
*
*
Niar baru mengeluarkan handphone hendak menelfon bengkel, namun dia urungkan karena ada mobil berhenti tepat di depannya.
Sang pengendara mobil keluar lalu berjalan hingga sampai di dekat Niar. "Ada yang bisa saya bantu mbak?"
"Pak Daniel?"
"Sudah berulang kali saya bilang, jangan panggil saya Pak!"
Niar tersenyum kikuk. "Oh iya lupa, Daniel aku boleh minta tolong? Banku kempes."
"Siapp, silahkan tunggu sebentar." Daniel segera mengeluarkan peralatan lalu mulai mengganti ban Niar yang kempes dengan ban cadangan.
"Anda dari mana atau mau kemana Pak?" tanya Niar sembari duduk di pinggir jalan.
Daniel menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Niar. "Pak lagi?!"
"Maaf lupa terus, Daniel."
Daniel kembali melanjutkan kegiatannya. "Ini dari rumah temen mau pulang, anda sendiri dari mana?"
"Tadi nganter temen pulang ke rumahnya." jawab Niar, lalu Niar teringat sesuatu. "Eh, anda Papanya Mesya kan itu brarti anda ini suaminya Eva dong?"
"Anda kenal Eva?" tanya Daniel tanpa menoleh ke arah Niar, tatapannya fokus dengan kegiatannya.
"Dia temen sekolah masa SMA dulu." jawab Niar.
"Oh, berarti tadi Eva ke rumah anda ya?"
"Betul, sebentar ya aku beli minuman dulu."
Daniel hanya mengacungkan ibu jarinya.
__ADS_1
Niar beli minuman di warung pinggir jalan
lalu memberikan minuman itu pada Daniel. "Capek? Minum dulu, maaf ya merepotkan."
"Enggak apa-apa cuma ganti ban aja."
Beberapa menit kemudian Daniel selesai mengganti ban mobil Niar lalu membereskan peralatannya kembali. "Sudah beres."
Niar segera beranjak dari tempatnya. "Makasih ya, kalau gitu aku langsung pulang."
"Cuma makasih doang?"
Dahi Niar berkerut. "Terus apa?"
"Traktir makan mungkin."
"Maaf aku tidak bisa."
"Kalau gitu temenin aku disini
"Lima menit."
"Oke, lima menit."
Niar kembali duduk di tempat semula namun
Daniel tidak mengeluarkan sepatah kata pun dia hanya diam dan menunduk, seperti ada yang mengganjal di hatinya, namun Niar tidak berani bertanya, mungkin itu masalah pribadinya.
"Oke, sudah lima menit aku pulang."
"Silahkan."
Niar memasuki mobil dan melajukannya
meninggalkan Daniel yang masih duduk di pinggir jalan.
__ADS_1
Di perjalanan hampir sampai rumah Niar bertemu Yusuf yang sedang menaiki sepedanya, Niar pun berhenti.
Yusuf pun ikut berhenti. "Sayang, kamu dari mana?"
Niar turun dari mobil lalu berjalan mendekati Yusuf. "Tadi nganter Eva pulang, sepedanya di masukin bagasi aja mas kita pulang naik mobil."
"Kebalik sayang, kita pulangnya naik sepeda aja biar seru."
"Terus mobilnya?"
"Nanti mobilnya biar di ambil pak supir."
Yusuf mengambil sebuah boneka dari dalam mobil untuk duduk istrinya. "Sini sayang kamu boncengnya di depanku ya."
Niar nurut aja dia bonceng di depan Yusuf dan pulang menaiki sepeda berboncengan.
"Ternyata naik sepeda asik ya mas?"
Yusuf tersenyum sembari terus mengayuh sepedanya. "Baru tau ya? Makanya kalau suaminya gowes ikutan dong! Mau?"
Niar mengangguk. "Mau mas asik kayaknya kalau weekend gowes sama anak-anak."
"Oke, kapan-kapan kita beli sepedanya."
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah.
Niar turun dari sepeda lalu berdiri di dekat Yusuf. "Aku ambilin minum dulu ya mas?"
Yusuf menahan lengan Niar. "Nggak usah sayang ini yang di sepeda masih ada, kita duduk dulu istirahat sebentar sebelum mandi."
Niar dan Yusuf duduk di teras, Yusuf menempelkan kepalanya di pundak Niar dan sesekali mencium pipi Niar dari samping. "I love you."
Niar mengusap pipi Yusuf. "I love you too."
Bersambung...
__ADS_1