendasi dari sekolah Andi."
"Mungkin, ayo cepet buka!"
"Andi meraih amplop tersebut lalu membuka surat itu dan membacanya. "Benar kak, Alhamdulillah ya Allah akhirnya Andi dapat panggilan kerja."
Niar ikut tersenyum. "Alhamdulillah ya Ndi kakak ikut senang."
Padahal hati Niar makin tidak karuan, dia bahagia tapi juga sedih karena bakal di tinggal Andi kerja, tinggalah dirinya sendiri.
Senyuman Andi perlahan hilang. "Terus nanti kakak gimana? nanti tinggal sama siapa? yang jagain kakak siapa? apa aku batalin aja ya kak?"
Niar mengusap bahu Andi. "Udahh... kamu berangkat aja, ini kesempatan yang bagus buat kamu, jangan pikirin Kakak, Kakak akan baik-baik saja."
"Ya udah Andi kerja ya kak do'a in Andi sukses, nanti kalau Andi sudah sukses Andi akan ajak kakak tinggal disana."
"Kakak pasti do'a in kamu Ndi."
"Ini panggilannya lusa kak jadi Andi besok berangkat." ujar Andi.
"Baik Kak." Andi berkemas menyiapkan barang-barang yang mau di bawa.
*
Sorenya Yusuf datang dan melihat barang-barang bawaan Andi. "Kamu mau kemana Ndi?" tanya Yusuf.
"Kerja kak." jawab Andi.
"Kerja dimana? merantau?"
"Iya kak, Andi mau merantau ke Palu."
"Kenapa harus merantau Ndi? kamu kerja aja di kantor kak Yusuf." bujuk Yusuf.
"Perusahaan Kakak kan bukan bidang Andi, lagian umur Andi juga belum genap 18 tahun Kak, ini aja kalau bukan rekomendasi dari sekolah mungkin Andi belum di terima." ujar Andi.
"Ya sudah, Kakak tidak akan memaksa kamu,
__ADS_1
terus kak Niar gimana? udah ngizinin kamu?"
"Sudah Kak, meskipun sebenarnya berat bagi Kak Niar." jawab Andi.
"Berangkat kapan Ndi?"
"Besok kak." jawab Andi.
"Jam berapa? biar Kak Yusuf yang anterin ke Bandara."
"Jam sepuluh Kak."
"Oke, besok Kak Yusuf yang antar kamu."
"Iya Kak, terima kasih banyak Kak."
Yusuf beranjak dari tempatnya. "Kakak pergi bentar Ndi, nanti balik lagi."
Andi mengernyit. "Kemana kak?"
"Mau tau aja!" jawab Yusuf nyeleneh.
Yusuf pun pergi, belum ada lima belas menit Yusuf sudah datang lagi rupanya dia ke ATM ambil uang.
Andi menyatukan alisnya saat melihat sosok Yusuf sudah memasuki kontrakannya lagi. "Kok cepat sekali kak?"
"Ini ada sedikit uang untuk pegangan kamu disana." ujar Yusuf sembari menyerahkan uang tersebut pada Andi.
"Tidak usah Kak ngerepotin Kakak." tolak Andi.
"Sudah, di terima saja hanya sedikit."
Andi akhirnya menerima uang pemberian Yusuf. "Andi terima ya Kak, terima kasih banyak Kak."
"Sama-sama, kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan hubungi Kak Yusuf ya."
Bersambung...
*Jangan lupa gayss selalu dukung & like aku tanks šš*
__ADS_1