
Meskipun perutnya buncit namun tidak mengurangi pancaran kecantikannya.
Lampu kamar yang remang-remang, Mereka dinner dikamar ala-ala restoran.
Setelah makan malam selesai mereka nonton film romantis di kamar, dilanjutkan dengan dansa. Alunan musik yang syahdu membuat mereka semakin hanyut dalam keromantisan
Yusuf mulai nakal, Yusuf mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka bersentuhan lalu Yusuf sedikit memiringkan kepalanya dan kembali mendekat hingga bibir mereka bersentuhan, Yusuf mulai meraup bibir istrinya serta menghisapnya lembut.
*
Pagi menjelang Yusuf bangun lebih dulu, Yusuf beringsut lalu dia ke dapur memanggang roti dan bikin susu untuk istrinya. Setelah semua sudah siap Yusuf kembali ke kamar beserta susu dan roti panggang di nampan.
Yusuf meletakkan nampan berisi sarapan untuk istrinya di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang. "Bangun sayang sudah pagi, aku sudah bawain sarapan buat kamu."
Niar membuka matanya perlahan lalu mengerjab beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. "Loh, kamu bangun duluan mas?"
"Bangun terus cuci muka dan gosok gigi, baru sarapan."
Niar beringsut lalu beranjak dari ranjang menuju wastafel, hanya butuh waktu beberapa menit Niar sudah selesai.
Yusuf menepuk sisi sebelahnya. "Sudah selesai? Sini aku suapin rotinya."
Niar duduk di sebelah Yusuf, dengan telaten Yusuf mulai menyuapi istrinya hingga roti dan susu yang dia bawa habis.
Yusuf mengusap perut Niar. "Sudah kenyang apa belum nih anak Papa? Kalau belum Papa ambilin lagi."
"Sudah, cukup mas."
"Lagi dong, kan yang makan berdua sama dedek."
"Dedek belum makan kali mas, kamu sendiri sudah sarapan belum?"
__ADS_1
"Sudah, tadi di dapur makan sepotong roti."
"Ya sudah, oya mas packingnya sudah beres kan?" tanya Niar.
"Sudah, nanti jam delapan kita berangkat ke Bandara."
"Kalau gitu aku mandi dulu."
Yusuf mengangkat tubuh Niar. "Kita mandi bareng."
Niar mengalungkan kedua tangannya di leher Yusuf, lalu mereka mandi bersama.
*
Setelah mandi Yusuf dan Niar turun untuk sarapan.
"Papa." Erlang lari memeluk erat Papanya.
Ibu menarik kursi lalu duduk. "Yuk semua sarapan dulu sebelum nganter Yusuf ke Bandara."
Ibu mengernyit saat melihat Niar tidak menyentuh makanan. "Loh, Niar kamu tidak sarapan? Sarapan dong kasian dedek yang di dalam perut."
"Tadi sudah sarapan roti sama susu di kamar Bu." jawab Niar.
Ibu manggut-manggut. "Oh, ya sudah, Andi ayo sarapan jangan sungkan-sungkan."
Andi mengangguk. "Iya Bu terima kasih."
Mereka sarapan dalam diam hingga makanan mereka habis. Seusai sarapan mereka siap-siap untuk mengantar Yusuf ke Bandara.
*
__ADS_1
Sampai di bandara mereka saling berpamitan.
Erlang yang rewel tidak mau di tinggal Papanya sampai nangis, namun Andi dan bi Imah berhasil membujuknya.
Yusuf dan Niar berpelukan begitu lama seakan tidak rela untuk berpisah.
Waktu semakin habis dan tiba saatnya Yusuf berangkat, akhirnya Yusuf benar-benar terbang, Niar meneteskan air mata saat melihat pesawat yang di tumpangi Yusuf terbang dan menghilang.
Perjalanan pulang Niar hanya diam, dia merasa kosong.
"Niar... Niar..." Niar tersentak kaget ketika Ibu memanggilnya. "Eh iya Bu ada apa?"
Ibu mengusap lengan Niar. "Kamu baik-baik saja kan?"
Niar tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja Bu."
"Jangan melamun terus dong, Yusuf pergi kan hanya sementara, lagian sebulan sekali Yusuf juga pulang kan."
"Iya Bu, Niar hanya belum terbiasa saja,
biasanya selalu ada mas Yusuf."
"Sudah kak, kak Niar fokus saja dengan kehamilan kakak dan Erlang, Andi yakin kak Yusuf juga nggak mau lihat kak Niar sedih,
sebulan bukan waktu yang lama kok kak." ujar Andi.
"Papa..." Erlang kembali menangis dan mencari Papanya.
Niar menghapus air mata Erlang. "Erlang sayang sudah jangan nangis terus, Papa pergi kerja untuk kita."
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya ššš