
Niar menghapus air mata di pipi Erlang"Erlang sayang sudah jangan nangis terus, Papa kerja kan untuk kita, nanti mama beliin es krim mau?"
Erlang mengangguk dan mulai tenang.
*
Sebulan telah berlalu, seperti janji sebelumnya, Yusuf pulang beberapa hari dirumah terus berangkat lagi dan begitu seterusnya.
Andi masih tinggal dirumah Yusuf sampai Yusuf kembali, membantu menjaga Niar dan Erlang.
Usia kandungan Niar sudah sembilan bulan, waktu melahirkan tinggal menghitung hari
namun Yusuf belum pulang, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Hingga tibalah saatnya Niar melahirkan.
Begitu dia merasa sedikit mules dia langsung telfon suaminya. Niar ingin saat melahirkan di temani oleh suaminya, Niar sudah memperkirakan jarak antara kontraksi, pembukaan sampai melahirkan butuh waktu cukup lama. mungkin waktunya bisa pas dengan perjalanan Yusuf ke Indonesia.
"Hallo mas."
"Iya sayang." jawab Yusuf dari seberang telepon.
"Aku sudah mulai kontraksi, kamu pulang sekarang ya!"
"Iya sayang, aku pulang sekarang juga."
Yusuf memutus panggilannya lalu memesan tiket pesawat saat itu juga.
__ADS_1
Tak lupa Yusuf menelepon Andi terlebih dahulu.
"Hallo Andi."
"Hallo kak ada apa?" tanya Andi dari seberang telepon.
"Kamu masih di kantor?"
"Masih kak."
"Tolong kamu pulang sekarang kak Niar sudah mulai kontraksi, tolong jaga dia sampai kak Yusuf sampai Jakarta."
"Andi pulang sekarang juga kak, Andi janji akan jagain kak Niar."
Andi langsung pulang secepat kilat sampai rumah Andi langsung ke kamar Niar. "Kak Niar, tadi kak Yusuf telepon Andi katanya kak Niar sudah kontraksi, mau Andi anter ke rumah sakit sekarang?"
Andi mengernyit. "Kenapa harus menunda-nunda kak?"
Niar terkekeh. "Bukan menunda-nunda tapi ini mulesnya masih dikit-dikit, kak Niar juga mau menunggu mas Yusuf dulu."
"Aduh kak perjalanan dari Rusia ke Indonesia itu lama loh, jadi nggak usah nunggu kak Yusuf, nanti kalau keburu melahirkan di rumah gimana?"
Niar kembali terkekeh melihat kepanikan Andi. "Kak Niar masih kuat kok."
Senja mulai gelap, hingga matahari hampir menunjukkan sinarnya Niar masih bertahan menunggu namun Yusuf belum sampai juga, semakin lama perutnya semakin sering kontraksi, akhirnya Niar memutuskan berangkat duluan ke rumah sakit di antar Andi.
"Ndi, kak Niar sudah tidak tahan Ndi ayo kita ke rumah sakit sekarang."
__ADS_1
"Ayo kak." jawab Andi cepat lalu bersiap-siap.
Mereka kerumah sakit duluan di antar Andi dan di temani Ibu, Erlang di rumah bersama bi Imah.
Sebelum masuk ruang persalinan Niar menarik lengan Andi. "Ndi tolong hubungi mas Yusuf mungkin handphonenya sudah bisa di hubungi, suruh dia langsung ke rumah sakit saja."
"Iya kak, Andi cepat coba telepon sekarang."
Niar masuk ruang persalinan, dan Andi langsung menelepon Yusuf.
"Hallo kak Yusuf, syukurlah kak Yusuf sudah bisa di hubungi berarti kak Yusuf sudah sampai di Indonesia kan?"
"Baru saja tiba di Bandara Ndi, ini mau menuju rumah." jawab Yusuf.
"Sekarang kak Yusuf langsung menuju rumah sakit saja, kak Niar sudah masuk ruang persalinan."
"Iya Ndi terima kasih."
Beberapa menit kemudian Yusuf sampai di rumah sakit karena jarak Bandara dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Yusuf segera mencari ruang persalinan, di depan ruangan itu sudah ada Ibu dan Andi, Yusuf langsung menghampiri mereka. "Niar gimana Bu? anak Yusuf sudah lahir belum?"
Ibu memeluk Yusuf sesaat. "Niar di dalam, sepertinya anak kamu belum lahir karena belum ada suara tangisan bayi, sebaiknya kamu segera masuk."
"Yusuf masuk dulu Bu do'a kan semoga semua berjalan lancar, anak dan istri Yusuf selamat."
Bersambung...
Jangan lupa like dan share+tekan love sebagai favorit kalian terimakasih šš
__ADS_1