Buai Kupu-kupu Malam

Buai Kupu-kupu Malam
Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan


__ADS_3

Yusuf menurunkan belanjaan dan memberi buah apel kepada Erlang, namun Erlang menolaknya. "Sayang, Papa punya buah apel buat kamu."


Erlang menggeleng cepat. "Nggak mau! Maunya es krim!"


Yusuf terkekeh. "Ya sudah, kita beli es krim sekarang."


Mata Erlang langsung berbinar. "Asikkk,, ye ye ye beli es krim."


Yusuf menatap Niar. "Sayang, aku jalan-jalan dulu sama Erlang."


Niar mengangguk. "Hati hati."


Yusuf dan Erlang jalan-jalan, sedangkan Niar dan bi Imah sibuk di dapur.


*


Sorenya Yusuf pulang ke Jakarta.


"Yusuf, Erlang mana kok nggak ikut kesini?" tanya Ibu setelah Yusuf duduk di sofa.


Yusuf membuang napas berat. "Ya enggak lah Bu, nanti kalau aku sama Niar sudah nikah baru Erlang tinggal disini sama Ibu."


"Apa mungkin Niar masih mau jadi menantu Ibu? Ibu sudah banyak salah padanya." ujar Ibu sedih.


Yusuf mengusap lengan Ibu. "Niar sudah bersedia menikah dengan Yusuf Bu."


Wajah Ibu berubah sumringah. "Benarkah? Syukurlah, kalau begitu Ibu akan atur secepatnya pernikahan kalian." ujar Ibu antusias.


Yusuf terkekeh. "Kok jadi Ibu yang antusias banget ya?"

__ADS_1


"Iya dong, Ibu tidak ingin jauh-jauh dari cucu Ibu lagi."


"Semoga semua berjalan dengan lancar ya Bu."


Ibu menengadah kedua tangannya. "Aamiin."


*


Minggu berikutnya Yusuf datang bersama Ibunya untuk meminang Niar menjadi istrinya, semua berjalan dengan lancar.


Namun pernikahan belum bisa terlaksana karena yang menjadi wali Niar adalah Andi, dan Andi masih belum bisa pulang karena ada tugas yang belum bisa di tinggalkan.


Setelah menunggu kurang lebih dua bulan akhirnya Andi pulang.


Keperluan pernikahan telah di siapkan dengan sempurna 90% siap, rencananya mereka akan melaksanakan Ijab Qobul di Masjid 7 hari kemudian akan di adakan resepsi di hotel.


Hari H telah tiba Yusuf dan keluarga sudah bersiap-siap menuju ke Masjid.


Niar menunggu dengan deg-degan, namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang membuat hati Niar semakin kacau.


Di saat Niar sedang mondar-mandir nggak jelas bi Imah datang mendekat. "Mbak ini ada telepon."


"Siapa bi?"


"Dari Ibunya tuan Yusuf."


"Ada apa ya bi? Apa ada masalah di perjalanan?"


"Langsung di jawab saja mbak pasti penting."

__ADS_1


Niar menerima handphonenya lalu menggeser icon hijau. "Hallo Bu, ada apa?"


"Yusuf, Niar, mobil yang di tumpangi Yusuf kecelakaan." jawab Ibu dari seberang telepon sambil menangis.


Niar belum bisa menjawab apa-apa lidahnya kelu, Niar lemas hampir pingsan dengan sigap Andi langsung menangkapnya. "Kak Niar kenapa?"


Niar menangis. "Mas Yusuf Ndi."


"Kak Yusuf kenapa kak? Sini biar Andi yang ngomong." Andi mengambil alih handphone dari tangan Niar. "Hallo Bu, apa yang terjadi Bu?"


"Mobil yang di tumpangi Yusuf kecelakaan dan sekarang kita menuju rumah sakit." sahut Ibu dari seberang telepon.


"Ok. Ok. Kami segera menyusul ke rumah sakit."


Andi mengakhirinya percakapan dengan ibu Yusuf.


Andi mengusap punggung Niar. "Kak Niar yang kuat, ayo sekarang kita menyusul ke rumah sakit."


Niar menatap bi Imah. "Bi, ayo ikut jagain Erlang."


Bi Imah mengangguk. "Baik mbak."


Mereka berempat menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit mereka langsung mencari ruang IGD dan bertemu Ibu Yusuf yang sedang menunggu di luar ruangan.


"Bu bagaimana kondisi mas Yusuf?" tanya Niar.


Ibu menggeleng. "Belum tau, Dokternya dari tadi belum keluar."

__ADS_1


Bersambung...


Hay para pembaca setia ku๐Ÿ˜๐Ÿ˜ duh gimana kondisi Yusuf ya?? ikuti terus kelanjutannya๐Ÿค—๐Ÿค— jangan lupa like dan share ya.. tanks ๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2