
Saya lebih bahagia disana Bu.
Yusuf menarik pergelangan tangan Ibunya. "Bu, sudah jangan memaksa Niar! Ibu sendiri kan yang dulu menyia-nyiakan Niar."
Ibu menyentak tangan Yusuf. "Tapi sekarang Ibu sudah menyesalinya dan sudah meminta maaf."
"Sudah, jangan ribut aku datang kesini bukan untuk cari ribut, ayo mas kita berangkat sekarang."
"Kami pergi dulu Bu."
Ibu menangis terisak. "Tolong jangan bawa cucu ibu."
Yusuf mengusap lengan Ibunya. "Kapan-kapan Yusuf pasti akan ajak Ibu menemui Erlang di Bogor."
Akhirnya Ibu masuk ke rumah dalam keadaan sedih dan terus menangis, dia baru saja bertemu cucunya namun sudah dipisahkan lagi.
Mereka segera berangkat karena hari sudah mulai sore.
Sepanjang perjalanan Yusuf selalu memandangi wajah Niar, wanita yang selama ini ia rindukan dan wajah anaknya seakan tak rela untuk berpisah, 2 tahun lebih tidak bertemu, baru bertemu sudah harus berpisah lagi.
Perjalanan telah selesai mereka sampai di Bogor, Erlang masih tidur dan Yusuf membopongnya masuk ke rumah, dia tidak menidurkan Erlang di kamar namun Yusuf memangkunya.
Yusuf masih ingin memeluk dan memandangi wajah anaknya, seakan tidak ingin melepasnya barang sedetikpun.
Niar merentangkan kedua tangannya hendak mengambil mengambil alih Erlang dari pangkuan Yusuf. "Sini mas, biar Erlang tidur di kamar."
__ADS_1
"Izinkan aku memangkunya, aku masih ingin memeluknya."
"Nanti kamu capek loh."
"Aku tidak akan capek, biarkan aku mengobati rinduku pada Erlang."
"Ya sudah terserah kamu, nanti kalau sudah capek kamu tidurin aja di kamar, aku mau rebahan dulu di kamar, capek banget." ujar Niar dan di angguki oleh Yusuf.
Yusuf terus memandangi wajah Erlang. "Kamu istirahat aja dulu, aku nggak akan melepas pelukanku padanya."
Beberapa jam kemudian Erlang bangun dan mencari mamanya, Yusuf segera menyusul Niar dikamar. "Sayang, Erlang bangun nyariin kamu."
Niar membalikkan tubuhnya. "Bawa sini mas!"
Yusuf menidurkan Erlang di samping Niar,
Malam semakin larut Yusuf harus segera pulang, dia mendekat dan mencium mereka berdua.
Yusuf keluar kamar lalu menemui bi Imah yang sedang berada di dapur. "Bi saya pulang dulu, tolong jaga mereka ya bi."
Bi Imah mengangguk. "Baik tuan."
Yusuf masuk mobil dan pulang.
*
__ADS_1
Sampai di rumah ternyata ibunya belum tidur masih menunggu dirinya.
"Yusuf, kenapa kamu biarkan mereka pergi meninggalkan kita, padahal ibu baru saja bertemu dengan Erlang cucu ibu." tanya Ibu.
Yusuf menghembuskan napasnya berat. "Bu. Kita harus pelan-pelan mengajak mereka tinggal disini, kesannya jangan terlalu memaksa. Ibu sendiri kan yang dulu tidak mengakui adanya cucu ibu."
Ibu menunduk. "Maafkan Ibu, Ibu termakan omongan teman ibu."
Yusuf memicingkan matanya. "Kok Ibu bisa yakin kalau Erlang adalah anak Yusuf? Kan belum di tes DNA."
"Nggak usah tes DNA saja Ibu sudah yakin kalau Erlang cucu Ibu, dia mirip sekali sama kamu 11 12 bentuk wajahnya, rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, kulitnya, pokoknya dia persis sama kamu waktu kecil." ujar Ibu panjang lebar.
"Saat pertama kali Yusuf melihat Erlang, Yusuf juga sudah yakin kalau dia darah daging Yusuf, buah hati Yusuf."
"Terus Ibu harus menunggu sampai kapan lagi? Ibu sudah bertahun-tahun menginginkan cucu."
"Yusuf pasti akan membawa mereka tinggal bersama kita, tapi pelan-pelan ada prosesnya Bu."
"Terserah kamu, tapi jangan lama-lama
Ibu nggak mau pisah sama cucu ibu lebih lama lagi!"
Bersambung...
Gimana gayss.. kira-kira Niar mau nggak ya Tinggal di Jakarta lagi?
__ADS_1
Terima kasih buat semua yang sudah setia mengikuti karya saya 🙏🙏 jangan lupa like & share ya😍😍