Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Piknik di danau


__ADS_3

"Sekeras apa pun hati manusia kalau kita terus berbuat baik kepadanya, pasti akan luluh juga mbak." ujar bi Imah.


Niar tersenyum tipis. "Semoga saja ya bi, bi Imah do'ain Niar, agar Niar selalu kuat."


Bi Imah mengusap lengan Niar. "Pasti mbak, sekarang mbak Niar istirahat dulu, mbak Niar masih butuh banyak istirahat."


"Jangan pergi ya bi temenin aku."


"Iya mbak, atau mau bibi buatin susu dulu mbak?"


"Tidak usah bi nanti saja."


Niar membaringkan tubuhnya di ranjang sampai hari mulai siang, Niar merasa lapar lalu Niar keluar kamar.


"Mbak Niar lapar? ini sudah bi Imah masakin sayur." tanya bi Imah saat melihat Niar ke dapur.


"Nanti saja bi, aku pengen makan buah dulu."


Niar mengambil satu buah apel lalu mencucinya. Yusuf datang dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Niar dari belakang. "Sayang, kamu kok cuma makan buah nggak makan nasi?"


Niar menoleh. "Kamu sudah pulang mas?"


Yusuf menempelkan dagunya di bahu Niar. "Sudah dong, kan aku sudah rindu berat sama kamu."


Niar mulai menggigit buah apelnya. "Mau makan? aku ambilin ya?"


Yusuf juga menggigit buah apel di tangan Niar. "Tidak usah aku bisa ambil sendiri."

__ADS_1


Yusuf melepas pelukannya lalu mengambil makan sendiri. Yusuf juga mencoba menyuapi Niar tapi Niar tetap tidak mau makan.


Yusuf mendesah kecewa. "Sayang, kamu makan nasinya kapan?"


Niar masih memakan buah apelnya. "Nanti juga doyan sendiri, kata orang sih begitu."


*


Yusuf menyelesaikan makananya lalu istirahat sebentar di ruang tamu terus berangkat kerja lagi.


Yusuf berangkat kerja tak lama kemudian Juna datang dan kebetulan Niar sedang duduk di teras bersama bi Imah.


Juna ikut duduk di teras bersama Niar dan bi Imah. "Niar gimana keadaan kamu? Sudah baikan?"


"Sudah mas."


Bi Imah mengangguk lalu segera berdiri dan masuk ke dalam.


"Niar, kenapa kamu masih saja bertahan dengan laki-laki itu?" tanya Juna setelah bi Imah menghilang di balik pintu.


"Karena aku mencintainya, juga karena anak yang aku kandung adalah anaknya."


Juna menatap Niar dalam. "Tapi sampai sekarang dia belum bertanggung jawab padamu."


"Kan aku sudah bilang kalau Ibunya belum merestui kami."


"Tapi dia itu laki-laki, dia bisa menikah tanpa orang tuanya." ujar Juna.

__ADS_1


"Mas Yusuf tidak mau menjadi anak durhaka."


"Dia tidak menjadi anak durhaka tapi dia menjadi Ayah yang durhaka." cibir Juna.


"Nunggu sampai aku melahirkan baru kita bisa melakukan tes DNA."


Juna meraih tangan Niar lalu menggenggamnya. "Sudahlah jangan menunggunya, biarkan aku yang bertanggung jawab."


Niar melepas genggaman tangan Juna. "Tapi aku akan sabar menanti sampai anak kita lahir."


Juna mendesah kecewa. "Terserah kamu, tapi kalau kamu berubah pikiran jangan segan-segan bilang sama aku, dengan senang hati aku akan menerima kamu. Impianku semua hancur Niar, aku kembali ke Indonesia ingin segera meminangmu, tapi demi kebahagiaanmu aku rela mengalah."


Niar menunduk. "Maafkan aku mas, aku juga tidak menyangka kalau kehidupanku akan seperti ini. Mau gimana lagi semua sudah terjadi."


"Kamu yang sabar, aku pulang dulu kapan-kapan aku kesini lagi kalau laki-laki itu sedang kerja." ujar Juna sembari beranjak dari kursi.


"Maaf mas tapi jangan sering-sering!"


"Iyaa aku ngerti kok."


"Terima kasih mas."


Juna akhirnya pulang. Niar merasa bosan di rumah lalu mengajak bi Imah jalan-jalan ke danau, mereka membawa bekal makanan dan makan di pinggir danau, sore hari anginnya sepoi-sepoi suasana jadi adem ayem, makanpun terasa lebih nikmat.


Yusuf pulang kerja segera menyusul mereka karena Niar tadi sudah mengirimkan pesan padanya supaya nyusul ke danau.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih buat semua yang sudah mengikuti kelanjutan ceritanya šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2