
Akhirnya mereka tidur hingga
Pagi menjelang. Erlang mandi sama bi Imah dan Niar di dapur sedang memasak.
Di saat Niar sedang sibuk memasak tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang sontak Niar kaget, refleks Niar langsung menoleh ke belakang dan kecupan Yusuf mendarat tepat sasaran, di pipi Niar.
Setelah mengecup pipi Niar, Yusuf menempelkan dagunya di bahu Niar. "Selamat pagi sayang, masak apa?"
Niar menggeliat geli. "Nasi goreng, sudah lapar?"
"Sudah, tapi aku mau mandi dulu."
Niar menyatukan alisnya. "Emang bawa baju ganti?"
"Bawa dong."
Niar melepaskan pelukan Yusuf. "Ya sudah sana mandi!"
"Kamu aja juga belum mandi."
"Tapi tetap cantikkan?" ujar Niar sembari menaikan turunkan alisnya.
Yusuf mencubit hidung Niar. "GE ER!! Ya sudah aku mandi dulu jangan lupa bikinin aku kopi!"
"Hei, disini bukan restoran ataupun kaffe yang bisa pesen menu sesukamu!"
"Nanti aku bayar deh."
"Berani bayar berapa?"
"Bayar pakai cinta." jawab Yusuf sembari berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Niar menyelesaikan masakannya lalu menatanya di meja makan.
Yusuf dan Erlang sudah selesai mandi dan segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
Selesai sarapan Niar baru mandi dan siap-siap mau belanja keperluan dapur ke pasar.
Niar keluar kamar, Yusuf yang sedari tadi sedang mainan bersama Erlang lalu menoleh ke arah Niar. "Kamu cantik sekali sayang." Yusuf memuji Niar, padahal Niar hanya pakai daster dan sandal jepit. "Mau kemana pagi-pagi gini?"
Niar memperhatikan penampilannya. "Gembel!! Mau belanja keperluan dapur ke pasar."
"Erlang ikut nggak? Aku anterin ya?"
"Erlang nggak ikut, disana tempatnya kurang bersih."
Yusuf beranjak dari tempatnya. "Yuk, tak antar."
Niar mengangguk lalu masuk mobil dan mereka berangkat ke pasar, di pasar Yusuf hanya ngikutin Niar dari belakang dan membawa belanjaan.
"Sayang, kenapa belanja sayurnya nggak di mall saja?" tanya Yusuf sembari terus mengikuti langkah Niar.
"Kan ada aku."
Niar menggeleng. "Aku nggak mau merepotkan siapapun termasuk kamu."
"Tapi nanti setelah kita nikah kamu jangan kayak gini lagi ya, kamu di rumah saja khusus jagain Erlang." ujar Yusuf.
"Emang siapa yang mau nikah sama kamu?"
"Awas kamu ya, tunggu pembalasanku!"
Akhirnya mereka selesai belanja, waktunya pulang. Sebelum sampai Villa mereka mampir dulu di kebun teh, sekedar jalan-jalan melihat pemandangan yang indah dan udara yang sejuk.
__ADS_1
Niar duduk di sebuah batu dan Yusuf berjongkok di depan Niar sambil membuka kotak beludru berwarna merah lalu membukanya di hadapan Niar. "Sayang, menikahlah denganku, laki-laki tua ini, aku akan berikan seluruh cinta dan hidupku untukmu."
"Maaf mas."
Yusuf mendesah kecewa. "Kamu menolakku?"
"Maaf. Karena aku tidak menerima lamaranmu yang tadi malam." jawab Niar sambil terkikik.
Yusuf menjadi gemas. "Kamu itu bikin jantungku mau copot tau nggak. Jadi kamu menerima lamaranku? Kamu bersedia menikah denganku?"
Niar tersenyum. "Iya mas, nggak ada alasan untuk aku menolakmu, kamu adalah Papanya Erlang dan aku juga cinta sama kamu."
Yusuf menarik tubuh Niar lalu memeluknya. "Terima kasih sayang."
Mereka berpelukan, kecupan demi kecupan mendarat bertubi-tubi di wajah Niar lalu Yusuf memasangkan cincin di jari manis Niar.
"Sudah ah mas, yuk kita pulang takutnya nanti Erlang nyariin."
Yusuf langsung membopong Niar masuk mobil dan mereka pun pulang.
Ternyata benar Erlang sudah nangis nyariin Mamanya, Niar turun dari mobil dengan tergesa-gesa lalu mengangkat tubuh Erlang. "Sayang, kenapa nangis?"
Erlang mengalungkan kedua tangannya di leher Niar. "Mama kemana? Erlang ikut."
Yusuf mengusap punggung Erlang. "Mama tadi belanja sayang."
Erlang masih cemberut.
"Sebentar Papa ambilin oleh-oleh buat Erlang ya."
Bersambung...
__ADS_1
Maaf apabila masih banyak kata yang salah,
silahkan tinggalkan kritik dan saran š terima kasih šš