
*
*
"Cepet sembuh ya sayang, aku sudah rindu pengen di gendong sama kamu." bisik Niar di telinga Yusuf.
"Aku juga rindu bercinta denganmu." balas Yusuf juga berbisik.
Niar menoel hidung Yusuf. "Dasar nakal!"
Yusuf terkekeh sejenak lalu dia teringat dengan kondisi tangannya. "Terus bagaimana dengan tanganku sayang? Aku kerjanya gimana?"
"Bisa sembuh mas, tapi butuh waktu agak lama, selama tanganmu belum sembuh aku yang akan menjadi tanganmu, kalau butuh apa-apa tinggal bilang aku."
Yusuf membuang napas berat. "Pekerjaanku sayaang,, kamu kan gak bisa nggantiin."
"Kita pikirkan nanti, kan bisa minta tolong sama Andi dan sekertarismu di kantor,
sudah jangan pikirin itu dulu, yang penting kamu sembuh dulu terus kita kembali ke Jakarta." ujar Niar sembari mendorong pelan kursi rodanya.
*
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Yusuf sudah di perbolehkan kembali ke Jakarta. Niar segara menghubungi Andi dan memintanya datang lagi ke Bali.
Sembari menunggu Andi, Niar membereskan barang-barang mereka.
Andi telah datang dan mereka segera kembali ke Jakarta.
*
__ADS_1
"Yusuf : Erlang, Kayla Papa Mama pulang."
Begitu mendengar suara Papanya anak-anak yang tadinya sedang bermain di kamar
langsung berhambur lari menuruni tangga dan memeluk Papa Mama mereka.
"Papa Mama kok lama sih kita kangen tau?" protes Erlang.
"Papa juga kangen kalian."
Kayla menyentuh wajah Papanya. "Papa kenapa kok mukanya pada sakit?"
"Papa habis menghajar penjahat sayang terus penjahatnya kalah deh." jawab Niar sembari mengedipkan salah satu matanya ke arah Yusuf.
"Horee... Papa jadi pahlawan." Kayla bersorak senang.
"Sudah-sudah, sekarang kalian main lagi ya, Papa Mama capek mau istirahat dulu." ujar Andi dan di angguki Erlang dan Kayla.
"Tapi kali ini aku tidak bisa gendong kamu sayang."
Niar tersenyum tipis. "Sekarang tidak bisa tapi nanti kalau sudah sembuh harus gendong aku tiap hari ya?"
"Oke!!"
Niar menuntun Yusuf menaiki tangga hingga sampai di kamar mereka.
Niar merebahkan tubuhnya sembari mengusap ranjangnya. "Aku rindu sekali dengan kamar kita mas."
Yusuf juga merebahkan tubuhnya di ranjang.
__ADS_1
Niar menoleh ke arah Yusuf. "Kamu mau langsung istirahat atau makan dulu mas?"
Yusuf menggeleng. "Aku mau istirahat aja dulu, capek."
Niar beringsut duduk. "Ya sudah kamu istirahat dulu, aku mau ke kamar anak-anak bermain sama mereka melepas rindu."
Niar keluar kamar dan Yusuf istirahat.
Baru istirahat sesaat Yusuf teringat dengan pekerjaannya, pekerjaan yang sudah ia tinggalkan berhari-hari, pasti sudah menumpuk.
"Sayaang." Yusuf cukup berteriak memanggil istrinya, karena kamarnya memang bersebelahan jadi Niar bisa mendengar panggilan Yusuf.
Niar segera keluar dari kamar anak-anak menuju kamarnya. "Iya mas, ada apa?"
"Tolong bantuin aku kerja."
Niar mengernyit. "Gimana caranya mas? Aku kan nggak bisa ngerjain pekerjaanmu."
"Tolong ambilin laptopku di ruang kerja sayang."
Niar mengambil laptop yang di maksud suaminya. "Terus laptopnya di buka."
Niar membuka laptop dan mereka mulai mengerjakan pekerjaan bersama.
Yusuf yang memberi arahan dan Niar yang mengerjakan. Saking sibuknya sampai tidak terasa sudah sore namun belum selasai juga.
Yusuf melirik jam di dinding. "Sudah sore sayang kita lanjut besok saja, terima kasih kamu sudah membantu banyak pekerjaanku."
Niar tersenyum. "Iya mas."
__ADS_1
Bersambung...